Menag Lantik Lima Pejabat Ditjen Pesantren, Minta Fokus pada Masa Depan Santri
Menag Nasaruddin Umar melantik lima pejabat Ditjen Pesantren dan meminta mereka menyusun roadmap pengembangan pesantren untuk masa depan santri.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID - Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar melantik lima pejabat eselon II Direktorat Jenderal Pesantren Kementerian Agama di Jakarta.
Pelantikan tersebut menjadi bagian dari upaya melengkapi sekaligus memperkuat struktur organisasi Direktorat Jenderal Pesantren sebagai satuan kerja baru setingkat eselon I di Kementerian Agama.
Menag Nasaruddin Umar meminta para pejabat yang baru dilantik segera bekerja menyusun arah pengembangan pesantren secara lebih jelas dan terukur.
“Betul-betul perhatikan masa depan para Santri kita di 42 ribu pondok pesantren di seluruh Indonesia,” ujar Nasaruddin di Jakarta, Selasa.
Direktorat Jenderal Pesantren dibentuk berdasarkan Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 18 Tahun 2026 tentang Perubahan atas Perpres Nomor 152 Tahun 2024 tentang Kementerian Agama. Struktur baru tersebut kemudian diperkuat melalui Peraturan Menteri Agama (PMA) Nomor 16 Tahun 2026 tentang perubahan atas PMA Nomor 33 Tahun 2024 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Agama.
Menurut Nasaruddin, keberadaan Ditjen Pesantren tidak cukup hanya ditandai dengan terbentuknya struktur kelembagaan. Hal yang lebih penting adalah merumuskan identitas, arah pengembangan, serta roadmap pesantren ke depan.
Pekerjaan tersebut dinilai penting karena menyangkut masa depan puluhan ribu pesantren dan santri yang tersebar di berbagai daerah di Indonesia.
Karena itu, setiap kebijakan Ditjen Pesantren harus mempertimbangkan kebutuhan lembaga pesantren, santri, hingga kontribusi para lulusannya bagi masyarakat dan bangsa.
Susun Roadmap Pesantren
Nasaruddin menjelaskan, pengembangan pesantren perlu diawali dengan pemahaman yang jelas mengenai karakter dan kekhasan pesantren.
Ditjen Pesantren, kata dia, perlu merumuskan pesantren dari aspek ontologi, epistemologi, metodologi hingga aksiologi. Dengan begitu, pengembangan pesantren memiliki arah yang jelas tanpa kehilangan identitas dan kekhasannya.
Menag juga meminta perencanaan pendidikan pesantren tidak berhenti pada aspek input dan output. Menurutnya, yang lebih penting adalah memastikan outcome dan impact yang dihasilkan bagi santri, pesantren, masyarakat dan bangsa.
“Kita harus tahu input-nya seperti apa, output-nya seperti apa, outcome-nya seperti apa, dan impact-nya seperti apa,” ujar Nasaruddin.
Hal tersebut, lanjut dia, perlu menjadi bagian dari roadmap pesantren yang tengah disusun.
Roadmap tersebut diharapkan mampu menjawab siapa sasaran pendidikan pesantren, kompetensi dan karakter yang ingin dihasilkan, serta ke mana lulusan pesantren akan berkontribusi setelah menyelesaikan pendidikan.
Nasaruddin juga meminta distingsi pesantren dirumuskan secara jelas sehingga memiliki identitas dan karakter yang membedakannya dari Pendidikan Islam pada umumnya.
Perumusan tersebut mencakup ontologi, epistemologi, metodologi dan aksiologi pesantren, termasuk pemetaan pemangku kepentingan yang akan terlibat serta memanfaatkan lulusan pesantren.
Lima Pejabat Dilantik
Nasaruddin mengibaratkan Ditjen Pesantren seperti membangun rumah baru yang masih membutuhkan berbagai perangkat agar dapat berfungsi secara optimal.
Meski menjadi lembaga baru dengan sumber daya yang masih terbatas, ia berharap Ditjen Pesantren mampu menghadirkan karakter dan daya tarik tersendiri.
“Biasanya rumah baru itu lebih cantik daripada rumah lama, dan itu kami berharap seperti itu. Walaupun pendatang baru, walaupun anggarannya mungkin juga sangat terbatas, tetapi akan menampilkan sosok yang mempunyai daya tarik tersendiri,” kata dia.
Adapun lima pejabat yang dilantik yakni Arsad Hidayat sebagai Sekretaris Direktorat Jenderal Pesantren Kementerian Agama.
Kemudian Mastuki sebagai Direktur Bina Pendidikan Muadalah dan Diniyah Formal Direktorat Jenderal Pesantren Kementerian Agama.
Selanjutnya Adib sebagai Direktur Ma’had Aly Direktorat Jenderal Pesantren Kementerian Agama.
Berikutnya Mahrus sebagai Direktur Bina Dakwah Pesantren dan Pendidikan Non Formal Direktorat Jenderal Pesantren Kementerian Agama.
Sementara Yusi Damayanti dilantik sebagai Direktur Pemberdayaan Pesantren Kementerian Agama.
Pembentukan Ditjen Pesantren menjadi bagian dari penataan kelembagaan Kementerian Agama untuk memberikan ruang khusus bagi penguatan pesantren, tidak hanya dalam bidang pendidikan, tetapi juga dakwah dan pemberdayaan masyarakat.***
Editor : JakaPermana

