Pemkot Bandung Waspadai Penggunaan Vape di Kalangan Pelajar

Vape dinilai mulai menjadi ancaman baru di kalangan remaja Kota Bandung seiring meningkatnya akses terhadap produk nikotin tersebut.

Pemkot Bandung Waspadai Penggunaan Vape di Kalangan Pelajar
ilustrasi

INILAHKORAN.ID - Vape dinilai mulai menjadi ancaman baru di kalangan remaja Kota Bandung seiring meningkatnya akses terhadap produk Nikotin tersebut, meski rokok tembakau masih menjadi yang paling dominan. 

Pemkot Bandung pun, memperingatkan perlunya peran bersama orang tua, sekolah dan pemerintah untuk mencegah semakin luasnya penggunaan rokok dan Vape di usia dini.

Sekda Kota Bandung, Iskandar Zulkarnain mengatakan, momentum Hari Tanpa Tembakau Sedunia pada 31 Mei menjadi pengingat penting bagi semua pihak memperkuat gerakan anti-Nikotin terutama di lingkungan pelajar.

“Ini kegiatan yang sangat dibutuhkan oleh kita semua, terutama di kalangan anak-anak kita. Terutama SMA, bahkan sebetulnya SMP juga terpengaruh terkait dengan rokok ini,” kata Iskandar Zulkarnian, Kamis (21/5/2026).

Dia menekankan kemudahan akses terhadap rokok konvensional maupun Vape membuat upaya pencegahan harus dimulai dari lingkungan terdekat, termasuk keluarga dan sekolah.

“Kita harus menunjukkan baik dari kita sebagai orang tua, atau kita sebagai pemerintah harus mendukung kegiatan-kegiatan anti Nikotin ini atau rokok,” ucapnya.

Menurutnya, saat ini sekitar 16 persen remaja di Kota Bandung sudah mulai merokok baik rokok tembakau maupun Vape. Namun dia menyebut, rokok tembakau masih lebih banyak digunakan dibandingkan Vape.

“Sekitar 16 persen anak-anak remaja sudah mulai rokok. Untuk rokok tembakau atau Vape, yang tembakau masih lebih banyak,” ujar dia.

Iskandar juga menyoroti pentingnya keteladanan orang dewasa dalam mencegah anak-anak mencoba rokok sejak dini. Perilaku orang tua dan guru, sangat berpengaruh terhadap kebiasaan anak.

“Siapa lagi yang harus menjadi contoh kalau bukan kita sendiri,” jelasnya.

Sementara itu, Kepala Dinkes Kota Bandung, Soni Adam mengatakan, dampak paling nyata dari kebiasaan merokok di kalangan anak muda adalah terganggunya penggunaan uang jajan yang seharusnya bisa dialokasikan kebutuhan yang lebih bermanfaat.

“Uang yang digunakannya itu banyak digunakan untuk rokok, jadi bukan untuk hal yang produktif seperti olahraga, makan bergizi atau beli buku,” kata Soni Adam.

Dia juga menegaskan, kebiasaan merokok berdampak pada prestasi anak di sekolah karena sifat adiktif Nikotin yang membuat mereka sulit berhenti. Kasus perokok usia dini, ditemukan pada anak-anak di tingkat SD hingga SMP di berbagai wilayah Kota Bandung.

“Kalau sudah mulai terkena zat adiktif, itu akan terus berlanjut. Jangan mulai,” ucapnya.

Untuk penanganan kecanduan, pemerintah telah menyediakan layanan khusus di fasilitas kesehatan tingkat pertama. “Di semua puskesmas sudah ada klinik berhenti merokok. Datang saja ke puskesmas untuk konsultasi,” ujar dia.

Pihaknya berharap, kampanye Hari Tanpa Tembakau Sedunia tahun ini dapat memperkuat kesadaran masyarakat apabila Vape maupun rokok sama-sama membawa risiko bagi generasi muda.***


Editor : JakaPermana