Perbanusa Apresiasi Produksi Sampah Warga Cimahi Masih di Bawah Rata-rata 

sejumlah pihak mengapresiasi lantaran volume produksi sampah warga Cimahi masih di bawah rata-rata nasional.

Perbanusa Apresiasi Produksi Sampah Warga Cimahi Masih di Bawah Rata-rata 
sejumlah pihak mengapresiasi lantaran volume produksi sampah warga Cimahi masih di bawah rata-rata nasional.

INILAHKORAN, Cimahi - Status darurat sampah yang sempat diterapkan Pemerintah Kota (Pemkot) Cimahi sebagai imbas dibatasinya kuota ritase TPA Sarimukti di Kecamatan Cipatat, Kabupaten Bandung Barat (KBB) sempat membuat kota dengan tiga kecamatan itu kewalahan.

Kendati demikian, d ibalik kondisi tersebut sejumlah pihak mengapresiasi lantaran volume produksi sampah warga Cimahi masih di bawah rata-rata nasional.

"Terlepas dari masalah yang ada, kita harus apresiasi Kota Cimahi, bahwa rata-rata volume sampah harian yang dihasilkan per jiwa di Cimahi cukup rendah daripada rata-rata angka nasional," kata Ketua Perkumpulan Pengelola sampah dan Bank sampah Nusantara (Perbanusa) Kota Cimahi, Wahyu Dharmawan baru-baru ini.

Menurutnya, dengan produksi sampah sekitar 226 ton per hari dan jumlah penduduk sekitar 580 ribu jiwa, rata-rata sampah harian per kapita di Cimahi mencapai 0,38 kilogram. 

"Angka ini lebih rendah dibandingkan rata-rata nasional yang berada di 0,6 kilogram," ujarnya. 

Bahkan, sambung Wahyu, dalam Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Pengelolaan sampah 2024, Menteri Lingkungan Hidup menyebut angka nasional tersebut telah naik hingga 0,8 atau 0,9 kilogram per kapita per hari.

"Namun kondisi darurat sampah merupakan keniscayaan yang bisa terulang kapan saja, khususnya jika suatu daerah tidak memiliki TPA sendiri," ujarnya.

Menurutnya, ketergantungan kepada wilayah lain dalam pendistribusian sampah domestik khususnya sampah residu menjadi titik rawan yang tidak bisa diabaikan.

"Darurat sampah boleh jadi tidak akan terulang jika sudah terjadi kondisi ideal hukum Pareto, di mana kelompok yang mampu dan mahir dalam pengelolaan sampah jumlahnya sudah mencapai 80 persen dari populasi," tuturnya.

Dalam kondisi tersebut, sebut Wahyu, 20 persen sisanya akan terdorong untuk mengikuti kelompok mayoritas yang sudah sadar, mampu, dan terampil dalam menangani sampah

Wahyu menjelaskan, proses ini sebagai tahap kedewasaan dalam pengelolaan sampah yang perlu ditopang dengan peningkatan kapasitas masyarakat melalui proses Mau, Tahu, Mampu, Mahir (MATAMAMA).

"Situasi Kota Cimahi saat ini masih lebih banyak orang yang tidak mau tahu, tidak tahu, dan tidak mau melakukan pengolahan sampah," ujarnya. 

"Tugas semua sumber daya manusia di Cimahi adalah menggeser mereka menjadi kelompok terbesar yang mampu dan mahir," tegasnya.*** 


Editor : Bsafaat