Reputasi Global Kontribusi Lokal
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAH, Jakarta - Peringkat perguruan tinggi kerap menjadi kebanggaan sebuah institusi. Posisi dalam pemeringkatan global, produktivitas penelitian, hingga banyaknya sitasi menjadi ukuran reputasi dan daya saing di tingkat internasional.
Namun, capaian akademik semacam itu belum cukup untuk menunjukkan keberhasilan sebuah perguruan tinggi. Ada ukuran lain yang jauh lebih dekat dengan kehidupan masyarakat, yakni sejauh mana ilmu pengetahuan dan inovasi yang dihasilkan mampu membawa perubahan nyata.
Sekretaris Jenderal Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) Badri Munir Sukoco mengingatkan agar perguruan tinggi tidak terjebak menjadikan peringkat sebagai tujuan akhir. Pengakuan global seharusnya menjadi modal untuk memperbesar kontribusi institusi terhadap pembangunan sosial, ekonomi, dan lingkungan.
"Peringkat tinggi bukanlah sebuah trofi untuk disimpan dalam lemari administratif. Ini adalah platform kekuatan dan kemampuan. Nilai sejati dari peringkat universitas berkaitan dengan seberapa efektif kekuatan institusi diterjemahkan menjadi dampak institusi," katanya, seperti dikutip dari ANTARA, Rabu (4/11).
Menurut Badri, indikator seperti produktivitas penelitian, jumlah sitasi, dan reputasi akademik memang penting untuk menunjukkan kualitas perguruan tinggi. Namun, pencapaian tersebut perlu diterjemahkan menjadi manfaat yang dapat dirasakan lebih luas.
Perguruan tinggi yang semakin diakui dunia justru memiliki tanggung jawab lebih besar untuk ikut menyelesaikan persoalan di sekitarnya. Prestise global semestinya menjadi motor penggerak kemajuan sosial, bukan sekadar angka yang dipajang dalam laporan pencapaian institusi.
"Ketika perguruan tinggi semakin berkembang dan memperoleh pengakuan global, tanggung jawabnya untuk berkontribusi terhadap kemajuan masyarakat juga semakin besar," ujar dia.
Orientasi tersebut, lanjut Badri, perlu tercermin dalam setiap kegiatan pendidikan, penelitian, dan inovasi. Kampus harus memiliki tujuan yang jelas sehingga ilmu pengetahuan yang dikembangkan tidak terlepas dari kebutuhan masyarakat.
Di tengah pesatnya perkembangan teknologi, perguruan tinggi juga dituntut tidak hanya menghasilkan lulusan yang menguasai kemampuan teknis. Kompetensi teknologi perlu berjalan beriringan dengan nilai kemanusiaan, kemampuan berpikir kritis, tanggung jawab, dan empati.
Generasi masa depan, menurut Badri, harus mampu memahami bahwa teknologi bukan sekadar alat untuk menciptakan kemajuan, melainkan juga sarana memberikan manfaat bagi sesama, termasuk kelompok rentan dan masyarakat yang selama ini kurang mendapatkan perhatian.
Gambaran kontribusi itu dapat dilihat dari penelitian yang membantu petani lokal meningkatkan kesejahteraan sekaligus memperkuat ketahanan menghadapi perubahan iklim.
Begitu pula teknologi energi bersih hasil pengembangan mahasiswa yang dapat diterapkan untuk memenuhi kebutuhan kota-kota di sekitarnya. (gin)
Editor : Inilahkoran

