Menunggu Kabar di Ujung Dermaga

TIM SAR masih melanjutkan pencarian korban kecelakaan kapal.Bagi keluarga, setiap kabar menjadi harapan di tengah penantian yang panjang.

Menunggu Kabar di Ujung Dermaga
KORBAN KMP: Puji Dwi Astuti menunjukkan foto adiknya yang menjadi korban kecelakaan KMP Virgo Transport 8, di Pelabuhan Trisakti, Banjarmasin, Kalimantan Selatan (16/9). Puji masih menunggu kabar adiknya di dermaga.

Puji Dwi Astuti berbaring di dekat stopkontak listrik Terminal Penumpang Pelabuhan Trisakti, Banjarmasin, Rabu (16/9) sekitar pukul 15.00 WITA.

Ponsel tak pernah jauh dari tangannya. Sesekali layar ponsel diperiksa. Tak ada kabar yang ditunggu.

Perempuan sekitar 60 tahun itu kembali memejamkan mata.

Namun, percakapan di sekitar terminal membuatnya terjaga.

Suara tentang kapal yang terdengar dari kejauhan segera mengundang perhatiannya.

“Ada kapal datang lagi, ya?” tanyanya, seperti dikutip dari ANTARA, Rabu (16/9).

Puji menunggu sebuah nama. Bambang Setio Budi, adiknya yang berusia 58 tahun, belum ditemukan setelah KMP Virgo Transport 8 mengalami kecelakaan di Laut Jawa.

Tiga hari telah berlalu sejak kecelakaan itu, tetapi kabar tentang Bambang belum juga sampai ke ponselnya.

Puji datang dari Samarinda, Kalimantan Timur, bersama suami dan anaknya pada Minggu (13/9) malam. Begitu mendengar kabar kecelakaan kapal, mereka bergegas menuju Banjarmasin.

Sejak tiba, terminal penumpang menjadi tempat Puji menunggu.

Hari-harinya berjalan dengan pola yang hampir sama. Duduk atau berbaring, memperhatikan orang-orang yang datang, lalu kembali menatap layar ponsel.

Setiap suara kapal membuat kepala menoleh. Setiap pesan yang masuk diperiksa dengan harapan yang sama.Namun, nama Bambang belum juga muncul. Bambang adalah seorang sopir. Empat teman yang pergi bersamanya telah ditemukan. Hanya Bambang yang masih dalam pencarian.

Puji menyimpan foto adiknya di dalam ponsel. Foto itu telah diedit sederhana dan diberi tulisan: “Semoga adikku cepat ditemukan dengan selamat.” Dia memperlihatkan foto tersebut. “Cepat ketemu, selamat,” kata Puji sambil terisak.

Air matanya jatuh. Tangan perempuan itu menyeka wajah, tetapi tangis tak kunjung reda. Sesaat kemudian wajahnya ditutupi kedua tangan.

“Secepatnya selamat, mintanya cepat ketemu,” ujarnya lagi dengan suara tertahan.

Setelah itu, ponsel kembali berada di tangannya. Tak banyak yang bisa dilakukan Puji. Dia tidak berada di atas kapal pencari. Tidak ikut menyisir lautan. Dia hanya bisa menunggu informasi dari tim SAR gabungan. Maka terminal menjadi tempatnya menggantungkan harapan.

Terminal yang biasanya menjadi ruang keberangkatan dan kedatangan kini dipenuhi keluarga korban. Ada yang bertanya tentang perkembangan pencarian. Ada yang terus menggenggam ponsel. Ada pula yang memilih diam.

Suara kapal yang datang atau berangkat membuat sebagian keluarga spontan menoleh.

Barangkali ada kabar.

Barangkali ada nama yang ditemukan. Barangkali seseorang yang mereka tunggu akan kembali.

KMP Virgo Transport 8 mengangkut 243 orang ketika berlayar dari Surabaya, Jawa Timur, menuju Banjarmasin pada 12 September.

Kapal dilaporkan mengalami cuaca buruk dan hilang kontak sebelum ditemukan dalam kondisi terbalik di perairan Masalembo, Laut Jawa, pada 13 September sekitar pukul 01.00 WIB.

Hingga 15 September pukul 22.00 WITA, Basarnas mengonfirmasi 114 korban telah ditemukan. Sebanyak 108 orang selamat dan enam orang meninggal dunia. Sementara 129 orang lainnya masih belum ditemukan dari total 243 orang dalam manifes kapal.

Pencarian terus berlangsung.

Kepala Basarnas Marsekal Madya TNI Mohammad Syafii mengatakan tim SAR gabungan mengerahkan unsur laut dan udara untuk menyisir wilayah perairan.

Operasi melibatkan Basarnas, TNI, Polri, BNPB dan unsur lain yang mendukung pencarian.

Pada hari keempat operasi, sebanyak 23 armada laut dan udara dikerahkan bersama 1.097 personel gabungan.

Helikopter, pesawat, kapal SAR, kapal perang, kapal Polri, hingga armada pendukung lainnya bergerak menyisir wilayah kecelakaan. Laut masih menyimpan nama-nama yang belum ditemukan.

Sementara di darat, keluarga menunggu.

Sore semakin berjalan.

Puji kembali mengambil ponselnya.

Layar diperiksa. Pemberitahuan dibuka. Bukan kabar tentang Bambang. Ketika kembali terdengar suara orang membicarakan kapal, perhatian Puji tertuju ke arah sumber suara. Dia menunggu beberapa saat.

Tak ada kapal baru yang datang. Puji kembali ke tempatnya.

Dia berbaring. Matanya terpejam sebentar. Beberapa saat kemudian, ponsel kembali diperiksa. Begitulah penantian berjalan.

Bagi Puji, waktu seperti berhenti di antara satu notifikasi dan notifikasi berikutnya.

Harapan tumbuh dari setiap suara, setiap kedatangan, dan setiap kabar dari laut. “Bisa cepat-cepat ditemukan, itu aja,” katanya. (gin)


Editor : Inilahkoran