Sikap Kami: Domino Raja Juli
PEJABAT kita ini kadang lucu-lucu. Mungkin mereka sering menyaksikan stand up komedi. Karena sering tertawa, sensitivitas jadi barang langka pada diri mereka. Tak heran, rakyat pun tersenyum simpul melihat ulahnya.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
PEJABAT kita ini kadang lucu-lucu. Mungkin mereka sering menyaksikan stand up komedi. Karena sering tertawa, sensitivitas jadi barang langka pada diri mereka. Tak heran, rakyat pun tersenyum simpul melihat ulahnya.
Abdul Kadir Karding, politisi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) yang kini jadi Menteri Perlindungan Pekerja Migran (P2MI) itu bahkan harus memberikan penjelasan soal petemuan Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni dengan Azis Wellang, di meja domino.
Lucu bukan? Di tengah suasana yang tak bisa dibilang kondusif, pejabat kita sempat-sempatnya main domino. Seolah-olah negeri gemah ripah loh jinawi ini sedang baik-baik saja. Sampai pejabatnya bisa berleha-leha, main domino.
Bayangkan, permainan domino baru dimulai pukul 23.30 WIB. Menjelang pergantian hari. Sungguh teladan yang buruk dari pejabat kita tentang pengaturan waktu. Untung Raja Juli menteri. Kalau dia berstatus pelajar di Jawa Barat, dia bisa dimasukkan Dedi Mulyadi ke barak.
Lebih lucu lagi karena Menteri Kehutanan bermain domino dengan orang yang pernah disangkakan terlibat pembalakan liar hutan kita. Agus Wellang, lawan main domino Menteri Kehutanan itu, pernah jadi tersangka pembalakan hutan di Kabupaten Katingan, Kalimantan Tengah.
Dalam konteks kejahatan kehutanan, pembalakan liar adalah “kejahatan extra ordinary”. Agus Wellang pernah ditetapkan Dirjen Gakkum Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) sebagai tersangka pembalakan. Tapi, praperadilan memenangkannya pada 9 Desember 2024, saat Raja Juli sudah jadi Menteri Kehutanan.
Jika Raja Juli tak tahu Azis Wellang, maka hanya ada dua kemungkinan. Pertama, dia tak serius mengurus persoalan kehutanan. Sampai tak tahu orang yang pernah jadi tersangka kejahatan kehutanan. Kedua, sensitivitasnya sudah tipis, atau mungkin hilang.
Dalam proses keadilan sektor kehutanan, kita harus mahfum sambil mengurut dada, bahwa keadilan masih jauh dari harapan. Warga kampung menebang pohon dan menjualnya, bisa ditangkap atas delik pidana. Jika pengusaha besar, seringnya mereka malah lolos.
Dalam sistem hukum kehutanan yang amburadul, sepatutnya Raja Juli menempatkan orang yang pernah diduga melakukan pembalakan, sebagai “lawan”. Bukan di meja domino, tapi dalam kebijakannya.
Tetapi, Raja Juli mungkin jadi perlambang kehidupan politik kita yang tak lagi memiliki rasa segan dan malu. Umum terjadi, penjahat yang pernah masuk bui, kadang-kadang malah mendapat jabatan di pemerintahan.
Maka, mari kita tertawakan saja ulah Raja Juli itu. Kita tertawakan sensitivitas pejabat kita. Kalau tak mau tertawa, senyum simpul juga boleh, sambil mengurut dada. (*)
Editor : Zulfirman

