Ribuan Hektare Sawah di Karawang Menganggur Saat Kemarau 2026, Petani Kesulitan Air
Lebih dari 2.000 hektare sawah di Karawang menganggur saat kemarau 2026. Petani terpaksa menunda tanam karena pasokan air irigasi terbatas.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID - Ribuan hektare areal persawahan di sejumlah wilayah Kabupaten Karawang, Jawa Barat, terpaksa menganggur karena keterbatasan pasokan air untuk mengairi lahan selama musim kemarau 2026.
Ketua Serikat Tani Karawang Deden Sofyan mengatakan kondisi tersebut membuat banyak petani harus menunda musim tanam hingga ketersediaan air untuk persawahan kembali aman.
"Musim kemarau benar-benar berdampak terhadap sektor pertanian. Banyak areal sawah menganggur (tidak ditanami). Para petani harus menunda tanam, sampai pasokan air benar-benar aman," kata Deden di Karawang seperti dikutip dari Antara, Kamis (20/8/2026).
Berdasarkan laporan dan pendataan yang dilakukan dalam beberapa bulan terakhir, ribuan hektare sawah yang menganggur tersebar di sejumlah wilayah Karawang.
Di wilayah utara, kondisi tersebut terjadi antara lain di Kecamatan Pakisjaya, Batujaya, Rengasdengklok, dan Cibuaya. Sementara di wilayah lainnya, sawah yang tidak ditanami juga ditemukan di Kecamatan Tegalwaru, Pangkalan, Ciampel, dan sebagian Telukjambe Barat.
"Kalau dihitung, luas areal sawah yang menganggur pada musim kemarau tahun ini lebih dari 2 ribu hektare," katanya.
Menurut Deden, kondisi sawah menganggur akibat kekurangan air sebenarnya bukan persoalan baru. Hal tersebut hampir terjadi setiap tahun ketika musim kemarau tiba.
Sejumlah lahan persawahan yang biasanya produktif terpaksa dibiarkan tidak ditanami karena pasokan air untuk mengairi sawah tidak mencukupi.
Deden mengatakan, air merupakan salah satu faktor utama yang menentukan keberhasilan musim tanam bagi petani.
Ketika saluran irigasi tidak mampu mengalirkan air ke areal persawahan, proses pengolahan lahan hingga penanaman padi tidak dapat dilakukan secara optimal.
“Kalau air tidak ada, kami tidak berani menanam. Takut sudah keluar biaya untuk mengolah sawah, tetapi tanaman akhirnya tidak bisa tumbuh," katanya.
Menurutnya, berkurangnya pasokan air di saluran irigasi menjadi salah satu penyebab utama ribuan hektare sawah menganggur selama musim kemarau 2026.
Selain itu, kondisi tersebut juga terjadi pada areal persawahan yang masih mengandalkan curah hujan untuk memenuhi kebutuhan air tanaman.
"Penyebabnya termasuk kegagalan fungsi embung-embung yang telah dibangun Dinas Pertanian. Padahal saat kemarau embung seharusnya dapat dimanfaatkan oleh petani," kata Deden.
Embung merupakan bangunan konservasi air berbentuk kolam yang berfungsi menampung air hujan, air limpasan, maupun air rembesan untuk dimanfaatkan ketika dibutuhkan.
Deden menyebut, kondisi sawah yang menganggur berdampak langsung terhadap jadwal musim tanam. Penundaan tanam tersebut tidak hanya berpengaruh terhadap produktivitas pertanian, tetapi juga berpotensi mengurangi pendapatan petani.
Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan dan Perikanan Karawang Rochman belum memberikan komentar saat dikonfirmasi mengenai kondisi ribuan hektare sawah yang menganggur selama musim kemarau 2026.
Editor : Ahmad Sayuti

