Sikap Kami: Offside, Raffi Ahmad

PRABOWO Subianto itu sudah jadi orang besar. Dia pemimpin tertinggi di negeri ini. Jadi, jangan sekali-kali mendegradasinya seolah-olah presiden Partai Gerindra. Dia harus berpijak pada kepentingan nasional, kepentingan seluruh warga Indonesia.

Sikap Kami: Offside, Raffi Ahmad
Raffi Ahmad mendukung De Gadjah pada Pilgub Bali 2024.

PRABOWO Subianto itu sudah jadi orang besar. Dia pemimpin tertinggi di negeri ini. Jadi, jangan sekali-kali mendegradasinya seolah-olah presiden Partai Gerindra. Dia harus berpijak pada kepentingan nasional, kepentingan seluruh warga Indonesia.

Kenapa kita harus mengingatkan itu? Karena hingga kini, masih saja ada yang menempatkannya seolah-olah Presiden Gerindra. Tentu saja, pernyataan semacam itu demi kepentingan politik semata.

Teranyar, artis Raffi Ahmad yang menyebutkan hal itu. Hanya karena memberikan dukungan untuk calon gubernur yang diusung Partai Gerindra di Pilgub Bali, pernyataannya bisa dimaknai sebagai memperkecil posisi Prabowo sebagai presiden bagi seluruh anak negeri.

“Intinya, singkatnya presiden kita siapa? Pak Prabowo. Pak Prabowo punya Partai Gerindra dan ini (De Gadjah) salah satu kader putra terbaik. Kalau memang kita mau sinergi antara pusat dan daerah, semua sinkronisasi harus bagus,” kata dia.

Apakah jika De Gadjah kalah, dan yang menang adalah I Wayan Koster-Giri Prasta, relasi hubungan pemerintah pusat dan Bali akan tersendat? Apalagi jika rintangan itu datang dari Prabowo hanya karena cagub terpilih bukan kader Gerindra, maka tentu itu tak menunjukkan sikap kebangsaan yang baik.

Raffi Ahmad tak sendirian. Banyak kader Gerindra lain, atau pasangan calon yang diusung Gerindra, melakukan hal serupa. Di Jakarta, Ridwan Kamil pernah menyatakan itu. Di Sumatera Utara, Bobby Nasution juga mengungkap hal serupa.

Buat kita, pernyataan-pernyataan semacam itu tidak pada tempatnya. Sebab, jika benar seperti itu, maka berarti terjadi diskriminasi dalam relasi pemerintah pusat dan daerah. Jelas, itu tidak elok. Tidak menunjukkan hakikat nasionalisme yang sesungguhnya.

Kita meyakini Prabowo tidaklah seperti semacam itu. Kita meyakini, Indonesia baginya adalah berada di atas segala-galanya. Setidaknya itu yang berkali-kali terungkap dari pernyataannya.

Katakanlah di Bali, misalnya, biarpun De Gadjah kalah, bagaimana Prabowo menafikan 60% pemilihnya di Pilpres? Bagaimana dia mengabaikan 40% bukan pemilihnya, yang juga tetap rakyatnya.

Maka, saran kita, dalam setiap kampanye pilkada, lontarkanlah pernyataan-pernyataan yang bernas, sejuk, dan inspiratif. Menyebutkan bahwa presiden akan “menganaktirikan” daerah yang tak dimenangkan politisi partainya, menurut kita, adalah pernyataan yang mendegradasi kepemimpinan negara. Itu pernyataan yang offside. (*)


Editor : Zulfirman