Mimpi Tumbuh di Tengah Bangunan Rapuh

RUANG belajar di Kabupaten Bandung Barat (KBB) menyimpan bahaya. Ribuan kerusakan belum tertangani.

Mimpi Tumbuh di Tengah Bangunan Rapuh
ATAP AMBRUK: Ambruknya atap bangunan perpustakaan SDN‚ÄØCitembong, Desa‚ÄØMargaluyu, Jumat (30/10) menuai keprihatinan sejumlah pihak. Kerusakan diduga dipicu struktur bangunan lama.(INILAH/AGUS SATIA NEGARA)

Atap perpustakaan SDN Citembong di Desa Margaluyu, Kecamatan Cipeundeuy, Kabupaten Bandung Barat (KBB) tak lagi mampu bertahan. Bangunan yang sudah lama mengalami kerusakan itu akhirnya ambruk pada Jumat (30/10), diduga akibat struktur bangunan yang melemah dan diperparah cuaca buruk.

Beruntung, tidak ada laporan korban jiwa dalam kejadian tersebut. Namun, peristiwa ini menyisakan kekhawatiran tentang keselamatan peserta didik di Kabupaten Bandung Barat. Sebab, bangunan perpustakaan yang roboh itu bukan satu-satunya fasilitas pendidikan yang membutuhkan perhatian.

Di berbagai jenjang pendidikan, mulai dari pendidikan anak usia dini (PAUD), sekolah dasar (SD), hingga sekolah menengah pertama (SMP), ribuan ruang kelas tercatat mengalami kerusakan. Sebagian bahkan masuk kategori rusak berat dan membutuhkan penanganan segera.

Data inventarisasi Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Bandung Barat menunjukkan, dari 1.853 ruang kelas PAUD, hanya 779 unit yang masih dalam kondisi baik. Sebanyak 452 ruang mengalami kerusakan ringan, 386 rusak sedang, dan 141 lainnya masuk kategori rusak berat.

Jumlah kerusakan lebih besar terlihat pada jenjang SD. Dari total 5.041 ruang kelas, hanya 1.393 yang tercatat dalam kondisi baik. Sementara itu, 1.455 ruang mengalami kerusakan ringan, 1.481 rusak sedang, dan 712 lainnya rusak berat.

Persoalan serupa juga ditemukan di tingkat SMP. Dari 2.024 ruang kelas yang tercatat, hanya 670 unit dalam kondisi baik. Sebanyak 319 ruang rusak ringan, 755 rusak sedang, 77 rusak berat, bahkan tiga ruang kelas sudah mengalami kerusakan total.

Angka tersebut belum sepenuhnya menggambarkan kondisi fasilitas pendidikan di lapangan. Sebab, pencatatan yang tersedia baru mencakup ruang kelas dan belum memasukkan seluruh bangunan penunjang, seperti perpustakaan, kantor guru, toilet, hingga koridor sekolah. Bangunan perpustakaan SDN Citembong yang ambruk menjadi salah satu gambaran fasilitas yang luput dari pencatatan awal tersebut.

Kepala Disdik KBB Imam Santoso mengakui, kerusakan bangunan sekolah tersebar di sejumlah wilayah. Hasil peninjauan ke berbagai sekolah menunjukkan banyak fasilitas pendidikan yang membutuhkan rehabilitasi, mulai dari kategori sedang hingga berat.

Pihaknya telah menyusun skala prioritas untuk menangani bangunan yang paling berisiko terhadap keselamatan siswa. Namun, keterbatasan anggaran daerah membuat perbaikan tidak bisa dilakukan sekaligus.

"Artinya, ruang-ruang kelas yang sudah rusak sedang bisa menunggu berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun sebelum mendapatkan perbaikan, sehingga risiko kerusakan bertambah parah dan menimbulkan bahaya serupa seperti yang terjadi di SDN Citembong tetap terbuka," kata Imam, Rabu (4/11). 

Kondisi tersebut menjadi persoalan tersendiri. Kerusakan yang semula masih berada pada kategori sedang berpotensi berkembang menjadi lebih parah apabila tidak segera ditangani. Dalam situasi seperti itu, keselamatan siswa dan tenaga pendidik ikut dipertaruhkan selama kegiatan belajar mengajar berlangsung. (agus satia negara/gin)


Editor : Inilahkoran