Surat Suara Pilpres 2024 Tidak Ada di TPS 60, KPU Kota Cimahi Bakal Lakukan PSL Usai Penelusuran
KPU Kota Cimahi melakukan penelusuran surat suara Pilpres 2024 yang tidak ada di tempat pemungutan suara (TPS) 60 yang berada di Kampung Cibodas RT 03/11, Kelurahan Utama, Kecamatan Cimahi Selatan.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN, Cimahi - KPU Kota Cimahi melakukan penelusuran surat suara Pilpres 2024 yang tidak ada di tempat pemungutan suara (TPS) 60 yang berada di Kampung Cibodas RT 03/11, Kelurahan Utama, Kecamatan Cimahi Selatan.
Sejumlah warga RT 03/11, Kelurahan Utama, Kecamatan Cimahi Selatan kecewa lantaran hingga pukul 12.00 WIB siang belum bisa menyalurkan hak suaranya pada Pemilu 2024. Kondisi tersebut terjadi di TPS 60 surat suara Pilpres 2024 tidak ada dalam salah satu kotak logistik.
"Saat ini kami tengah melakukan penelusuran dan memastikan keberadaan surat suara Pilpres 2024 yang tidak ada dalam kotak logistik di TPS 60," kata Ketua KPU Kota Cimahi Anzhar Ishal Afryand saat ditemui di TPU 60, Rabu 14 Februari 2024.
Menurutnya, tindaklanjut penelusuran surat suara Pilpres 2024 bakal fokus dilakukan mengingat ada sejumlah tahapan yang harus dilaksanakan, seperti penghitungan suara.
"Saya rasa lebih kita fokuskan dan bereskan satu per satu dulu. Untuk TPS 60 dari hasil diskusi dengan Bawaslu Kota Cimahi kemungkinan kita tunda dulu proses pencoblosan dan pemungutan suaranya," tuturnya.
"Karena kita menunggu dulu hasil penelusurannya seperti apa. Setelah pasti, nanti kita lanjutkan," ucapnya.
Sesuai mekanisme, lanjut Anzhar, KPU dan Bawaslu Kota Cimahi nanti bakal melaksanakan Pemungutan Suara Lanjutan (PSL). Namun, untuk jangka waktunya tidak lebih dari 10 hari mulai dari sekarang.
"Intinya saat ini pencoblosan dan penghitungan suara di TPS 60 belum bisa dilaksanakan," ujarnya.
Disinggung terkait kondisi kotak yang berisi surat suara PPWP, Anzhar menyebut, kotak tersebut dalam keadaan tersegel. Namun, pihaknya juga bakal memastikan kronologis tidak adanya surat suara tersebut.
"Kalau dari gudang logistik sudah terpacking rapih karena memang proses packing surat suara Pilpres 2024 ini diakhir dan saya rasa sudah sesuai prosedur," ujarnya.
Tak hanya itu, mekanisme pendistribusian logistik pun dilakukan dari gudang logistik ke Kantor Kelurahan dan disimpan di sana selama dua hari dan didistribusikan ke TPS.
"Jumlah surat suara sudah sesuai dan kita akan cari tahu mis nya di mana. Kasus ini hanya di TPS 60. Ini kalau di kota/kabupaten lain ada juga," imbuhnya.
Terkait dengan pelaksanaan PSL, tambah Anzhar, sementara pihaknya bakal mengambil surat suara sisa cadangan yang tidak terpakai dan belum ditandatangani oleh KPPS dan lain sebagainya.
"Surat suara sisa itu yang nanti akan digunakan untuk PSL. Inventarisir akan dilakukan oleh teman-teman PPK dan PPS di masing-masing kecamatan dan kelurahan," ujarnya.
"Karena memang untuk surat suara Pilpres 2024 itu tidak ada wilayah atau cakupan dapil. Jadi surat suaranya bisa ambil dari lintas kecamatan jika tidak terpenuhi," tandasnya.
Sementara itu, salah seorang warga Kampung Cibodas RT 03/RW 11, Kelurahan Utama, Kecamatan Cimahi Selatan, Yadi (35) menilai kondisi Pemilu 2024 ini lumayan kacau dibandingkan dengan Pemilu 2019 silam. Menurutnya, TPS pada Pemilu 2019 memang tidak terlalu banyak. Namun, surat suaranya lengkap tidak seperti kali ini.
"Kalau Pemilu 20219 gak ada kekurangan. Kalau sekarang surat suara yang kita inginkan, yakni Presiden dan Wakil Presiden gak ada. Padahal, surat suara itu yang kita inginkan," ujarnya.
Tak hanya itu, Yadi juga mempertanyakan kinerja petugas KPPS dan penyelenggara Pemilu lainnya mengapa tidak melakukan pengecekan secara detil. Padahal, honor KPPS tahun ini lebih besar dari tahun sebelumnya.
"Kita anggap honor KPPS itu cukup tinggi. Artinya, harus tegak lurus dengan kinerja," ucapnya.
Selain itu, banyak warga lain yang bekerja sebagai karyawan dan mereka harus izin kerja sejak pagi hingga pukul 10.00 WIB. Namun, karena belum bisa mencoblos mereka terpaksa memilih.
"Karena batas waktu izinnya sudah habis. Mereka akhirnya lebih memilih bekerja," ucapnya. (agus satia negara)
Editor : Doni Ramdhani


