Sikap Kami: OKB Kadungora

JIKA hendak mencari orang kaya baru (OKB) di Jawa Barat saat ini, tak perlu jauh-jauh. Datanglah ke wilayah selatan. Dari perbatasan Kabupaten Bandung, Garut, hingga Tasikmalaya.

Sikap Kami: OKB Kadungora

JIKA hendak mencari orang kaya baru (OKB) di Jawa Barat saat ini, tak perlu jauh-jauh. Datanglah ke wilayah selatan. Dari perbatasan Kabupaten Bandung, Garut, hingga Tasikmalaya.

Di sana, terutama di daerah yang dilintasi jalur Tol Gedebage-Tasikmalaya-Ciamis (Getaci), tak sedikit warga yang mendadak kaya. Pasalnya, lahan mereka dibutuhkan untuk jalur tol. Karena itu, pemerintah mengeluarkan ganti rugi.

Ganti rugi? Bukankah berkali-kali pemerintah menyatakan selama ini kalau lahan warga untuk proyek strategis nasional (PSN) adalah ganti untung?

Kita tak sependapat. Setidaknya dalam berbagai bukti, terutama yang ramai diperbincangkan media sosial, yang muncul adalah ganti rugi. Hanya sebagian yang mendapatkan ganti untung.

Ganti untung hanya bagi warga yang bisa mengelola uang dengan baik. Bagi yang terkena sindrom OKB, niscaya lebih banyak ruginya. Duit besar tak terkelola dengan baik, dibelanjakan untuk kebutuhan konsumtif, dan tak lama kemudian kembali ke keadaan sedia kala. Plus kehilangan lahan.

Dalam kaitan inilah sesungguhnya peran pemerintah tetap diperlukan terhadap OKB-OKB itu. Salah satunya adalah mendidik warga untuk melek literasi keuangan. Sebab, hanya dengan pengelolaan keuangan, apakah melalui instrumen saham, investasi lahan di tempat lain, atau modal usaha, ganti rugi itu akan jadi ganti untung.

Bayangkan, sepanjang tahun ini, ada uang Rp1,1 triliun mengalir kepada warga. Lahan mereka, termasuk sawah, diganti uang hingga miliaran rupiah. Uang yang bagi warga rata-rata, selama ini hanya mungkin mimpi.

Di Kecamatan Kadungora, Kabupaten Garut, misalnya, seorang warga pemilik lahan menerima ganti rugi sebesar Rp16,9 miliar. Apapun usahanya di lahan tersebut, takkan bisa mendapatkan angka sebesar itu dalam waktu sebentar.

Kita, memang belum –atau sangat jarang—mendengar kisah penerima ganti rugi di wilayah Kabupaten Bandung-Garut-Tasikmalaya, berfoya-foya setelah mendapatkan ganti rugi tersebut. Tapi, langkah-langkah agar modal mereka menjadi produktif, sepatutnya terus digelorakan.

Tak perlu membeli barang-barang mewah yang dalam rentang waktu tak lama nilainya akan susut. Tak perlu pula berimajinasi menambah istri setelah menerima gepokan uang banyak itu. Tetap jalani kehidupan dengan normal.

Sebab apa? Dalam fakta kehidupan sehari-hari, tak sedikit OKB yang berubah menjadi OGB. Ya, orang kaya baru menjelma menjadi orang gila baru karena dalam sekejap uangnya yang besar, tiba-tiba habis karena tak bisa mengelolanya. (*)


Editor : Zulfirman