Puluhan Siswa dan Guru di Cimahi Keracunan MBG, Menu Onigiri Diduga Penyebabnya

SMPN 6 Cimahi yang mempertanyakan keamanan menu MBG yang disalurkan saat bulan Ramadan.  

Puluhan Siswa dan Guru di Cimahi Keracunan MBG, Menu Onigiri Diduga Penyebabnya
istimewa

INILAHKORAN.ID – Dugaan kasus Keracunan massal yang menimpa 43 orang, terdiri dari siswa jenjang PAUD hingga SMP, serta guru dan staf sekolah, yang terkait dengan konsumsi Makan Bergizi Gratis (MBG) berupa Onigiri yang dibagikan pada Rabu 25 Februari 2026 lalu terus menuai kekhawatiran.

Salah satunya pihak SMPN 6 Cimahi yang turut mempertanyakan keamanan menu MBG yang disalurkan saat bulan Ramadan.
 
Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan SMPN 6 Cimahi, Alip Winarta mengaku, sebelum distribusi, pihak sekolah telah melakukan langkah verifikasi terkait keamanan makanan yang mengandung konsumsi basah di bulan puasa. 

Menurutnya, Penanggung Jawab Khusus (PIC) yang ditunjuk sekolah telah mengonfirmasi hal tersebut kepada pihak Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
 
"Kami mendapatkan informasi dari SPPG bahwa berdasarkan komunikasi dengan ahli gizi, makanan tersebut aman untuk dikonsumsi," kata Alip, Jumat 27 Februari 2026.
 
Di hari biasa, jelas Alip, sekolah melakukan uji coba atau sampling sebelum menyebarkan MBG. Namun, kondisi khusus Ramadan membuat pengecekan hanya dilakukan secara visual. 

"Kita melihat kondisi makanan terlihat baik, sehingga kemudian dibagikan," jelasnya.
 
Meski begitu, ungkap Alip, pihak SPPG juga telah menyarankan agar makanan disimpan di kulkas. Namun, dengan sistem pembelajaran dua shift, pembagian dilakukan dua kali sehari. 

"Beberapa siswa yang tidak berpuasa bahkan mengonsumsinya lebih awal di rumah," ungkapnya.
 
Alip menuturkan, keluhan pertama muncul menjelang waktu berbuka puasa. Awalnya pihak sekolah menduga keluhan terkait dengan kondisi setelah berpuasa, namun laporan terus bertambah bahkan dari sekolah lain di sekitarnya.
 
"Kami segera membuat daftar seluruh yang mengeluhkan dan menemukan jumlah korban yang cukup banyak," tuturnya.
 
Kemudian, sekolah langsung menyarankan orang tua untuk membawa anak-anak terdampak ke fasilitas kesehatan terdekat. Penanganan dilakukan secara beragam, mulai dari perawatan mandiri, klinik, puskesmas, hingga rumah sakit. 

"Salah satu guru bahkan harus dirawat selama dua hari di RS Cibabat bersama sebagian siswa," ucapnya.
 
Alip menyebutkan, pada beberapa paket ditemukan lauk telur dengan kondisi lembek, yang mengindikasikan pematangan belum sempurna. 

"Meskipun tidak langsung dicurigai berbahaya saat itu, pihak sekolah segera mengambil langkah preventif sekitar pukul 15.00 WIB dengan melarang konsumsi MBG dan menyebarkan informasi kepada orang tua serta siswa," ujarnya.
 
Hingga saat ini, sebagian korban telah diperbolehkan pulang, sementara yang lain masih menjalani perawatan di berbagai fasilitas kesehatan di wilayah Cimahi.***


Editor : JakaPermana