Penataan Angkot di Kota Bogor, Pengamat Rekomendasikan Hal Ini
Pengamat tata kota Universitas Trisakti Yayat Supriatna angkat suara soal penataan angkot di Kota Bogor.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID - Pengamat tata kota Universitas Trisakti Yayat Supriatna angkat suara soal penataan angkot di Kota Bogor.
Menurutnya, penataan angkot di Kota Bogor sebenarnya masalah lama. Persoalan utamanya terletak pada ketidakseimbangan antara supply dan demand yang tidak lagi sesuai dengan dinamika perkembangan kota serta mobilitas masyarakat.
"Fokus utama untuk penataan angkot di Kota Bogor adalah mereduksi jumlah angkot yang sudah tua dan tidak layak jalan. Kebijakan ini mengacu pada Perda yang menetapkan batas usia operasional kendaraan selama 20 tahun," kata Yayat kepada INILAHKORAN.ID, Rabu 28 Januari 2026.
Yayat berpendapat, ada beberapa kendala yang dihadapi dalam proses penataan tersebut. Antara lain resistensi sosial berupa terjadi penolakan dari pihak terkait karena adanya ketidakpastian lapangan kerja bagi para sopir dan pemilik angkot.
"Dukungan pembiayaan masalah anggaran menjadi kendala terbesar bagi Pemkot Bogor. Kedua operasional BisKita, dari enam koridor BisKita yang direncanakan, baru empat yang berjalan karena keterbatasan biaya, sementara koridor tiga dan empat belum terwujud hingga saat ini," terangnya.
Ketiga yakni ketiadaan pengganti. Kini pemerintah belum memiliki moda transportasi pengganti yang memadai jika angkot-angkot tua tersebut langsung dihilangkan. Keempat strategi dan rencana induk transportasi, Pemkot Bogor perlu memiliki rencana induk transportasi yang konsisten untuk menentukan visi masa depan angkutan umum.
"Strategi yang diusulkan meliputi BisKita sebagai tulang punggung, menjadikan BisKita sebagai koridor angkutan utama di Kota Bogor. Kemudian angkot sebagai feeder, mengalihfungsikan angkot menjadi angkutan pengumpan (feeder) menuju koridor utama BisKita," jelasnya.
Yayat menegaskan, ada juga rekomendasi untuk pengembangan trem. Trem dipertimbangkan sebagai alternatif masa depan dengan catatan sistemnya terintegrasi dengan moda lain agar tidak terjadi tumpang tindih pelayanan.
"Yang terpenting adalah penciptaan lapangan kerja, menyediakan konsep baru penataan atau ruang pekerjaan alternatif bagi mereka yang terdampak oleh reduksi angkot. Tanpa dukungan pembiayaan dan subsidi yang kuat, penataan angkot di Kota Bogor akan sulit mencapai target yang optimal," pungkasnya.
Editor : Doni Ramdhani

