Tak Satu pun Siswa SMPN 3 Ciwidey Diterima SMAN 1 Ciwidey, Orang Tua Kecewa

Sembilan orang siswa SMPN 3 Ciwidey harus menelan kekecewaan. Pasalnya, tak satu pun siswa SMPN 3 Ciwidey diterima SMAN 1 Ciwidey melalui jalur nilai rapor. 

Tak Satu pun Siswa SMPN 3 Ciwidey Diterima SMAN 1 Ciwidey, Orang Tua Kecewa
Eep (45) salah satu orang tua siswa mengatakan, pihak SMAN 1 Ciwidey tak meluluskan kesembilan orang calon siswa itu tanpa alasan jelas kenapa tak satu pun siswa SMPN 3 Ciwidey diterima SMAN 1 Ciwidey. Sementara, sekolah justru menerima calon siswa dari luar Kabupaten Bandung. (ilustrasi/net)

INILAHKORAN, Soreang - Sembilan orang siswa SMPN 3 Ciwidey harus menelan kekecewaan. Pasalnya, tak satu pun siswa SMPN 3 Ciwidey diterima SMAN 1 Ciwidey melalui jalur nilai rapor. 

Eep (45) salah satu orang tua siswa mengatakan, pihak SMAN 1 Ciwidey tak meluluskan kesembilan orang calon siswa itu tanpa alasan jelas kenapa tak satu pun siswa SMPN 3 Ciwidey diterima SMAN 1 Ciwidey. Sementara, sekolah justru menerima calon siswa dari luar Kabupaten Bandung.

"Dari SMPN 3 Ciwidey itu yang daftar melalui jalur nilai rapor ada 9 orang. Anehnya, tak satu pun siswa SMPN 3 Ciwidey diterima SMAN 1 Ciwidey. Padahal mereka ini anak-anak dengan rangking yang bagus, termasuk anak saya itu rangking 2 di SMPN 3 Ciwidey," kata Eep, warga Kampung Malingping Desa Rawabogo Kecamatan Ciwidey Kabupaten Bandung, Jumat 23 Juni 2023.

Saat tak satu pun siswa SMPN 3 Ciwidey diterima SMAN 1 Ciwidey, dia justru terheran-heran tak sedikit calon siswa dari luar daerah banyak yang diterima di SMAN 1 Ciwidey melalui jalur nilai rapor. 

Daftar itu tercantum dalam situs resmi Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) SMAN 1 Ciwidey. Terdapat nama-nama calon siswa asal luar Kabupaten Bandung. Di antaranya dari Tasikmalaya, Cidaun Cianjur, Kota Bandung, dan Kabupaten Bandung Barat. 

"Selain dari luar daerah, yang aneh dan janggal, ada salah satu SMP swasta di Ciwidey. Hampir semua siswa yang daftar ke SMAN 1 Ciwidey diterima di sana, ini kan semakin aneh saja. Masa anak-anak kami dari SMPN 3 Ciwidey yang hanya 9 orang pendaftar itu tak satu orang pun diterima," ujarnya. 

Selain kecewa dan menyayangkan kebijakan panitia PPDB di SMAN 1 Ciwidey, kata Eep, para orang tua juga mempertanyakan keseriusan dan koordinasi antara pihak SMPN 3 Ciwidey dengan pihak SMAN 1 Ciwidey. Karena gara-gara mempercayakan pendaftaran kolektif melalui sekolah, anak-anak mereka justru tak diterima di SMAN 1 Ciwidey.

"Harusnya pihak SMPN 3 Ciwidey juga malu dengan kejadian ini. Ini menunjukan kegagalan mereka, kalau seandainya nilai rapor anak-anak kami dianggap dibawah standar pihak SMAN 1 Ciwidey. Tapi sayangnya pihak SMPN 3 Ciwidey juga enggak bisa berbuat apa-apa, cuma bilang ke anak-anak agar bersabar saja, ini kan memalukan," ujarnya.

Dengan kejadian ini, ia khawatir dengan psikologis anak-anak dari SMPN 3 Ciwidey ini. Karena, sebelumnya mereka punya harapan besar bisa diterima di SMAN 1 Ciwidey, tapi ternyata gagal. 

Padahal, 9 orang calon siswa ini merupakan anak-anak berprestasi akademik yang bagus di sekolah asal mereka di SMPN 3 Ciwidey yang berlokasi di Desa Rawabogo itu.

"Saya kasihan sama anak saya, dia sudah semangat, percaya diri dan gembira mau sekolah di SMAN 1 Ciwidey. Tapi eh malah ditolak tanpa ada penjelasan apa-apa dan malah menyisakan berbagai kejanggalan," katanya.

Hingga saat ini, Eep mengaku belum mengambil keputusan akan menyekolahkan anaknya itu dimana. Harapannya, pihak SMAN 1 Ciwidey bisa mempertimbangkan kembali keputusannya dalam PPDB jalur nilai rapor ini.

"Kalau jalur nilai rapor itu sudah keluar pengumuman kelulusannnya. Nah kalau jalur zonasi baru akan dibuka, tapi kan walaupun kami masih satu kecamatan tapi tidak masuk zonasi. Tapi saya akan terus berjuang mempertanyakan keputusan panitia PPDB yang tidak adil itu," ujarnya.*** (rd dani r nugraha)


Editor : Doni Ramdhani