Sikap Kami: Hilang Akal, Runtuh Moral
Belakangan, media sosial dipenuhi cerita kekerasan seksual yang menyeret UI, ITB, dan Unpad, menjadi penanda persoalan di balik dinding akademik.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
ADA yang perlahan berubah di ruang-ruang yang selama ini dipercaya paling terang. Kampus, tempat bertumbuhnya akal dan Nurani, kini dihadapkan pada kisah-kisah yang mengguncang kepercayaan itu sendiri.
Belakangan, media sosial dipenuhi pengakuan yang tak lagi mampu ditampung saluran formal. Cerita demi cerita tentang kekerasan seksual mengalir, menyeret nama Universitas Indonesia (UI), Institut Teknologi Bandung (ITB), hingga Universitas Padjadjaran (Unpad).
Bukan sekadar cerita viral yang singgah lalu hilang begitu saja di linimasa. Deretan peristiwa ini menjadi penanda, ada persoalan lama yang selama ini tersembunyi di balik dinding akademik.
Di UI, percakapan vulgar di ruang digital menunjukkan bagaimana kata-kata dapat kehilangan nurani. Di ITB, yel-yel yang merendahkan perempuan justru dipertahankan atas nama tradisi.
Sementara di Unpad, dugaan penyalahgunaan otoritas oleh seorang guru besar memperlihatkan betapa relasi kuasa bisa melampaui batas etika. Bentuknya berbeda, tetapi nadanya sama: ada nilai pergeseran nilai dan batas yang mulai kabur.
Kekerasan seksual tidak lagi selalu hadir dalam wujud fisik yang kasatmata. Fenomena itu bisa hadir dalam kalimat, candaan, dan kebiasaan yang diulang tanpa pernah dipertanyakan. Ketika
dibiarkan, berubah menjadi kultur. Saat sudah menjadi kultur, berhenti dianggap sebagai kesalahan.
Sejenak menoleh ke masa lalu, mahasiswa tidak hanya dikenal sebagai pencari ilmu. Mereka adalah penjaga nurani publik. Dalam momen seperti Reformasi 1998, suara mahasiswa menjadi penanda keberanian moral, berdiri di garis depan ketika nilai-nilai keadilan terancam. Kampus menjadi ruang saat intelektualitas dan integritas berjalan beriringan.
Ada pula masa ketika pembentukan nilai bahkan dilembagakan, salah satunya melalui Penataran P4. Pendekatan itu mungkin tidak lagi relevan sepenuhnya di zaman ini, bahkan kerap dikritik karena sifatnya yang seragam. Namun setidaknya ada kesadaran, pendidikan tidak pernah hanya soal ilmu, melainkan juga tentang arah moral.
Hari ini, tantangannya berbeda. Kebebasan berpikir semakin luas, tetapi pada saat yang sama batas etika justru kerap diabaikan. Mengulang masa lalu bukan jawaban, tetapi membiarkan kekosongan nilai jelas bukan pilihan. Tanpa fondasi moral yang kuat, kecerdasan berisiko kehilangan makna.
Yang dibutuhkan bukan sekadar aturan tambahan atau respons sesaat setiap kali kasus mencuat. Lebih dari itu, keberanian membangun kembali kultur yang tegas menolak pelecehan dalam bentuk apa pun.
Pada titik inilah, ruang aman terbuka, menempatkan penghormatan terhadap manusia sebagai nilai utama. Kampus bukan hanya tempat mencetak lulusan, tapi ruang membentuk manusia. Ketika ruang itu gagal menjaga nilai paling dasar, yang runtuh bukan hanya kepercayaan, melainkan juga arah masa depan itu sendiri. **
Editor : Gin gin T Ginulur

