Produksi Padi Jabar Berpotensi Meningkat Lewat Pompanisasi, Ini Sebabnya Kata DTPH Jabar
Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura (DTPH) Provinsi Jawa Barat Dadan Hidayat yakin produksi padi Jabar berpotensi meningkat lewat pompanisasi. Sebab, petani diberi peluang untuk mengambil air tidak hanya di permukaan tapi juga dari dalam tanah.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN, Bandung - Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura (DTPH) Provinsi Jawa Barat Dadan Hidayat yakin produksi padi Jabar berpotensi meningkat lewat pompanisasi. Sebab, petani diberi peluang untuk mengambil air tidak hanya di permukaan tapi juga dari dalam tanah.
Dadan mengatakan, bila selama ini petani menggantungkan sumber air tadah hujan dengan masa tanam dilakukan hanya dua kali. Kini, dengan pompanisasi masa tanam itu akan meningkatkan produksi padi Jabar bertambah karena petani diberi keleluasaan mengambil air dari sungai atau danau untuk mengairi lahannya.
Bahkan bila kondisi lahan jauh dari sumber air, kata Dadan, dengan pompanisasi itu petani berkesempatan untuk memompa air bawah tanah untuk mengairi lahan mereka. Hal itu akan meningkatkan produksi padi Jabar.
Harapannya, dengan masa tanam semakin banyak, maka produksi padi Jabar juga kian bertambah.
"Kalau tidak ada air permukaan, ada air tanah jadi kita bisa mengekploitasi air tanah untuk menambah aliran," ujar Dadan di Kota Bandung, Rabu 7 Agustus 2024.
Selain itu, benih yang cepat produktif dan tahan terhadap gangguan juga dioptimalkan. Walaupun memang belum ditemukan benih yang tahan terhadap iklim ekstrem.
Maka dari itu Pemprov Jabar terang Dadan, berupaya meningkatkan kemampuan petani dalam membaca fenomena iklim ketika akan melakukan penanaman benih.
"Banyak dialokasikan ke Pantura, karena lumbung pangan Jawa Barat yang mencapai 56 persen," ucapnya.
Saat ini ada sekitar 2.400 penyuluh yang tersebar di Jabar, dalam meningkatkan pengetahuan petani.
"Kami mengupayakan bagaimana mereka mendampingi petani di lapangan, bagaimana menghadapi banjir, penyakit," imbuhnya.
Sementara mengenai target 11 juta ton gabah kering giling yang dibebankan oleh Kementerian Pertanian, Dadan menilai hal tersebut berpotensi terealisasi. Namun butuh kerja keras, karena Jabar dihadapkan dengan musim kemarau dan sempat terjadi mundur tanam selama dua bulan beberapa waktu lalu.
"Sehingga ada target tanam yang memang tidak bisa kami laksanakan. Tapi Alhamdulillah dengan adanya bantuan pompanisasi, target tanam bisa kita cukupkan. Untuk 11 juta ton harus kerja keras. Tapi kalau 9-10 juta ton mudah-mudahan tercapai," tutupnya.
Editor : Doni Ramdhani

