Tatapan Kosong Wito di Cicadas, Lapak Napas Hidupnya Bakal Dibongkar yang Berkuasa
Di antara keramaian penertiban PKL Cicadas, seorang pria renta hanya berdiri diam. Tak ada amarah. Tak pula suara protes. Wito (85) hanya menatap kosong.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID - Senin (18/5/2026) sore, hiruk pikuk terjadi Jalan Cicadas, Kota Bandung.
Sejak dari kawasan Pusdai, Jalan Supratman menuju Jalan Cicadas kemacetan telah mengular. Puluhan lapak milik pedagang kaki lima (PKL) telah dibongkar.
Alat berat perlahan meruntuhkan kios lapak milik PKL di Cicadas, di tengah pedagang yang sibuk membereskan barang, sebagian lain memilih bertahan sambil bernegosiasi.
Di antara keramaian itu, seorang pria renta hanya berdiri diam. Tak ada amarah. Tak pula suara protes. Dengan tubuh yang mulai membungkuk dimakan usia, Wito (85) sekadar menatap kosong ke arah lapak sederhana miliknya, tempat yang selama puluhan tahun menjadi saksi perjuangan hidupnya.
Gerobak mi goreng dan nasi goreng itu bukan sekadar tempat mencari nafkah. Bagi Wito, lapak kecil di kawasan Cicadas adalah penyangga hidup terakhir yang tersisa.
Namun, waktu bagi lapak itu tampaknya tinggal menghitung hari. Selasa (19/5/2026) besok, lapaknya harus dibongkar sebagai bagian dari penataan kawasan untuk mendukung pembangunan Bus Rapid Transit (BRT) Bandung Raya.
Pemerintahan Provinsi Jawa Barat bersama Pemerintahan Kota Bandung mulai melakukan penertiban terhadap ratusan PKL di Cicadas. Hari pertama pembongkaran telah berlangsung, sementara kelanjutan penertiban dijadwalkan pada Selasa (19/5/2026). Nama Wito masuk dalam daftar mereka yang harus pergi.
Padahal, sehari sebelumnya, lelaki lanjut usia itu baru mengeluarkan modal untuk berjualan seperti biasa, seolah hidup masih akan berjalan sebagaimana puluhan tahun terakhir.
”Sudah belanja, modalnya Rp2 juta,” ujar Wito pelan.
Kalimat singkat itu terasa lebih berat dari sekadar angka. Di usia senja, Rp2 juta bukan hanya modal dagang, melainkan harapan untuk tetap bisa makan, bertahan, dan menjalani hari-hari seorang diri.
Wito bukan pedagang baru di Cicadas. Dia sudah berjualan sejak 1970. Lebih dari setengah abad, aroma mi goreng dan nasi goreng dari lapaknya menjadi bagian dari denyut malam kawasan tersebut.
Setiap sore menjelang petang, sekitar pukul 16.00 WIB, Wito mulai membuka dagangan. Hingga pukul 22.00 WIB, ia melayani pembeli, mengandalkan tangan renta yang tetap bekerja demi memenuhi kebutuhan hidup.
Kini semuanya berada di ujung ketidakpastian. Kehidupan Wito memang sudah lama tak mudah. Dia tinggal seorang diri setelah istrinya meninggal dunia. Tak ada anak yang menemani masa tua. Tak ada tempat bergantung selain penghasilan dari lapak kecil yang kini terancam hilang.
Saat warga lain dan para pedagang sibuk menyampaikan keberatan kepada petugas, Wito lebih banyak diam. Tatapannya hanya tertuju pada peralatan dagang dan bahan makanan yang belum sempat diolah.
Di lokasi, suasana sempat memanas. Puluhan personel Satpol PP berjaga, sementara alat berat terus bekerja melakukan pembongkaran. Namun, pemandangan Wito yang sendirian membuat sebagian warga ikut tersentuh.
Beberapa warga meminta agar pedagang lansia itu tetap diberi ruang untuk berjualan, atau setidaknya pembongkaran ditunda sementara.
Bagi mereka, persoalannya bukan sekadar penataan kota. Ada kehidupan yang bergantung di balik setiap lapak.
Di sisi lain, para pedagang mempertanyakan proses penertiban yang dinilai mendadak. Salah seorang PKL, Herman, mengaku tidak menerima pemberitahuan resmi sebelum pembongkaran dilakukan.
“Enggak tahu. Enggak ada pemberitahuan terkait pembongkaran,” ujar Herman.
Menurutnya, para pedagang telah lama menempati trotoar Cicadas dengan dasar izin lama yang mereka yakini pernah diberikan pemerintah.
“Tapi ini diizinkan. Ini dari DPRD tahun 2002. Dulu itu dasar jualan di sini,” katanya.
Merasa prosesnya tidak jelas, para pedagang bahkan berencana menempuh jalur hukum atas penertiban tersebut.
Sementara itu, Kepala Satpol PP Jabar Tulus Arifian menyebut berdasarkan informasi dari Pemkot Bandung, pemberitahuan sebenarnya telah disampaikan kepada para pedagang. Namun, ia mengakui kemungkinan ada informasi yang tidak tersampaikan secara menyeluruh.
“Hari ini mungkin masih ada beberapa yang barang-barangnya masih ada, jadi barang-barang yang ada nanti akan mereka simpan. Jadi mereka minta waktu satu hari ini karena memang tadi rupanya ada yang sudah siap-siap berdagang,” ujar Tulus.
Menurut Tulus, pembongkaran hari pertama baru menyasar sekitar 20 hingga 30 kios PKL dan akan kembali dilanjutkan esok hari.
Negosiasi antara petugas dan pedagang akhirnya menghasilkan jeda. Pembongkaran dihentikan sementara. Para pedagang diberi waktu satu hari untuk membereskan barang dagangan mereka.
Namun bagi Wito, tambahan satu hari itu mungkin tak banyak mengubah keadaan.
Besok, lapak yang telah menemaninya sejak 1970 bisa saja benar-benar hilang. Bersamanya, lenyap pula rutinitas yang selama puluhan tahun menjaga seorang lelaki tua tetap bertahan hidup di tengah kerasnya kota.
Di sudut Cicadas, Wito masih berdiri dengan tatapan kosong, tanpa banyak bicara. Seolah mencoba memahami bagaimana masa tua yang telah begitu sunyi, kini harus kembali kehilangan satu-satunya tempat bergantung.
Editor : Doni Ramdhani

