INILAHKORAN, Bandung - Perwakilan UNICEF Jawa Barat Paul Sukarno Manoelmpil menyebut, Pekan Imunisasi Dunia 2022 menjadi momen bagi masyarakat di Indonesia untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya imunisasi dasar lengkap.
Hal itu, dikatakan Paul Sukarno Manoelmpil karena Indonesia selama ini memang dikenal sebagai negara yang menjalankan imunisasi dasar lengkap. Namun kenyataannya, Indonesia saat ini terlempar dari 10 besar negara dunia karena tidak mencapai angka 95 persen.
"Kita sangat berharap, momen pekan imunisasi dunia tahun ini bisa menjadikan Indonesia kembali masuk ke-10 besar dunia. Karena kita tahu, pengaruh pandemi untuk cakupan imunisasi global menurun. Rata-rata di 10 -15 persen," kata Paul Sukarno Manoelmpil di Balai Kota Bandung, Jumat 22 April 2022.
Namun demikian, hal yang dikhawatirkan Paul Sukarno Manoelmpil akan kejadian luar biasa (KLB) di wilayah Jawa Barat, khususnya Kota Bandung tidak terjadi. Meski begitu, sejumlah provinsi di Indonesia telah mengalami kejadian luar biasa.
"Untuk Jawa Barat terutama Kota Bandung, tidak terjadi KLB. Ini yang kita syukuri, alhamdulillah. Tetapi ada beberapa provinsi lain yang mengalami KLB, seperti di Kalimantan Barat, Riau, dan Papua. Untuk jenisnya ada campak, difteri dan pertusis. Jadi kita berharap, momen ini menjadikan Indonesia kembali masuk 10 besar," ucapnya.
Hal senada dikemukakan Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bandung Ahyani Raksanagara. Momen pekan imunisasi dunia 2022, diharapkan dapat kembali meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya imunisasi dasar lengkap.
"Kita sepakat bahwa sekarang menjadi momen yang tepat. Karen dua tahun ini, kita mendapat tantangan mencapai atau mengakses anak-anak untuk imunisasi. Jadi kita ingin membangkitkan, menumbuhkan masyarakat yang memiliki anak-anak untuk melengkapi imunisasi dasarnya," kata Ahyani Raksanagara.
Ahyani Raksanagara membenarkan adanya penurunan pencapaian imunisasi dasar di Kota Bandung dalam kurun dua tahun terkahir ini. Dalam kondisi normal, Dinkes Kota Bandung, biasanya dapat mencapai angka 90 persen lebih untuk imunisasi dasar lengkap.
"Ada sejumlah faktor yang menyebabkan imunisasi dasar lengkap ini menurun. Pertama memang karena tenaga kesehatan yang difokuskan untuk Covid-19. Kedua adanya pembatasan-pembatasan pelayanan posyandu, dan adanya kekhawatiran orang tua untuk membawa anaknya keluar," ucapnya.
Diketahui, pekan imunisasi dunia adalah kegiatan rutin yang dilaksanakan pada minggu keempat April di setiap tahunnya. Di Indonesia ada lima jenis imunisasi yang wajib diberikan kepada anak sesuai jadwal untuk memberikan efek perlindungan maksimal. *** (Yogo Triastopo)