Sikap Kami: Bapak Aing

BAPAK aing sesungguhnya itu adalah Bojan Hodak. Bukan si Ini, atau si Itu. Dialah yang memberikan kebahagiaan bagi warga Jawa Barat, tak peduli apa afilisasi politiknya, tak soal apakah orang itu pengagum atau justru pembenci dirinya.

Sikap Kami: Bapak Aing

BAPAK aing sesungguhnya itu adalah Bojan Hodak. Bukan si Ini, atau si Itu. Dialah yang memberikan kebahagiaan bagi warga Jawa Barat, tak peduli apa afilisasi politiknya, tak soal apakah orang itu pengagum atau justru pembenci dirinya.

Bojan Hodak adalah bapak aing yang natural. Dia menjalankan tugasnya dengan sungguh-sungguh demi keberhasilan Persib Bandung. Tak perlu dan tak pernah pula dia menonjol-nonjolkan dirinya.

Tak pernah dia pansos –panjat sosial. Kemana-mana tak pernah membawa kamera. Justru, kamera yang mengikutinya. Kamera wartawan dan bagian public relation PT Persib Bandung Bermartabat (PBB).

Tak pernah dia terlihat marah-marah, apalagi menyampaikan kata-kata yang tak patut di hadapan publik. Kalau dia marah, dia hanya mengangkat tangan dan menunjukkan wajah kesalnya. Termasuk ketika merasa dirugikan keputusan wasit.

Tak hendak dia tantrum. Saat menganggap Persib dirugikan wasit di Biak Numfor, Bojan Hodak memilih menyalurkan kekesalannya sesuai regulasi. “Saya tak mau bicara banyak tentang wasit,” katanya.

Seorang pemimpin mestinya memang seperti itu. Kualitas seorang pemimpin, kata Nelson Mandela, terlihat dari cara ia memperlakukan yang lain. Perlakuan yang baik adalah cermin pemimpin baik dan begitu sebaliknya.

Bojan Hodak paham betul soal itu. Dia tak ingin disanjung, tak ingin dipuji, dengan aksi-aksi yang tak perlu. Dia tak mau bicara banyak. Tapi, di lapangan, pencapaian prestasi Persib adalah mulut Bojan Hodak itu sendiri. Dia bicara dengan fakta.

Begitulah memang orang-orang yang bergelut di olahraga. Dia tak membutuhkan pencitraan berlebihan. Yang dia butuhkan adalah pencapaian prestasi. Itu sebabnya, jika seorang pelatih baik berhasil, dia akan lebih banyak tenang, kalem, tak mengumbar berlebihan pencapaiannya. Sebab, mereka tak perlu citra. Mereka hanya perlu prestasi dari hasil kerja yang berkesinambungan.

Dia tak hendak membesar-besarkan dirinya. Atau berlagak seperti itu, mengarah seperti itu. Yang menyebutnya besar justru orang lain. Bojan Hodak pelatih hebat, Djadjang Nurdjaman pelatih jempolan, Abah Indra Thohir pelatih legendaris. Tanpa kamera, tanpa dipoles-poles.

Merekalah bapak aing sesungguhnya itu. Seorang pemimpin –dalam kapasitasnya—yang cageur, bageur, bener, pinter tur singer. Tanpa perlu marah-marah di depan publik, mengesankan diri sebagai orang terbaik, dan menganggap diri sendiri sebagai kebenaran sejati.

“Seorang pemimpin yang bijaksana adalah pemimpin yang mau mendengarkan dan belajar dari orang lain,” kata Richard Branson, konglomerat Inggris pemilik grup Virgin.

Bojan Hodak adalah bapak aing. Bukan si Ini atau si Itu. (*)


Editor : Zulfirman