Rekam Jejak Satryo Brodjonegoro, Mendiktisaintek yang Didemo ASN Dikti
Lantas, siapa sebenarnya Satryo Brodjonegoro dan bagaimana rekam jejaknya? simak profilnya berikut ini.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN - Nama Satryo sebagai Mendiktisaintek mencuat lagi ketika ratusan aparatur sipil negara menggelar aksi damai yang mereka sebut dengan “Senin Hitam” pada Senin 20 Januari 2025 kemarin.
Massa yang tergabung dalam Paguyuban Pegawai Ditjen Dikti ini menggelar aksi damai di depan kantor Kemdiktisaintek sebagai solidaritas terhadap rekan mereka bernama Neni Herlina, yang baru saja diberhentikan dari jabatannya.
Lantas, siapa sebenarnya Satryo Brodjonegoro dan bagaimana rekam jejaknya? simak profilnya berikut ini.
Satryo Soemantri Brodjonegoro lahir di Jakarta pada 5 Januari 1956. Ia kini menjabat sebagai Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi dalam Kabinet Merah Putih yang dibentuk pada 20 Oktober 2024.
Sebelum menduduki jabatan tersebut, Satryo dikenal sebagai seorang akademisi dan birokrat yang telah lama berkontribusi dalam dunia pendidikan tinggi di Indonesia.
Karier akademiknya dimulai pada 1985 sebagai dosen di Fakultas Teknik Mesin dan Dirgantara Institut Teknologi Bandung (ITB), tempat ia mengabdi hingga pensiun pada 2009. Selain itu, ia juga pernah menjabat sebagai Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi di Kementerian Pendidikan Nasional dari 1999 hingga 2007.
Selama masa jabatannya, Satryo turut berperan dalam mengembangkan konsep Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum (PTN-BH), yang menjadi salah satu tonggak penting dalam pengelolaan universitas di Indonesia.
Sebagai putra dari Profesor Soemantri Brodjonegoro, mantan Rektor Universitas Indonesia sekaligus Menteri Pendidikan dan Kebudayaan pada 1973, Satryo tumbuh dalam lingkungan akademis. Adiknya, Profesor Bambang Brodjonegoro, juga merupakan pejabat negara yang pernah menjabat di beberapa kementerian di era Presiden Joko Widodo.
Satryo menyelesaikan pendidikan sarjananya di ITB, kemudian melanjutkan studi ke Universitas California, Berkeley, dan meraih gelar doktor di bidang teknik mesin pada 1984. Setelah kembali ke Indonesia, ia kembali mengajar di ITB dan pada 1992 diangkat sebagai Ketua Jurusan Teknik Mesin. Keahliannya di bidang teknik mesin juga membuatnya diundang sebagai profesor tamu di Universitas Teknologi Toyohashi, Jepang.
Selain berkarier di bidang akademik dan birokrasi, Satryo aktif di Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI). Ia mulai bergabung pada 2008 sebagai anggota Komisi Bidang Ilmu Rekayasa, kemudian menjabat sebagai Wakil Ketua AIPI periode 2013–2018, dan akhirnya menjadi Ketua AIPI untuk periode 2018–2023.
Dalam kehidupan pribadinya, Satryo menikah dengan Silvia Ratnawati dan memiliki dua anak. Salah satu putrinya, Diantha Soemantri, mengikuti jejaknya di dunia akademik dan berhasil menjadi guru besar di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia pada usia 42 tahun.
Editor : Firda Rachmawati

