Sikap Kami: Sisir, Bukan Matikan BUMD

LANGKAH-LANGKAH Dedi Mulyadi selalu mengejutkan. Kadang bikin heboh. Rencana peleburan BUMD Jawa Barat yang jumlah 41 menjadi hanya dua, salah satunya Bank bjb, kemungkinan akan membuat kebisingan lagi kemudian.

Sikap Kami: Sisir, Bukan Matikan BUMD

LANGKAH-LANGKAH Dedi Mulyadi selalu mengejutkan. Kadang bikin heboh. Rencana peleburan BUMD Jawa Barat yang jumlah 41 menjadi hanya dua, salah satunya Bank bjb, kemungkinan akan membuat kebisingan lagi kemudian.

Rencana tersebut dikemukakan Gubernur Jawa Barat itu beberapa hari lalu. Dia bilang, selain Bank bjb, satu perusahaan pelat merah lainnya kemungkinan adalah holding BUMD.

Bahwa Dedi Mulyadi kecewa dengan perjalanan sejumlah BUMD di Jawa Barat, kita pun mahfum. Sebagian badan usaha itu tak layak dipertahankan sebagai BUMD. Selain tak berkepentingan untuk nasib rakyat banyak, juga tak memberi manfaat apa-apa.

Kita setuju, dengan risiko apapun, BUMD-BUMD yang tak lagi berguna itu, patut dilikuidasi. Ditutup saja. Jumlahnya pun kita perkirakan tak sedikit. Bisa belasan, atau puluhan.

Tapi, menjadikan hanya dua BUMD, hemat kita, terlalu berlebihan. Menurut kita, itu bukan jalan terbaik. Langkah terbaik sesungguhnya adalah membiarkan BUMD yang masih prospektif untuk tetap jalan dan menutup yang bermasalah.

Kenapa begitu? BUMD, sebagaimana juga BUMN, bukan semata-mata badan usaha yang orientasinya profit semata. Dia juga menjalankan tugas-tugas di luar faktor ekonomi. BUMD bisa bermanfaat untuk membuka ruang pembangunan untuk sesuatu yang tak mampu dijalankan swasta.

Dalam pandangan kita, sejumlah BUMD sejatinya punya prospek, bahkan untuk masa yang lama. Sebab, Jabar sebagai wilayah ekonomi yang penting, sepatutnya juga diberi kesempatan untuk ikut sebagai pemain melalui BUMD.

Salah satu misalnya BUMD yang mengurus energi terbarukan. Kita tahu, Jabar termasuk salah satu daerah dengan potensi terbesar di sektor energi panas bumi. Maka, kehadiran BUMD yang bergerak di bidang energi pun sebenarnya tetap diperlukan.

Juga, misalnya, Jabar merupakan daerah dengan perlintasan jalan tol terbanyak di Indonesia. Salah satu BUMD Jabar bahkan terlibat dalam pembangunan jalan tol meski dengan kontribusi kecil-kecilan. Hemat kita, yang begitu tetap harus dipertahankan.

Menyatukannya dalam sebuah holding juga potensi memicu masalah. BUMD-BUMD itu sebagian besar bergerak di sektor yang berbeda. Potensial terjadi gesekan-gesekan.

Satu hal yang tak kalah penting kita ingatkan adalah perlu berpikir panjang jika hendak menutup BUMD. Jalan keluarnya harus tepat. Jika pengurusnya yang salah, itulah sebaiknya yang diganti. Jangan karena pengurusannya yang keliru, kemudian potensi ekonomi Jabar yang bisa dikelola BUMD justru dimatikan. (*)


Editor : Ardi