Saptawara Gegesik Dibuka, Pemkab Cirebon Dorong Lahirnya Dalang Muda Baru

Pagelaran Wayang Kulit Pedalangan Saptawara Gegesik resmi digelar di Alun-alun Kecamatan Gegesik, Kabupaten Cirebon.

Saptawara Gegesik Dibuka, Pemkab Cirebon Dorong Lahirnya Dalang Muda Baru
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Cirebon Fajar Sutrisno saat membuka Pagelaran Wayang Kulit Pedalangan Saptawara Gegesik di Alun-alun Kecamatan Gegesik. (maman suharman)

INILAHKORAN.ID - Pagelaran Wayang Kulit Pedalangan Saptawara Gegesik resmi digelar di Alun-alun Kecamatan Gegesik, Kabupaten Cirebon.

Kegiatan budaya tahunan itu menjadi upaya regenerasi dalang muda sekaligus pelestarian seni tradisional di tengah perkembangan zaman.

Pagelaran Saptawara Gegesik yang telah memasuki tahun ke-33 tersebut diikuti para seniman pedalangan dari Kabupaten Cirebon dan sejumlah daerah sekitarnya.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Cirebon Fajar Sutrisno mengatakan, konsistensi masyarakat Gegesik dalam mempertahankan pagelaran budaya selama puluhan tahun menjadi bukti kuatnya kepedulian terhadap warisan seni tradisional.

“Gegesik menjadi salah satu kecamatan yang terus menjaga tradisi seni pedalangan dan melahirkan regenerasi dalang,” kata Fajar, Minggu 10 Mei 2026.

Menurutnya, regenerasi menjadi faktor penting agar seni pedalangan tetap hidup dan diminati generasi muda.
Dia menilai keberadaan dalang muda perlu terus didukung agar kesenian wayang kulit tidak kehilangan penerus di masa mendatang.

“Generasi pedalangan harus terus dikembangkan dan diregenerasikan. Pemerintah daerah mengapresiasi Gegesik yang tetap konsisten melahirkan dalang-dalang muda,” ujarnya.

Fajar mengaku, Pemerintah Kabupaten Cirebon mendukung penuh pelaksanaan pagelaran budaya seperti Saptawara agar dapat terus berlangsung secara berkelanjutan setiap tahun.

Sementara itu, Ketua Panitia sekaligus dalang, Sudarso menilai dukungan pemerintah daerah, aparat keamanan, hingga para kuwu menjadi faktor penting dalam terselenggaranya acara tersebut.

“Kami berharap kegiatan ini terus mendapat dukungan dan bimbingan, agar bisa terselenggara setiap tahun sebagai bagian dari pelestarian budaya,” ujar Sudarso.

Antusiasme masyarakat terhadap pagelaran wayang kulit itu juga terlihat sejak malam pembukaan. Warga memadati area alun-alun untuk menyaksikan pertunjukan pedalangan yang berlangsung hingga larut malam.

Salah seorang warga Gegesik, Kasdi mengaku senang tradisi wayang kulit masih rutin digelar di wilayahnya.

“Acara seperti ini bagus untuk menjaga budaya Cirebon supaya tidak hilang. Anak-anak muda juga jadi tahu seni wayang,” akunya.

Hal serupa disampaikan Hanan. Dia menilai pagelaran budaya mampu menghidupkan suasana masyarakat sekaligus mendorong aktivitas ekonomi warga sekitar.

“Kalau ada acara seperti ini suasana jadi ramai, pedagang juga ikut terbantu. Semoga terus diadakan setiap tahun,” pungkasnya.


Editor : Doni Ramdhani