Rp150 Ribu Berujung Samurai
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
Oleh: Cesar Yudistira
INILAH, Bandung - Nilainya tak seberapa. Hanya Rp150 ribu, uang hasil penjualan sebuah lemari plastik. Namun, perkara kecil itu berubah menjadi pertumpahan darah ketika emosi mengambil alih akal sehat.
Di sebuah gang di Jalan Sukamanah, Kelurahan Sukapura, Kecamatan Kiaracondong, Minggu (2/8) dini hari, sebilah samurai terhunus. Tiga orang menjadi korban, sementara ketenangan warga pecah oleh keributan yang berujung penganiayaan.
Tak lama berselang, polisi bergerak cepat. Kurang dari 24 jam, RH (30), yang dikenal sebagai preman di kawasan Kiaracondong, berhasil diamankan di rumah orang tuanya di kawasan Babakan Sentral, Kelurahan Sukapura.
Kapolsek Kiaracondong Kompol Sumartono menjelaskan, insiden bermula ketika RH bersama rekannya mendatangi Rian Permana (35) untuk menagih uang hasil penjualan lemari plastik. Namun, pembicaraan yang semula dimaksudkan sebagai penagihan berubah menjadi adu mulut.
"Awalnya para pelaku ini akan menagih hutang atau menagih uang hasil penjualan lemari plastik. Namun hal itu dibantah dan terjadilah perkelahian antara kedua belah pihak, termasuk orang tua dari pelapor," kata Sumartono, Senin (3/8).
Laporan warga melalui layanan darurat 110 segera direspons. Personel Polsek Kiaracondong bersama Tim Prabu Polrestabes Bandung langsung menuju lokasi untuk melakukan pengejaran.
"Langsung kami tindak lanjuti bersama Tim Prabu. Kurang dari 24 jam, pelaku langsung kami amankan beserta barang buktinya," ujarnya.
Dari hasil penyelidikan, RH diduga membawa senjata tajam jenis samurai saat mendatangi korban. Senjata itu tidak hanya digunakan untuk mengintimidasi, tetapi juga dipukulkan dan diayunkan hingga melukai korban.
"Saat kejadian pelaku membawa senjata tajam berupa samurai. Samurai tersebut diacung-acungkan dan dipukulkan kepada korban," kata Sumartono.
Akibat serangan tersebut, korban mengalami luka sabetan pada bagian tangan dan mulut. Total ada tiga korban dalam peristiwa itu, termasuk ayah korban yang hingga kini masih mengalami trauma.
Menurut Sumartono, RH bukan sosok asing bagi aparat. Selama ini, ia telah beberapa kali mendapat pembinaan bersama Babinsa dan Bhabinkamtibmas agar tidak lagi meresahkan masyarakat. Namun, upaya itu belum sepenuhnya membuahkan hasil.
Polisi juga menduga RH berada di bawah pengaruh minuman keras ketika melakukan aksinya. Sementara itu, dua orang lainnya yang diduga terlibat dalam pengeroyokan masih dalam pengejaran.
"Ada dua pelaku lagi yang masih kami lakukan pengejaran. Mudah-mudahan bisa segera terungkap," ujar Sumartono. (gin)
Editor : Inilahkoran


