Ruang Belajar Ramah Semua
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAH, Jakarta - Bagi sebagian murid penyandang disabilitas, perjalanan menuju ruang kelas bukan perkara sederhana. Jalur yang sulit dilalui, bangunan tanpa akses memadai, hingga fasilitas yang tidak sesuai kebutuhan dapat membatasi kesempatan mereka untuk belajar dan berinteraksi.
Kondisi bangunan sekolah karena itu bukan sekadar urusan fisik. Bagi anak-anak berkebutuhan khusus, fasilitas yang aman dan aksesibel menjadi bagian penting untuk mendapatkan kesempatan pendidikan yang setara.
Persoalan inilah yang menjadi perhatian Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen). Tahun ini, pemerintah memperkuat pendidikan inklusif melalui program revitalisasi 836 sekolah luar biasa (SLB).
Program tersebut tidak hanya diarahkan untuk memperbaiki bangunan yang rusak, tetapi juga memastikan setiap sekolah memiliki fasilitas yang sesuai dengan kebutuhan peserta didik penyandang disabilitas.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti mengatakan, setiap anak berhak memperoleh pendidikan yang layak tanpa terkecuali. Karena itu, kondisi bangunan dan kelengkapan fasilitas sekolah harus mampu menunjang kebutuhan belajar seluruh murid.
“Revitalisasi ini bukan tujuan, tetapi sarana untuk menghadirkan gedung sekolah yang representatif dan pendidikan yang unggul,” ujar Mu’ti dalam pernyataan tertulis di Jakarta Pusat, seperti dikutip dari ANTARA, Rabu (4/11).
Komitmen tersebut diperkuat melalui kegiatan finalisasi desain teknis pembangunan dan bimbingan teknis di Kota Tangerang, Banten. Dalam kegiatan ini, Kemendikdasmen mendorong setiap sekolah menyusun perencanaan yang tidak hanya berorientasi pada perbaikan bangunan, tetapi juga mendukung pembelajaran, pendampingan, dan pengembangan kemandirian murid.
Direktur Jenderal Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus Kemendikdasmen Tatang Muttaqin mengungkapkan, kebutuhan perbaikan sarana pendidikan masih cukup besar. Berdasarkan Data Pokok Pendidikan (Dapodik), lebih dari 900 ribu ruang kelas mengalami kerusakan sedang dan berat serta membutuhkan penanganan. Sejumlah sekolah juga masih membutuhkan ruang kelas baru.
“Di balik angka-angka tersebut ada jutaan anak yang menanti ruang belajar yang aman, nyaman, sekaligus layak, termasuk anak-anak berkebutuhan khusus di SLB,” kata Tatang.
Gambaran kebutuhan tersebut terlihat di SLBN Surade. Pelaksana Tugas Kepala SLBN Surade Rhadeya Phawitra menyebut sekolahnya masih membutuhkan ruang serbaguna, ruang usaha kesehatan sekolah (UKS), dan ruang keterampilan.
Bangunan yang sudah berusia tua serta kondisi atap yang bermasalah turut memengaruhi kenyamanan kegiatan belajar. Belum lagi instalasi listrik yang tidak stabil sehingga berpotensi mengganggu penggunaan perangkat elektronik, termasuk Interactive Flat Panel atau papan interaktif digital. (gin)
Editor : Inilahkoran

