Tabela Genjot Produksi Padi

PERTANIAN modern mulai diterapkan Pemkot Tasikmalaya untuk meningkatkan produktivitas padi.

Tabela Genjot Produksi Padi
TABELA: Guna meningkatkan produktivitas padi, Pemerintahan Kota Tasikmalaya kini mulai menerapkan metode tanam benih langsung atau Tabela. Metode diterapkan di Kampung Ujungsari, Kelurahan Nagarasari, Kecamatan Cipedes.

Oleh: Nunung Nurohman

Metode tanam benih langsung (Tabela) sebagai bagian dari program Advanced Agriculture System (AAS) mulai diaplikasikan di lahan persawahan untuk meningkatkan hasil panen.

Penerapan metode pertanian modern tersebut mulai dilakukan Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian, dan Perikanan (DKP3) Kota Tasikmalaya di Kampung Ujungsari, Kelurahan Nagarasari, Kecamatan Cipedes, Rabu (12/8).

Wakil Wali Kota Tasikmalaya Diky Chandra mengatakan, penerapan Tabela merupakan bagian dari program pemerintah pusat yang sebelumnya telah disosialisasikan kepada sejumlah daerah.

Kota Tasikmalaya mendapat target penerapan metode tersebut pada lahan seluas 19 hektare. Namun, hingga kini realisasinya baru mencapai sekitar 8 hektare.

“Yang jelas ini merupakan program pusat, yang disosialisasikan kemarin di Subang. Memang diharuskan beberapa daerah melakukan program ini,” kata Diky.

Menurutnya, pelaksanaan program masih menghadapi kendala ketersediaan alat. Salah satunya drum seeder yang digunakan untuk menanam benih secara langsung.

Untuk sementara, alat tersebut dipinjam dari Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan). Di sisi lain, Diky menyebut terdapat petani milenial di Kota Tasikmalaya yang telah mengembangkan alat dengan konsep serupa.

Diky berharap penerapan metode tersebut tidak berhenti sebagai program tahunan, tetapi dapat terus dikembangkan untuk meningkatkan produktivitas pertanian di Kota Tasikmalaya.

“Harus maksimal. Mudah-mudahan ada agnia yang bisa membantu masyarakat secara luas di Kota Tasik agar bisa mencapai target,” ujarnya.

Dia menyebut, penerapan Tabela telah diarahkan ke sejumlah wilayah kecamatan. Mangkubumi dan Kawalu menjadi wilayah dengan penerapan yang cukup banyak sehingga diperkirakan membutuhkan lebih dari satu unit drum seeder.

Sementara itu, Kepala DKP3 Kota Tasikmalaya Ely Suminar menjelaskan Tabela merupakan sistem penanaman padi dengan cara menaburkan benih langsung ke lahan menggunakan drum seeder.

Metode tersebut membutuhkan jumlah benih yang lebih banyak dibandingkan pola tanam konvensional. Jika sebelumnya kebutuhan benih sekitar 35 kilogram per hektare, pada metode Tabela dapat mencapai sekitar 80 kilogram per hektare.

“Yang dibutuhkan itu populasi yang padat. Kalau dulu yang dibutuhkan itu pertumbuhan anakan. Tapi sekarang karena populasi padat, diharapkan produksinya lebih tinggi,” kata Ely.

Dari sisi waktu tanam, Ely mengatakan metode Tabela tidak berbeda jauh dengan penanaman padi secara konvensional. Perbedaan utamanya terletak pada pola tanam dan kepadatan populasi tanaman.

Kebutuhan pupuk juga meningkat. Penggunaan urea yang sebelumnya sekitar 250 kilogram per hektare menjadi 300 kilogram, sedangkan NPK dari 300 kilogram menjadi 400 kilogram per hektare.

Dengan penerapan sistem tersebut, produktivitas padi ditargetkan meningkat dari kisaran 6-7 ton menjadi sekitar 10 ton per hektare.

Ely mengatakan penerapan Tabela juga tidak dimaksudkan untuk mengubah pola pengairan maupun pola budidaya padi. Karena membutuhkan air yang cukup pada fase awal pertumbuhan, metode ini diprioritaskan pada lahan yang memiliki sumber air memadai.

Untuk menekan potensi serangan organisme pengganggu tanaman, benih terlebih dahulu direndam menggunakan pestisida. Selain itu, lahan juga diberikan perlakuan pestisida pratumbuh sebelum penanaman.

“Di Kota Tasik masih tahap awal tanam, tapi kalau menurut metode yang dilakukan oleh kementerian minimal menghasilkan 10 ton per hektare. Jargonnya 'Salam 10 Ton' dari Kementan,” pungkas Ely. (dnr) 


Editor : Inilahkoran