Polda Jabar Gelar Trauma Healing bagi Anak Korban Longsor Cisarua
Polda Jabar gelar trauma healing bagi 80 anak korban longsor di Bandung Barat. Anak-anak mulai tersenyum kembali setelah pendampingan psikologis dan permainan edukatif.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID – Tim Trauma Healing Polda Jabar mendampingi sekitar 80 anak korban longsor di Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat (KBB), untuk memulihkan kondisi psikologis mereka pasca-bencana.
Kegiatan digelar di halaman masjid di belakang kantor desa, tempat anak-anak mulai menunjukkan senyum setelah mengalami trauma akibat longsor yang menimpa permukiman mereka.
Kegiatan ini diikuti personel Biro Sumber Daya Manusia (SDM) Polda Jabar dan Polres Cimahi. Tim hadir bukan dengan seragam penuh ketegasan, tetapi membawa permainan, cerita, dan empati untuk membantu anak-anak mengekspresikan perasaan mereka.
Kabid Humas Polda Jabar, Kombes Pol Hendra Rochmawan menyatakan, anak-anak merupakan kelompok yang paling rentan terhadap trauma bencana.
“Mereka bukan hanya kehilangan rasa aman, tetapi juga ketenangan batin. Trauma yang tidak ditangani sejak dini dapat berdampak jangka panjang,” ujarnya.
Trauma healing dilakukan melalui konseling kelompok, permainan edukatif, dan kegiatan relaksasi sederhana.
Anak-anak diberikan ruang untuk mengekspresikan perasaan, baik dengan bercerita, menggambar, maupun sekadar ditemani oleh tim pendamping.
Beberapa anak tampak mulai berani menceritakan pengalaman mereka saat longsor terjadi, sementara yang lain memilih diam namun tetap merasa aman karena kehadiran tim.
Para orang tua menyambut positif kegiatan ini. Mereka menilai program ini memberikan perhatian psikologis yang selama ini sulit dijangkau di tengah kondisi darurat.
Hendra Rochmawan menambahkan, kehadiran Polda Jabar dalam program ini menunjukkan peran Polri tidak hanya sebagai pengawal keamanan, tetapi juga sahabat kemanusiaan.
“Lebih dari sekadar program pendampingan, ini adalah bentuk nyata kehadiran Polri di tengah masyarakat. Kami ingin anak-anak ini kembali merasa aman, tenang, dan mampu menghadapi trauma yang mereka alami,” ujarnya.
Kegiatan trauma healing ini berlangsung secara berkelanjutan, dengan jadwal yang menyesuaikan kondisi anak-anak. Tim berupaya menciptakan suasana positif yang dapat menumbuhkan kembali rasa aman dan optimisme. ***
Editor : Gin gin T Ginulur

