Menabung Air untuk Hari-hari Kering

HUJAN tak selalu harus segera mengalir pergi. Di Baros, warga menyimpannya di bawah lapangan untuk menghadapi kemarau.

Menabung Air untuk Hari-hari Kering
CADANGAN AIR: Sejumlah anak-anak bermain di lapangan yang juga menjadi tempat cadangan air warga Baros melalui teknik

Anak-anak berlarian di sebuah lapangan di kawasan Baros, Kota Cimahi. Suara riang mereka sesekali bersahutan dengan aktivitas warga dan bunyi kereta yang melintas tak jauh dari permukiman.

Sekilas, lapangan itu tak berbeda dengan ruang bermain lainnya. Namun, di bawah tanahnya tersimpan cadangan air yang disiapkan warga untuk menghadapi musim kemarau.

Air hujan yang turun dari rumah dan jalan tidak dibiarkan mengalir begitu saja. Warga mengarahkannya melalui saluran menuju sejumlah titik resapan di bawah lapangan.

Dari permukaan, semuanya tampak biasa. Tetapi jauh di bawahnya, air hujan perlahan ditahan tanah untuk menjadi tabungan ketika hujan berhenti.

Ketua RW setempat, Aries Wahyudi, masih mengingat masa ketika kemarau dua pekan saja sudah cukup membuat kawasan tersebut mulai kekurangan air.

"Bisa dibilang sekarang bahasa modern itu water harvesting. Sampai akhirnya bisa diterapkan," kata Aries, seperti dikutip dari ANTARA, Minggu (9/8).

Gagasan itu mulai dirintis sebelum 2019 dan kemudian diperkuat melalui Program PPM Kota Cimahi. Warga membangun sistem sederhana dengan mengarahkan air permukaan menuju lubang resapan berdiameter sekitar 60 sentimeter dengan kedalaman empat hingga lima meter. Lubang tersebut dibuat hingga menemukan lapisan tanah yang mampu menyerap air.

"Yang dicari bukan sumber airnya, tetapi lapisan tanah yang tepat. Kalau lapisan atasnya belum mendukung, pengeboran dilanjutkan sampai menemukan lapisan yang mampu menyerap air," kata Aries.

Air kemudian meresap ke dalam tanah dan disimpan sebagai cadangan. Saat kemarau tiba, warga dapat memanfaatkannya melalui tandon berkapasitas sekitar 1.000 liter. Air mengalir dengan sistem gravitasi sehingga tidak membutuhkan pompa.

"Sebelumnya, dua minggu tanpa hujan saja kawasan ini sudah mulai kering. Tanpa disadari, sistem ini sudah berjalan sejak 2019 dan sampai sekarang kami tidak pernah mengalami kekeringan," ujarnya.

Lapangan untuk Bermain

Lapangan itu sebenarnya dibangun untuk menjawab lebih dari satu persoalan. Lokasinya yang dekat dengan rel kereta api sebelumnya membuat anak-anak kerap bermain di sekitar jalur rel karena minim ruang bermain yang aman. Warga kemudian menata lahan tersebut menjadi ruang terbuka.

Anak-anak perlahan diarahkan bermain di lapangan, bukan di sekitar rel. Aturan sederhana pun dikenalkan: tidak berkata kasar, tidak bertengkar, dan tidak membuang sampah sembarangan.

Dari sana, aktivitas warga ikut tumbuh. Anak-anak mengikuti kegiatan mengaji, sementara orang tua terlibat dalam majelis taklim dan kegiatan lingkungan.

Lapangan itu akhirnya menjadi tempat bermain, ruang berkegiatan, sekaligus bagian dari sistem penyimpanan air. Pembangunannya dilakukan bertahap. Warga bergerak secara swadaya, kemudian mendapat dukungan CSR perusahaan, bantuan pribadi, hingga program pemerintah.

Bagi Aries, lahan terbatas di tengah permukiman ternyata bisa menjawab beberapa kebutuhan sekaligus.

"Kalau konsep ini diterapkan di setiap RT, misalnya setiap gang memiliki dua lubang resapan, hasilnya akan sangat membantu," katanya.

Upaya warga Baros menyimpan air hujan menjadi semakin penting ketika cadangan air tanah di Bandung Raya terus menghadapi tekanan.

Pemerintah Kota Cimahi kini menghentikan penambahan sumur artesis baru. Berdasarkan kajian Pusat Air Tanah dan Geologi Tata Lingkungan (PATGL) Badan Geologi, muka air tanah di kawasan Bandung Raya telah turun sekitar 60 hingga 100 meter akibat eksploitasi selama bertahun-tahun.

Pemkot Cimahi memilih memperkuat upaya pemulihan melalui sumur resapan, biopori, serta sumur imbuhan atau sumur injeksi.

"Pemulihan kita laksanakan dengan sumur resapan, biopori, sumur imbuhan. Kita rawat artesis yang ada, karena memang kita enggak banyak membuat artesis juga. Masyarakat sekarang juga sudah semakin sadar," kata Kepala Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman Kota Cimahi Amy Pringgo Mardani.

Ancaman kekeringan pun masih membayangi sejumlah wilayah, terutama Kelurahan Utama, Melong, dan Leuwigajah di Kecamatan Cimahi Selatan. Karena itu, air tidak cukup dicari ketika kemarau datang. Ia harus disiapkan sejak hujan masih turun.

Di Baros, warga telah memulainya dengan cara sederhana: membiarkan tanah menyimpan air, sementara sebuah lapangan menjadi ruang bermain di atasnya. Di permukaan, anak-anak bermain. Di bawahnya, air menunggu musim kemarau. (gin) 


Editor : Inilahkoran