PT CHINT Indonesia Hibahkan Peralatan Dynamic Voltage Restorer ke ITB
Fenomena kedip listrik sering hadir dalam sistem kelistrikan dalam jangkauan waktu tiga sampai 30 sirkuit listrik dan akan memicu permasalahan di industri. Fenomena tersebut bagian persoalan power quality di dalam sistem tenaga listrik.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN, Bandung - Fenomena kedip listrik sering hadir dalam sistem kelistrikan dalam jangkauan waktu tiga sampai 30 sirkuit listrik dan akan memicu permasalahan di industri. Fenomena tersebut bagian persoalan power quality di dalam sistem tenaga listrik.
Beberapa mitigasi untuk mengatasi persoalan ini telah banyak dilakukan. Di antaranya menggunakan D-Statcom, DRUPS, UPS (Uninterruptible Power Supply), dan teknologi terkini bernama DVR (Dynamic Voltage Restorer).
PT CHINT Indonesia dan Laboratorium Sistem Tenaga Listrik STEI ITB pun menjalin kerjasama kemitraan melalui pemberian seperangkat peralatan DVR yang akan diuji dan ditempatkan di Laboratorium Sistem Tenaga Listrik STEI ITB.
Kesepahaman antara PT CHINT Indonesia dan STEI ITB tersebut, dinyatakan dalam bentuk MoA (Memorandum of Agreement) antara Dekan Sekolah Teknik Elektro dan Informatika ITB Tutun Juhana dengan Direktur PT CHINT Indonesia Ace Chang.
"Peralatan DVR yang dihibahkan ke Laboratorium Sistem Tenaga Listrik STEI ITB ini, telah melalui beberapa uji simulasi sehingga kolaborasi antara PT CHINT Indonesia dan Laboratorium Sistem Tenaga Listrik STEI ITB telah terwujud dengan baik," kata Tutun Juhana di kampus ITB, Selasa 20 Agustus 2024..
Ketua Laboratorium Sistem Tenaga Listrik STEI ITB Nanang Hariyanto mengatakan, betapa pentingnya ketahanan terhadap kedip tegangan pada sistem tenaga listrik dalam industri.
Industri manufaktur, kesehatan, pangan, otomotif, dan sektor lainnya dituturkan ia sangat bergantung pada pasokan listrik yang stabil dan andal. Pasokan listrik yang tidak terganggu pada aspek power quality menjadi kunci untuk menjaga kelancaran operasional manufaktur atau produksi selama 24 jam sehari.
"Fenomena kedip ini memang tidak bisa dihindari sepenuhnya, tetapi bisa dimitigasi dengan menggunakan perangkat DVR. Alat ini bekerja dengan menginjeksikan tegangan ke dalam sistem untuk mengkompensasi setiap gangguan yang mempengaruhi tegangan beban, sehingga kedip tidak mengganggu proses produksi atau merusak peralatan," kata Nanang Hariyanto.
Menurutnya, DVR memiliki fungsi yang mirip dengan UPS. Namun DVR unggul dalam mendeteksi dan menstabilkan kedip tegangan dalam waktu 0,002 detik tanpa perlu menggunakan baterai secara terus menerus.
Bagi mahasiswa, terutama yang belajar di bidang teknik elektro dan energi. Peralatan DVR tersebut, menawarkan kesempatan untuk memahami dan mengaplikasikan konsep kelistrikan dalam situasi nyata.
Kehadiran DVR di laboratorium universitas pun, mempermudah mahasiswa dalam mempelajari bagaimana perangkat ini bekerja untuk mengatasi gangguan tegangan. Seperti fenomena kedip yang dapat menyebabkan kerusakan pada peralatan listrik.
"Pemahaman ini akan memperkaya pengetahuan dan wawasan teknis mahasiswa. Jadi, mereka akan lebih mudah beradaptasi dan berkontribusi dalam berbagai proyek yang melibatkan manajemen kualitas daya listrik," ucapnya.
Sedangkan, Direktur PT CHINT Indonesia Ace Chang mengatakan pihaknya berkesempatan melakukan riset bersama untuk mengaplikasikan teknologi di Indonesia. Pihaknya berharap, mahasiswa Teknik Tenaga Listrik STEI ITB dapat melakukan penelitian dengan perangkat DVR sehingga dapat memitigasi persoalan listrik di Indonesia.
"Kolaborasi ini terjadi berkat kerja keras Pak Yanto Permana (Business Development Manager PT CHINT Indonesia) dan tim STEI ITB. Kami berkesempatan untuk melakukan riset bersama guna mengaplikasikan teknologi ini di Indonesia," kata Ace Chang.
Sementara itu, Direktur R&D CHINT Global Asia Pacific Daniel Pang menambahkan, perangkat DVR merupakan solusi yang lebih hijau dan ramah lingkungan karena mengurangi penggunaan baterai sehingga tidak harus memikirkan pengolahan limbah baterai.
"DVR dapat digunakan dalam jangka waktu yang lebih panjang, yakni sebanyak 100 ribu cycle atau kurang lebih 15 tahun dibandingkan baterai yang pada umumnya harus diganti dalam kurun 3-5 tahun pemakaian," kata Daniel Pang.
Editor : Doni Ramdhani


