SPMB Sekolah Maung Tuai Polemik Gegara Perubahan Skor, Disdik Jabar Klarifikasi

Pelaksanaan SPMB Sekolah Maung menuai polemik usai muncul kekhawatiran publik perubahan skor calon murid baru di jalur prestasi non-akademik.

SPMB Sekolah Maung Tuai Polemik Gegara Perubahan Skor, Disdik Jabar Klarifikasi
Kepala Disdik Jabar Purwanto menegaskan, tidak ada pemotongan atau pengurangan skor secara sepihak dalam proses SPMB Sekolah Maung. (dok)

INILAHKORAN.ID - Pelaksanaan Seleksi Penerimaan Murid Baru (SPMB) Sekolah Maung menuai polemik usai muncul kekhawatiran publik perubahan skor calon murid baru di jalur prestasi non-akademik.

Merespons dinamika tersebut, Dinas Pendidikan (Disdik) Jabar memberikan klarifikasi. Penyesuaian nilai disebut bukan pemotongan, melainkan sinkronisasi data sesuai regulasi yang berlaku.

Kepala Disdik Jabar Purwanto menegaskan, tidak ada pemotongan atau pengurangan skor secara sepihak dalam proses SPMB Sekolah Maung

"Perubahan angka yang muncul di web SPMB Sekolah Maung merupakan bagian dari proses sinkronisasi dan update data riil agar seluruh penilaian mutlak berbasis pada aturan hukum yang berlaku," ujar Purwanto dalam keterangan resminya yang dikutip dari situs Disdik Jabar, Jumat (5/6/2026).

Proses ini merujuk pada Keputusan Gubernur Jawa Barat Nomor 27274/HK.02.03/SEKRE, tentang Petunjuk Pelaksanaan Sistem Penerimaan Murid Baru Sekolah Manusia Unggul di SMA dan SMK Tahun Ajaran 2026/2027, yang diterbitkan pada 13 Mei 2026.

Disdik Jabar menekankan, skor yang terlihat saat ini masih bersifat sementara, karena sistem secara otomatis terus memverifikasi kecocokan data pendaftaran awal dengan dokumen fisik, khususnya untuk memastikan klasifikasi bobot prestasi sesuai ketentuan gubernur.

Contoh kasus di jalur prestasi terjadi ketika calon murid yang meraih Juara Beregu Harapan Nasional di luar kementerian, awalnya tercatat 310. Sistem kemudian menyesuaikan menjadi 275 untuk kategori Tunggal Juara 1 Nasional di luar kementerian. Dengan bobot 60 persen, skor akhir menjadi 302,6. 

“Perubahan ini murni merupakan penyesuaian ke hak skor yang sebenarnya, bukan pemotongan nilai,” ucapnya.

Demikian pula pada kategori prestasi Pramuka Garuda. Nilai awal 310 disesuaikan menjadi 275, setelah verifikasi dokumen, sehingga bobot 60 persen menghasilkan skor 165.

Kasus lainnya, dalam kategori Ketua OSIS, sistem awal membaca 305, bobot 60 persen menjadi 183. Setelah koreksi, skor disesuaikan menjadi 220 untuk kategori Juara 1 Provinsi di luar kementerian, bobot 60 persen menghasilkan 132, total skor akhir 326,24.

Dampak dari penyesuaian ini terlihat pada peringkat sementara di papan skor, namun tujuannya adalah mengembalikan hak skor sesuai regulasi, bukan merugikan peserta. 

“Tidak ada satu pun calon murid yang dirugikan oleh kesalahan pembacaan sistem ataupun kekeliruan input di awal pendaftaran,” tegasnya.

Terlepas dari itu, Disdik Jabar meminta maaf atas ketidaknyamanan yang terjadi selama proses sinkronisasi, sambil mengimbau calon murid dan orang tua untuk tetap memantau pemutakhiran data melalui saluran resmi. Kelulusan final tetap ditetapkan kepala sekolah, melalui rapat dewan guru sesuai Juklak SPMB Manusia Unggul.

Ia pun menegaskan, Disdik Jabar berkomitmen menjaga proses seleksi SPMB Sekolah Maung 2026 berjalan bersih, transparan, jujur dan sesuai ketentuan hukum.

Sebelumnya, viral di media sosial keluhan orangtua calon murid baru (CMB) yang diduga mengalami pengurangan skor saat mengikuti SPMB Sekolah Maung 2026.

Akun media sosial @sophiemei.diatmadja menyampaikan, posisi peringkat anaknya di seleksi SPMB Sekolah Maung SMAN 5 Bandung telah terlempar jauh akibat adanya pengurangan skor.

Sehingga anaknya berpotensi tidak lolos bersama, dengan calon murid baru yang terdampak oleh pengurangan skor. Padahal, sebelumnya posisi skor poin yang diraih oleh anaknya berada dalam posisi aman dan masuk dalam kuota kursi dengan jumlah 307,4 poin.

"Guys, mau cerita, enggak apa-apa viral juga ini mah ya. Anak aku per hari kemarin lolos SMA Maung, sedih aku. Dia lolos SMA Maung masuk kategori daftar kuota yang udah aman banget masuk kuota, skornya 370,4 sudah melewati verifikasi, posisinya suda aman sudah ada didalam kuota," ujarnya dalam video yang diunggah Kamis kemarin.

Namun mendadak posisi peringkat berubah, akibat adanya pengurangan skor, dari semula 370,4 menjadi 319,4 atau berkurang sebanyak 51 poin.

"Tiba-tiba posisinya turun parah, karena si poinnya itu hilang 51 dari 370, itu skornya jadi 319 doang, kelempar jauh," ucapnya.

Guna mencari kepastian terhadap perubahan skor tersebut, ia mengaku telah berupaya mengonfirmasi kepada panitia pelaksana SPMB, baik yang berada di sekolah maupun Disdik Jabar. Namun belum mendapat kepastian jelas.

Dia juga telah mendatangi kediaman Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi untuk membuat laporan ke pos aduan Lembur Pakuan.

"Yang pasti hari ini, kita udah datang ke pos pengaduan di Lembur Pakuan berharap keresahan ini bisa didengar oleh bapak @dedimulyadi71. Ini bukan tentang anak saya harus lolos di SMA Maung, ini keresahan orangtua yang anaknya seorang Ketua OSIS namun dengan regulasi pembobotan 220 ini, jalur Ketua OSIS terasa sulit untuk bersaing di SMA Maung sekalipun dengan nilai rapor sempurna," tulisnya di akun media sosialnya. 


Editor : Doni Ramdhani