Perajin Batik Cirebon Sambut Positif Wacana Sekolah Maestro oleh Dedi Mulyadi

Wacana Sekolah Maestro yang digagas Dedi Mulyadi disambut baik oleh para perajin batik di Kabupaten Cirebon

Perajin Batik Cirebon Sambut Positif Wacana Sekolah Maestro oleh Dedi Mulyadi
Dua perajin batik di Kabupaten Cirebon sedang menyelesaikan proses membatik secara manual. Di tengah tantangan pasar yang belum sepenuhnya pulih, mereka berharap rencana Program Sekolah Maestro dari Pemprov Jabar dapat membantu mereka. Foto Maman Suharman

INILAHKORAN.ID – Rencana Pemerintah Provinsi Jawa Barat membuka program Sekolah Maestro bagi para perajin mendapat sambutan positif dari pelaku usaha batik di Kabupaten Cirebon

Program Sekolah Maestro tersebut dinilai dapat menjadi upaya menjaga regenerasi sekaligus meningkatkan kualitas sumber daya manusia di sektor kerajinan batik.

Pengusaha batik asal Batembat, Kecamatan Tengah Tani, Kabupaten Cirebon, Rudiana mengatakan, jumlah pengrajin batik di Kabupaten Cirebon diperkirakan mencapai ratusan orang. Namun, kondisi pasar saat ini masih belum sepenuhnya pulih, sehingga sebagian pelaku usaha merasakan penurunan permintaan.

"Kalau sekarang memang mengikuti kondisi pasar. Lagi sepi, terutama untuk pasar internasional. Tapi untuk saya pribadi Alhamdulillah masih lancar," ujar Rudiana, Senin 29 Juni 2026.

Dia menyebut, usahanya saat ini mempekerjakan sekitar 25 orang. Menurutnya, setiap perajin memiliki pasar yang berbeda-beda, bergantung pada jenis motif yang diproduksi dan jaringan pelanggan yang dimiliki.

"Tidak semua perajin membuat batik Cirebon. Ada yang khusus batik Cirebon, ada juga yang membuat batik daerah lain sesuai pesanan dan langganan," katanya.

Rudiana berharap program Sekolah Maestro tidak hanya menjadi wadah pelestarian teknik membatik, tetapi juga mampu meningkatkan daya saing pengrajin sehingga pasar batik kembali bergairah.

Menurutnya, program Sekolah Maestro yang sedang disiapkan Pemerintah Provinsi Jawa Barat diharapkan dapat menjadi sarana  pengetahuan dari para maestro kepada perajin batik cirebo. Sekaligus memperkuat keberlanjutan industri batik sebagai salah satu warisan budaya daerah.

"Kalau memang program Sekolah Maestro ini bisa menjadi tempat belajar langsung dari para maestro dan benar-benar membantu perajin batik, tentu kami sangat mendukung. Harapannya ilmu membatik bisa diwariskan kepada generasi berikutnya. Sehingga industri batik Cirebon tetap lestari dan terus berkembang," ujar Rudiana.

Senada, perajin batik bernama Epa mengatakan, kondisi usaha batik hingga kini belum sepenuhnya pulih sejak pandemi Covid-19. Meski demikian, aktivitas produksi tetap berjalan dengan melayani berbagai pesanan.

"Sehabis corona belum lancar benar. Alhamdulillah masih jalan, tapi belum seperti sebelum Corona," ujarnya.

Epa yang mempekerjakan enam karyawan mengatakan produksi batiknya meliputi batik tulis dan kombinasi cap. Produk yang dihasilkan dipasarkan ke sejumlah showroom di Jakarta, bahkan sebagian pesanan berasal dari pembeli luar negeri melalui jaringan pemasaran tersebut.

"Karyawan saya ada enam orang. Produksi kami batik tulis dan kombinasi cap. Pemasarannya ke showroom di Jakarta, dan dari sana ada juga pesanan yang datang dari Malaysia maupun pembeli luar negeri lainnya," ujar Epa.

Terkait rencana Sekolah Maestro, Epa menyatakan mendukung apabila program tersebut benar-benar berpihak kepada pelaku usaha kecil.

"Kalau memang untuk membantu rakyat kecil, saya mendukung," pungkasnya. 


Editor : Ahmad Sayuti