Perkuat Ketahanan Pangan, IPB University Pacu Padi Gogo yang Hasilkan 3,5-5 Ton GKP per Hektare
Fakultas Pertanian IPB University mengembangkan penerapan padi gogo sebagai strategi utama dalam memperkuat sistem pangan nasional.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID - Fakultas Pertanian IPB University mengembangkan penerapan padi gogo sebagai strategi utama dalam memperkuat sistem pangan nasional.
Dekan Fakultas Pertanian IPB University Suryo Wiyono mengatakan, padi gogo memiliki peran strategis di tengah iklim yang semakin kering.
Sepanjang 2025, sistem padi gogo dikembangkan Fakultas Pertanian IPB University di berbagai wilayah Indonesia antara lain Pati, Gunungkidul, Bogor, Murung Raya, dan Berau.
Pengembangan padi gogo dilakukan melalui penerapan teknologi terpadu yang mencakup penggunaan varietas unggul IPB 9G, pemanfaatan mikroba untuk toleransi tanaman terhadap kekeringan serta hama dan penyakit, pengaturan kegiatan budi daya dengan automatic weather station (AWS) serta optimasi pemupukan.
Dari hasil penerapan lapangan, produktivitas padi gogo tercatat bervariasi pada kisaran 3,5 hingga 5 ton gabah kering panen (GKP) per hektare.
“Sistem padi gogo merupakan strategi utama untuk meningkatkan ketahanan pangan. Teknologinya tersedia, lahan ada, dan ke depannya Indonesia akan lebih kering. Sampai saat ini, padi gogo diperkirakan baru menyumbang sekitar 5 persen dari total produksi padi nasional, sehingga perlu ditingkatkan hingga 15 persen,” kata Suryo, Rabu 14 Januari 2026.
Menurutnya, Fakultas Pertanian IPB University akan terus memimpin pengembangan padi gogo melalui berbagai program diseminasi teknologi dan kajian sosial ekonomi.
Dampak penerapan teknologi itu pun dirasakan petani. Sudargo (45), petani padi gogo di Desa Ronggo, Kecamatan Jaken, Kabupaten Pati, menyampaikan pendampingan teknologi telah membawa perubahan nyata.
“Kami sudah mulai menanam padi IPB 9G dan menggunakan teknologi mikroba tahan kering sejak tahun 2020 dengan pendampingan dari IPB. Sekarang, dengan penanganan yang tepat, budi daya padi gogo bisa mengimbangi dan bahkan melebihi jagung, sehingga saudara dan tetangga banyak ikut menanam padi gogo di sekitar kawasan hutan jati,” ujarnya.
Sementara itu, Guru Besar Agronomi IPB University Suwarto yang menekuni penelitian padi gogo menuturkan padi gogo merupakan potensi besar karena lahan kering yang tersedia dan sesuai di Indonesia cukup besar hingga jutaan hektare, sementara konversi sawah sangat masif.
Ke depan, pengembangan padi gogo diharapkan semakin memperluas pemanfaatan lahan kering di Indonesia serta menjadi solusi berkelanjutan dalam menjaga ketersediaan pangan nasional.
Editor : Doni Ramdhani
