Sikap Kami: Pesan Taufik Hidayat
SEPEKAN lagi, anggota DPRD Jawa Barat periode 2024-2029 akan dilantik. Di sekitaran itu, sejumlah kabupaten/kota kini bahkan sudah memiliki anggota DPRD yang baru.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
SEPEKAN lagi, anggota DPRD Jawa Barat periode 2024-2029 akan dilantik. Di sekitaran itu, sejumlah kabupaten/kota kini bahkan sudah memiliki anggota DPRD yang baru.
Roda memang berputar. Tak selamanya seorang politisi menjadi wakil rakyat. Ada kalanya, dia tersingkir dan digantikan politisi lainnya. Bisa dari partai politiknya sendiri, bisa pula dari parpol lainnya.
Beberapa waktu lalu, Ketua DPRD Jawa Barat, Taufik Hidayat, memberikan pesan kepada anggota DPRD Jabar terpilih 2024-2029. Dia mengingatkan mereka untuk lebih sering turun ke lapangan, mendengar dan menyerap aspirasi masyarakat.
Pada titik tertentu, kita sepakat dengan pesan tersebut. Memanfaatkan pertemuan dengan konstituen yang secara berkala dibiayai duit pajak rakyat, semestinya memang harus dilakukan sungguh-sungguh.
Tapi, buat kita, tak cukup hanya itu. Lebih dari itu adalah bagaimana menggunakan nurani, jiwa yang bersih, dan kemudian memperjuangkan aspirasi masyarakat itu dengan segenap hati.
Kenapa begitu? Tak ada yang membantah, bahwa banyak politisi kita yang tak sepenuhnya berjuang dengan rakyat. Mereka mengabaikan nuraninya. Mereka menempatkan diri sepenuhnya sebagai utusan partai, bukan utusan rakyat.
Apa yang terakhir pekan lalu adalah salah satu bukti nyata. Rakyat melawan kehendak wakilnya. Sebab, apa yang dilakukan wakilnya, nyata-nyata bukan menyalurkan suara rakyat. Dalam hal ini adalah tentang Undang-Undang Pilkada.
Lalu, jika mereka berlawanan dengan kehendak rakyat, masih pantaskah mereka disebut wakil rakyat? Tidak sama sekali. Sebagian mereka hanya pencari kuasa. Dan, dengan kuasa itu mereka menumpuk harta, mengejar kuasa yang lebih lainnya.
Itulah sejatinya pelajaran untuk anggota DPRD Jabar periode 2024-2029. Mereka harus belajar dari legislator periode sebelumnya. Sebanyak 72 dari 120 atau sekitar 65%, tak lagi dipercaya rakyat Jabar. Mereka rontok. Sebab, selama ini mereka memang tak berjuang sungguh-sungguh untuk rakyat.
Timbul pertanyaan, apakah dengan mengikuti nurani, berjuang untuk kepentingan rakyat, akan terpilih lagi periode berikutnya? Tentu tidak ada jaminan. Tapi, bukankah posisi-posisi sebagai wakil rakyat itu sesungguhnya adalah posisi pengabdian, bukan posisi merebut kuasa?
Maka, jika itu yang terjadi, gagal kembali duduk di kursi legislatif, tak pula harus kecewa. Sebab, kursi wakil rakyat itu sejatinya direbut dengan kepercayaan, bukan dengan gelontoran uang suap dan amplop tebal.
Itulah yang namanya kepercayaan. Menjadi wakil rakyat, pada prinsipnya, adalah menjalankan kepercayaan masyarakat. Bukan merebut kepercayaan itu dan menjalankannya dengan ugal-ugalan. (*)
Editor : Zulfirman


