Menjemput Asa dari Bangku Kosong Sekolah

PENDIDIKAN belum sepenuhnya menjangkau semua anak. Pemkot Bogor mengintensifkan upaya menekan angka putus sekolah.

Menjemput Asa dari Bangku Kosong Sekolah
GIAT PENDIDIKAN: Disdik Kota Bogor mengumpulkan para pegiat pendidikan di Kota Bogor mulai dari pengawas, penilik, Sanggar Kegiatan Belajar (SKB), mitra PAUD hingga Pendidikan Masyarakat (Dikmas) termasuk PKBM.

Oleh: Rizki Mauludi

Masih ada ribuan anak yang belum kembali ke ruang kelas di Kota Bogor. Bukan karena tak ingin belajar, tetapi karena berbagai persoalan yang membuat mereka harus meninggalkan sekolah lebih awal.

Data Pemerintah Kota Bogor mencatat masih terdapat sekitar 9.900 Anak Tidak Sekolah (ATS). Angka itu menjadi pekerjaan rumah yang terus dikejar agar semakin banyak anak kembali memperoleh haknya atas pendidikan.

Untuk itu, Pemkot Bogor melalui Dinas Pendidikan mengumpulkan para pengawas, penilik, Sanggar Kegiatan Belajar (SKB), organisasi mitra PAUD, Pendidikan Masyarakat (Dikmas), hingga Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM). Mereka diajak memperkuat kolaborasi agar penanganan ATS tidak berhenti pada pendataan semata.

Wakil Wali Kota Bogor Jenal Mutaqin mengatakan, persoalan anak putus sekolah harus diselesaikan dengan cara mendatangi mereka secara langsung. Pendekatan dari pintu ke pintu dinilai lebih efektif untuk mengetahui persoalan yang dihadapi setiap keluarga.

“Selama semua stakeholder saling berkoordinasi, kami harus jemput bola. Kasi Kemas dari kecamatan dan kelurahan juga harus giat lagi door to door kepada warga yang putus sekolah,” ujarnya, Kamis (6/8).

Menurut Jenal, penyebab anak putus sekolah sangat beragam, mulai dari keterbatasan ekonomi, jauhnya akses ke sekolah, hingga kebutuhan perlengkapan belajar. Namun, dia menegaskan pemerintah telah menyiapkan berbagai solusi agar alasan tersebut tidak lagi menjadi penghalang.

PKBM, misalnya, memberikan layanan pendidikan tanpa biaya dengan lokasi yang lebih dekat dari tempat tinggal warga. Pemerintah juga menyediakan bantuan perlengkapan sekolah bagi mereka yang membutuhkan.

“PKBM itu gratis, dan lokasinya juga dekat. Alat-alat sekolah juga kita berikan. Saya rasa tidak ada lagi alasan untuk tidak bersekolah,” kata Jenal.

Kepala Dinas Pendidikan Kota Bogor Herry Karnadi menambahkan, penyamaan persepsi seluruh penggiat pendidikan menjadi langkah penting dalam mempercepat penurunan angka ATS. Program seperti Gebyar PKBM yang digelar sebelumnya dinilai mulai menunjukkan hasil positif.


Editor : Inilahkoran