Pemprov Jabar Imbau Warga Tidak Panic Buying Meski Harga Bahan Pokok Melonjak

Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Provinsi Jawa Barat menegaskan, ketersediaan bahan pokok penting (Bapokting) aman jelang dan selama Ramadan.

Pemprov Jabar Imbau  Warga Tidak Panic Buying Meski Harga Bahan Pokok Melonjak
Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Provinsi Jawa Barat menegaskan, ketersediaan bahan pokok penting (Bapokting) aman jelang dan selama Ramadan./Dok INILAHKORAN

INILAHKORAN.ID - Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Provinsi Jawa Barat menegaskan, ketersediaan bahan pokok penting (Bapokting) aman jelang dan selama Ramadan, meski terjadi lonjakan harga.

Maka dari itu, Kepala Disperindag Jabar Nining Yuliastiani meminta kepada masyarakat, agar tidak Panic Buying dalam kondisi tersebut.

"Meminta masyarakat tidak Panic Buying, karena dari sisi ketersediaan pangan aman. Adanya kecenderungan peningkatan harga, pemerintah berupaya untuk melakukan langkah-langkah pengendalian harga," kata Nining dalam keterangannya pada INILAHKORAN.ID, Rabu 18 Februari 2026.

Dia menjelaskan, memang ketika menjelang Ramadan dan Idul Fitri terjadi peningkatan permintaan terhadap bapokting. Seiring adanya komoditas yang bergantung pada cuaca, menyebabkan hasik produksi turun dan berdampak pada kenaikan harga. Contohnya pada komoditas cabai, seperti cabai merah keriting serta cabai merah besar dan bawang merah, yang mengalami kenaikan harga. 

Selain itu, juga ada kenaikan terhadap komoditas daging sapi, karena peningkatan permintaan. Komoditas yang stabil antaranya beras medium, beras premium, MinyaKita, kedelai impor, bawang putih dan tepung terigu.

Komoditas yang meningkat melebihi Harga Eceran Tertinggi (HET) maupun Harga Acuan Penjualan (HAP) antaranya gula pasir, bawang merah dari HAP di kisaran Rp36.500-41.500 kini harganya menjadi Rp42.994, daging ayam ras, telur ayam ras.

Lonjakan signifikan terjadi di cabai rawit merah, dari HAP Rp40-57 ribu kini harganya tembus Rp91.882.

"Cabai rawit merah mengalami kenaikan hingga 60 persen di atas HAP," ungkapnya.

Ketersediaan 12 bapokting dalam tiga bulan hingga Maret 2026 lanjut dia, dalam kondisi aman. Beberapa komoditas yang didatangkan dari luar seperti cabai dan bawang merah, karena dipasok dari Jawa Tengah dan Jawa Timur akan disiasati dengan pengaturan pasokan dan distribusi, mengingat terjadi keterlambatan panen dan produksi.

"Untuk pemenuhannya perlu dilakukan kerja sama yang intens antara produsen di Jawa Barat dan info up to date untuk mengetahui lokasi dan volume panen," terangnya.

Demikian pula kebutuhan daging, untuk pemenuhan kebutuhan karena didatangkan dari luar, akan dijaga distribusi dan kesesuaian HAP. Termasuk daging ayam dan telur, yang produksinya relatif stagnan maka harus diantisipasi suplainya karena permintaan pada Ramadan dan Lebaran akan meningkat.

"Upaya yang dilakukan pemerintah daerah yaitu pemetaan dan stabilisasi pasokan, identifikasi informasi kapasitas dan kemampuan sentra produksi dan kebutuhan konsumen," ujarnya.

Lalu melakukan pengawasan perkembangan harga dan pasokan bapokting, fasilitasi percepatan penyaluran beberapa komoditas seperti beras SPHP, MinyaKita, produk peternakan dan hortikultura secara langsung dengan produsen atau distributor.

"Kemudian melakukan intervensi pasar secara terukur seperti memberikan fasilitasi distribusi pangan berupa bantuan dari pemerintah untuk biaya angkut dan pengemasan Rp2 ribu per kilogram, gerakan pangan murah (GPM) dan Operasi Pasar Bersubsidi (Opadi) oleh Pemprov Jabar jelang Idul Fitri," tandasnya.***


Editor : JakaPermana