Taufik Hidayat Ultimatum Pelatih Pelatnas: Jangan Hanya Kejar Ranking, Rakyat Mau Juara!
Wakil Ketua Umum PP PBSI, Taufik Hidayat, melontarkan kritik keras kepada jajaran pelatih pelatnas bulu tangkis Indonesia. Ia menegaskan bahwa fokus para pelatih tak boleh hanya sebatas mengejar peringkat dunia, namun harus mampu membawa pulang prestasi nyata berupa gelar juara.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN, Bandung – Wakil Ketua Umum PP PBSI, Taufik Hidayat, melontarkan kritik keras kepada jajaran Pelatih Pelatnas bulu tangkis Indonesia. Ia menegaskan bahwa fokus para pelatih tak boleh hanya sebatas mengejar peringkat dunia, namun harus mampu membawa pulang prestasi nyata berupa gelar Juara.
“Evaluasi kemarin lebih ke pelatih, ke atletnya belum. Saya sudah ultimatum juga. Sudah enam bulan lebih, jangan hanya kejar Ranking, masyarakat inginnya Juara. Juara itu cuma satu, tidak ada Juara dua,” ujar Taufik di Kantor Kementerian Pemuda dan Olahraga, Jakarta, seperti dikutip dari ANTARA.
Legenda bulu tangkis tunggal putra itu menegaskan bahwa PBSI telah memberi waktu cukup sejak awal tahun 2025 untuk para pelatih membuktikan kinerjanya. Namun hingga pertengahan musim, hasil yang diharapkan belum terlihat signifikan, terutama di sektor-sektor strategis.
“Kami lihat dari Januari sampai sekarang, kalau tidak memenuhi target, kami buka lagi rekam jejaknya. Kalau tidak ada prestasi, buat apa dipertahankan,” ujarnya tegas.
PBSI kini menerapkan sistem evaluasi bertingkat terhadap pelatih, mulai dari Surat Peringatan 1 (SP1) hingga SP3, berdasarkan pencapaian target masing-masing sektor. Taufik menekankan bahwa kenyamanan pelatih bukan prioritas, sebab prestasi menjadi indikator utama.
“Pelatih juga jangan enak-enakan. Semua ada ukurannya, targetnya masing-masing, dan tidak bisa disamakan. Kita lihat siapa yang dilatih, apa janjinya, dan sudah sampai mana,” sambungnya.
Tak hanya soal teknik, Taufik juga menyoroti pentingnya peran pelatih dalam membangun relasi yang kuat dengan para atlet. Ia menyebut pelatih ideal harus bisa menjadi sosok yang fleksibel — mulai dari pelatih, kakak, orang tua, hingga psikolog bagi para atletnya.
“Pelatih harus bisa menyesuaikan. Tidak bisa satu pemain satu pelatih. Harus bisa jadi kakak, orang tua, bahkan psikolog. Kalau semua merasa tidak cocok, ya susah,” katanya.
Taufik juga memastikan bahwa proses evaluasi dilakukan secara objektif oleh Bidang Pembinaan dan Prestasi (Binpres) PBSI, dan menyerukan agar promosi-degradasi pelatih bisa kembali diterapkan secara berkala.
“Sudah saya minta ke Binpres untuk sampaikan ke pelatih masing-masing. Jangan sampai pelatih merasa nyaman terus, sementara hasilnya minim. Kita ingin yang terbaik,” ucap Taufik.
Hingga pertengahan tahun 2025, pelatnas bulu tangkis Indonesia baru mencatat dua gelar Juara — dari sektor ganda putri lewat pasangan Lanny Tria Mayasari/Siti Fadia Silva Ramadhanti di Thailand Masters (Super 300), serta dari ganda campuran Afar Hidayatullah/Felisha Alberta Nathaniel Pasaribu di Taiwan Open (Super 300).
Namun, di turnamen-turnamen elite seperti Super 500, Super 750, dan Super 1000, para atlet Indonesia masih kesulitan menunjukkan konsistensi dan daya saing.***
Editor : Yosep Saepul Ramadan


