Miris, 18 Tahun Berdiri Tapi Pencipta Lagu Karatagan dan Hymne Bandung Barat H Ase Rukmantara Tak Pernah Terima Royalti dari Pemerintah
Karatagan Bandung Barat dan Hymne Bandung Barat merupakan dua lagu yang sudah tak asing didengar masyarakat Kabupaten Bandung Barat itu sendiri.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN, Ngamprah - Karatagan Bandung Barat dan Hymne Bandung Barat merupakan dua lagu yang sudah tak asing didengar masyarakat Kabupaten Bandung Barat itu sendiri.
Betapa tidak, kedua lagu tersebut sudah mendarah daging lantaran kerap dinyanyikan dalam berbagai kesempatan, terutama saat peringatan Hari Jadi KBB.
Sayangnya, ketenaran lagu Karatagan Bandung Barat dan Hymne Bandung Barat itu tak semulus dengan nasib penciptanya, yakni H Ase Rukmantara (72).
Selama 18 tahun Bandung Barat berdiri, H Ase Rukmantara tak pernah mendapat kejelasan baik terhadap karyanya seperti royalti, Hak Kekayaan Intelektual (HAKI) untuk perlindungan hukum atas karya-karyanya maupun nasib kehidupannya.
Padahal, di era Bupati Bogor Eddie Yoso Martadipura (1988-1998) karya-karya H Ase Rukmantara dan (alm) Tedja Sukmana, seperti Mars Kabupaten Bogor yang berjudul, Tegar Beriman (1993) langsung dipatenkan dan mendapatkan atensi dari Pemkab Bogor hingga saat ini.
"Alhamdulillah lagu Tegar Beriman yang jadi Mars Kabupaten Bogor yang saya ciptakan bersama pak Tedja Sukmana langsung dipatenkan hak ciptanya oleh Pemkab Bogor pada tahun 1994," kata H. Ase Rukmantara saat ditemui di rumahnya di Kampung Pabuaran RT03/13, Desa Mandalawangi, Kecamatan Cipatat, Kabupaten Bandung Barat, Rabu 30 Juli 2025.
Bahkan, sambung H Ase, Pemkab Bogor yang saat itu dipimpin Bupati Agus Utara Efendi (1998-2008), dirinya dan (alm) Tedja Sukmana masing-masing diganjar uang sebesar Rp350 juta sebagai bentuk penghargaan kepada kedua seniman itu.
"10 tahun kemudian, waktu Bupati Bogor pak Agus, saya dan pak Tedja dikasih uang Rp350 juta sebagai bentuk apresiasi atas karya kami," ungkapnya.
"Hanya saja pak Tedja gak sepenuhnya bisa memanfaatkan apresiasi itu karena beliau meninggal dunia," sambungnya.
Tak cuma itu, lanjut H Ase, setiap peringatan Hari Jadi Kabupaten Bogor dirinya dan Tedja masih mendapatkan atensi dari Pemkab Bogor.
"Kalau setiap hari jadi Kabupaten Bogor juga alhamdulillah masih sering ngasih Rp10 juta. Tapi selang dua tahun ini belum ada lagi," ucapnya.
Sementara di Bandung Barat, terang H Ase, dirinya pun tak pernah mendapat apresiasi maupun atensi dari Pemda. Termasuk, HAKI atau bantuan untuk dirinya sebagai pencipta lagu Karatagan Bandung Barat dan Hymne Bandung Barat yang saat ini kerap dinyanyikan dalam setiap momen.
"Pernah dulu ada yang ngasih Rp2 juta waktu Hari Jadi KBB ke-2, tapi bukan dari Pemkab Bandung Barat," ujarnya.
H Ase mengaku sakit hati lantaran karya-karyanya yang kerap dilombakan namun tanpa meminta izin ataupun pemberitahuan baik pemerintah atau pihak-pihak tertentu.
"Sakit hatinya dilombakan tapi gak dikasih tahu kalau lagu atau karya-karya saya dipakai buat lomba," ujarnya.
H Ase menegaskan, dirinya bukan orang yang tamak dan rakus. Namun, dirinya hanya meminta keadilan dari Pemkab Bandung Barat.
"Saya bukan orang tamak dan rakus, tapi tolong munculkan keadilan sesuai lirik lagu. Kami ingin melihat kepedulian Pemkab Bandung Barat sesuai harapan dari makna lagu itu," tegasnya.
Di tengah kondisi sakit yang dirasakan, H Ase masih memiliki semangat untuk terus berkarya dan bermimpi bisa menghidupkan kembali Sanggar Pasewakan Seni Bandung Purwa yang sudah lama tak aktif.
"Tahun 2014 saya sakit dan paru-paru sudah dibor. Sebagian peralatan sanggar ada yang mencuri dan sisanya dijualuntuk biaya pengobatan dari nilai Rp90 juta hanya terjual Rp15 juta," ungkapnya.
"Tapi, saya ingin kembali menghidupkan sanggar yang udah lama tutup agar seni dan budaya di Bandung Barat bisa terus diwariskan dan terus lestari," sambungnya.
H Ase menuturkan, Sanggar Pasewakan Seni Bandung Purwa dibangun oleh Gubernur Jawa Barat di masa kepemimpinan Ahmad Heryawan.
"Sanggar ini dibangun zaman pak Aher. Dulu ada 60 murid dan fokusnya di seni tari," ucapnya.
Tak cuma itu, H Ase juga tengah berkontribusi untuk membangun fasilitas rumah ibadah, yakni sebuah masjid di kampungnya dan berharap bisa segera menyelesaikan masjid tersebut.
"Gak jauh dari rumah saya juga lagi bantu bangun masjid. Lagi mau pasang kanopi karena kalau hujan itu masuk. Butuh biayanya sekitar Rp25 juta," imbuhnya.
"Dulu sempat ngajuin proposal, tapi ujung-ujungnya dapat bantuan dari orang terdekat meski gak seberapa tapi alhamdulillah," tandasnya.
Editor : Doni Ramdhani


