Sikap Kami: Janji Joni, eh Dedi....
JANJI Joni itu terhitung film femomenal. Rilis 20 tahun lalu. Karya perdana Joko Anwar sebagai sutradara. Salah satu pemerannya, mantan calon Wakil Gubernur Jawa Barat, Ronal Suradipraja, meski hanya cameo.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
JANJI Joni itu terhitung film femomenal. Rilis 20 tahun lalu. Karya perdana Joko Anwar sebagai sutradara. Salah satu pemerannya, mantan calon Wakil Gubernur Jawa Barat, Ronal Suradipraja, meski hanya cameo.
Film bergenre komedi romantis petualangan ini menjadi nomine Festival Film Indonesia, menjadi film terbaik MTV Indonesia Movie Awards 2005. Film ini berkisah tentang bagaimana komitmen pengantar roll film ke bioskop-bioskop memegang janjinya.
Bagi orang-orang yang bahkan belum masuk kelompok menengah seperti Joni, janji adalah utang. Berbanding terbalik dengan politisi. Sejuta janji, satu saja yang dipenuhi pun sudah syukur.
Bagi orang-orang terhormat, seperti Joni, janji adalah beban yang harus dilaksanakan. Begitu beratnya sebuah janji hingga Napoleon Bonaparte pun pernah berujar: “Cara terbaik untuk menepati janji adalah dengan tidak mengucapkannya.”
Kita menduga, Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, kini juga berada dalam situasi seberat Joni. Tapi, tak seperti Napoleon, dia sudah terlanjur mengucapkannya.
“Apabila ada staf saya yang berbohong, tidak menyampaikan fakta dan data yang sesungguhnya, menyembunyikan data yang seharusnya diketahui oleh masyarakat dan terbuka, saya tidak akan segan-segan, saya berhentikan pejabat itu,” katanya tengah pekan lalu.
Itu pernyataannya di tengah hiruk-pikuk kontroversinya menyangkut anggaran daerah yang mengendap di bank. Saat itu, dia membantah ada dana APBD Jabar didepositokan di bank.
Jumat pekan lalu, usai berkunjung ke BPK Jawa Barat, Dedi memberi alasan kenapa Pemprov dan BLUD suka menyimpan uang anggaran daerah dalam bentuk deposito. “Karena halal,” katanya kepada wartawan.
Benarkah ada APBD Jabar yang didepositokan di bank? Data Bank Indonesia per-September 2025, membenarkan itu. Yang melakukannya BLUD. Meski otonom dalam pengelolaan keuangan, BLUD tetap jajaran Pemprov Jabar.
Apakah Dedi akan mencopot kepala-kepala BLUD itu? Layak kita tunggu. Kalau mau seperti Joni, dia semestinya melakukan.
Tetapi, masalahnya sebenarnya bukanlah di situ. Masalahnya justru ada pada Dedi sendiri. Apa itu? Dia terlalu reaktif terhadap sesuatu yang bahkan sasaran tembaknya bukanlah dirinya sendiri.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa hanya meminta daerah membelanjakan uang agar ekonomi berputar di wilayahnya. Sayangnya, Dedi terlalu reaktif. Jadinya, ya offside.
Maka, pelajaran berharga bagi Dedi adalah bagaimana tidak reaktif melihat persoalan yang muncul. “Sesungguhnya, setiap kesabaran akan membuahkan hasil yang manis di hari kemudian,” kata Ali bin Abi Thalib. (*)
Editor : Zulfirman

