Hunian Mewah Area Lapas Cibinong: Gempar di Balik Pagar
OMBUDSMAN menyoroti hunian mewah di Lapas Cibinong. Fungsi dan fasilitasnya kini didalami.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
Oleh: Reza Zurifwan/Cesar Yudistira
Niat Fikri Yasin memasuki Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIA Cibinong, Rabu (23/9), bermula dari sebuah tugas yang sederhana. Ia ingin melihat sendiri bagaimana pelayanan pemasyarakatan berlangsung.
Namun, langkahnya hingga ke kawasan belakang lapas justru membawanya pada sesuatu yang kemudian menyisakan banyak pertanyaan. Di sana, berdiri bangunan-bangunan yang jauh dari bayangan tentang sebuah lapas.
Di balik pagar, berdiri rumah-rumah dengan bentuk yang lebih menyerupai hunian. Ada ruang tamu, kamar tidur, dapur, meja makan, televisi, kulkas hingga berbagai perlengkapan rumah tangga. Fikri menyebut fasilitas itu seperti hunian berstandar apartemen.
"Bagus, bagus sekali. Standar apartemen," kata Fikri saat menggambarkan apa yang dilihatnya.
Temuan itu bukan sekadar tentang sebuah kamar yang terlihat nyaman. Di dalam salah satu bangunan, Ombudsman menemukan seorang penghuni yang mengaku sebagai warga binaan. Penghuni lainnya disebut meninggalkan lokasi ketika mengetahui kedatangan tim Ombudsman.
Dari sebuah kulkas, ditemukan minuman beralkohol. Sejumlah botol minuman beralkohol juga disebut berada di tempat pembuangan sampah di kawasan tersebut. Di sekitar bangunan, ada pula fasilitas parkir dengan dua mobil mewah, gym, kolam, hingga simulator golf yang masih dibangun.
Bagi Fikri dan timnya, pemandangan itu melahirkan pertanyaan yang lebih jauh. Bagaimana warga binaan bisa tinggal di kawasan tersebut? Apa fungsi bangunan-bangunan itu? Dan apakah semua fasilitas tersebut memang bagian dari pembinaan?
Pertanyaan itu menjadi semakin penting karena kawasan tersebut berada di dalam lingkungan lembaga pemasyarakatan, tempat orang-orang menjalani masa pidana sekaligus mendapatkan pembinaan untuk kembali ke masyarakat.
Namun, apa yang dilihat Ombudsman ternyata memiliki cerita lain dari sisi pengelola lapas. Kepala Kanwil Ditjenpas Jawa Barat Yudi Suseno menjelaskan, kawasan yang didatangi Ombudsman bukanlah kompleks hunian rahasia. Kawasan itu, menurut dia, merupakan rumah dinas jabatan sekaligus Sarana Asimilasi dan Edukasi (SAE).
"Yang didatangi Ombudsman RI, sesuai Surat Keputusan adalah rumah dinas dan sarana asimilasi serta edukasi," kata Yudi, Kamis (24/9/2026).
Di kawasan tersebut terdapat rumah dinas kepala lapas dan sejumlah pejabat lainnya. Informasi yang dihimpun menyebut terdapat 13 kamar di kompleks rumah dinas tersebut.
Sementara rumah asimilasi digunakan oleh warga binaan yang sedang menjalani proses pembinaan dan bersiap kembali ke tengah masyarakat.
Direktur Jenderal Pemasyarakatan Irjen Pol Mashudi menjelaskan, kawasan itu memang menjadi bagian dari kegiatan pembinaan.
Warga binaan dapat mengikuti berbagai kegiatan, mulai dari budidaya magot, peternakan kambing, pertanian, perikanan hingga produksi air mineral. Setelah bekerja, mereka dapat beristirahat di rumah asimilasi.
"Semua dipekerjakan di situ, dan itu tempat transit, tempat istirahat, kalau capek habis bekerja beristirahat ada di situ," ujar Mashudi.
Karena itu, Mashudi menilai istilah "apartemen" yang digunakan untuk menggambarkan temuan tersebut perlu dilihat kembali berdasarkan fungsi bangunannya.
Menurut dia, setiap lapas dapat memiliki fasilitas asimilasi dengan bentuk yang berbeda, sesuai kegiatan pembinaan yang dikembangkan.
Perbedaan pandangan antara apa yang dilihat Ombudsman dan penjelasan Ditjenpas kemudian membawa persoalan ini ke tahap pemeriksaan.
Kanwil Ditjenpas Jawa Barat membentuk tim untuk mendalami temuan tersebut. Ditjenpas juga menerjunkan tim yang terdiri atas Kanwil Ditjenpas Jawa Barat, Direktur Kepatuhan Internal, Direktur Intelijen, dan Kalapas Cibinong.
Mereka turun langsung untuk melihat bangunan dan fasilitas yang menjadi sorotan. Yudi mengatakan pemeriksaan masih berlangsung.
"Untuk masalah Lapas Cibinong, sedang dalam pendalaman oleh tim, kita tunggu hasil pendalamannya," ujarnya.
Dia belum memastikan siapa saja yang akan diperiksa. Termasuk apakah kepala lapas dan Kepala Kesatuan Pengamanan Lembaga Pemasyarakatan turut dimintai keterangan. Identitas warga binaan yang disebut berada di kawasan tersebut juga belum diungkap.
"Kita tunggu hasil pendalaman supaya tidak sumir," katanya.
Menteri Koordinator Bidang Hukum, HAM, Imigrasi dan Pemasyarakatan Yusril Ihza Mahendra kemudian meminta persoalan tersebut dibuka secara terang. Media dipersilakan melihat langsung kawasan yang menjadi sumber perbedaan persepsi itu.
Apakah bangunan tersebut rumah pegawai? Sarana asimilasi dan edukasi? Atau benar-benar fasilitas khusus yang diberikan kepada warga binaan tertentu? Yusril meminta semuanya dijawab berdasarkan apa yang ditemukan di lapangan.
"Kalau ada, pastikan fasilitas apa itu," ujarnya.
Ombudsman sendiri tidak ingin persoalan berhenti pada Lapas Cibinong. Anggota Ombudsman RI Syafrida Rachmawati meminta Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan melakukan evaluasi menyeluruh, mulai dari regulasi, sarana dan prasarana, petugas, pelaksanaan tugas hingga pengawasan internal.
Sebab, bagi Ombudsman, persoalannya bukan hanya tentang siapa yang tidur di sebuah kamar atau fasilitas apa yang tersedia di dalamnya.
Ada pertanyaan tentang bagaimana sebuah lembaga pemasyarakatan memastikan semua warga binaan diperlakukan sesuai aturan.
Ada pula pertanyaan tentang bagaimana ruang pembinaan tetap menjadi ruang pembinaan, bukan berubah menjadi tempat yang hanya bisa dinikmati sebagian orang.
Ketua DPR RI Puan Maharani bahkan meminta pembenahan tata kelola pemasyarakatan dilakukan secara mendasar apabila nantinya ditemukan adanya fasilitas istimewa tanpa dasar yang dapat dipertanggungjawabkan.
Di tengah semua pertanyaan itu, nama Ferdy Sambo sempat ikut disebut. Namun, Kanwil Ditjenpas Jawa Barat menyatakan belum menemukan informasi yang menunjukkan mantan Kadiv Propam Polri itu menikmati fasilitas khusus.
Yudi mengatakan Ferdy Sambo masih berada di dalam blok dan menempati kamar dengan fasilitas yang sama seperti warga binaan lainnya. "Sampai detik ini tidak ada informasi dan temuan hasil tim itu mengarah ke sana," kata Yudi. (ant/gin)
Editor : Inilahkoran

