Tebus Janji pada Abah, Cerita Dede Desih Sagitarinah Mengabdi dengan Cinta Selama 21 Tahun di SMPN 2 Sindangkerta 

Dibalik tembok SMPN 2 Sindangkerta yang kini berdiri gagah dengan akreditasi A, tersimpan cerita panjang seorang wanita yang mengukir dedikasi di atas tanah yang pernah dihibahkan oleh ayahnya. 

Tebus Janji pada Abah, Cerita Dede Desih Sagitarinah Mengabdi dengan Cinta Selama 21 Tahun di SMPN 2 Sindangkerta 
Dibalik tembok SMPN 2 Sindangkerta yang kini berdiri gagah dengan akreditasi A, tersimpan cerita panjang seorang wanita yang mengukir dedikasi di atas tanah yang pernah dihibahkan oleh ayahnya. 

INILAHKORAN.ID - Dibalik tembok SMPN 2 Sindangkerta yang kini berdiri gagah dengan akreditasi A, tersimpan cerita panjang seorang wanita yang mengukir dedikasi di atas tanah yang pernah dihibahkan oleh ayahnya. 

Dede Desih Sagitarinah (56), yang baru saja diangkat sebagai PPPK paruh waktu setelah 21 tahun mengabdi sebagai tenaga honorer, menyimpan cerita yang tak hanya tentang perjuangan pribadi, melainkan juga ikatan darah yang menghubungkannya erat dengan sekolah yang kini menjadi rumah kedua.
 
Kisahnya tak lepas dari sosok almarhum Abah H. Aceng Endang, seorang warga biasa yang menjadi perintis pendirian SMPN 2 Sindangkerta tahun 1994. 

Beliau bahkan menghibahkan sebagian tanah miliknya untuk kemajuan sekolah, dengan satu keinginan dalam hati, yakni melihat anak atau cucunya menjadi bagian dari lembaga yang dicintainya itu.
 
"Saya masih terngiang pesan Abah setiap hari. Setelah puluhan tahun hanya sebagai honorer, akhirnya saya bisa katakan bahwa keinginan Abah telah terwujud. Semoga amalnya menjadi ladang pahala yang mengalir tanpa henti," ungkap Dede, Selasa 20 Januari 2025.
 
Perjalanan menuju titik ini tak mulus, sebab lulusan SPG tahun 1988 ini pernah berkali-kali mengikuti seleksi CPNS namun tidak berhasil. Hingga tahun 2005, ketika sudah memiliki tiga anak, beliau diperkenankan menjadi tenaga honorer oleh Kepala Sekolah kala itu, H. Drs. Muhtar, yang juga merupakan saudara keluarga.
 
Seiring berjalannya waktu, Desih menyaksikan transformasi luar biasa SMPN 2 Sindangkerta. Dari awal berdiri yang masih "menempel" pada SD dengan satu kelas saja, hingga kini memiliki 13 rombongan belajar, fasilitas yang semakin memadai mulai dari kursi yang nyaman hingga perangkat teknologi seperti Chromebook, tablet, dan Wi-Fi.
 
"Alhamdulillah, sekolah yang jauh dari keramaian kota ini telah melahirkan banyak anak berprestasi," ujarnya dengan bangga. Bahkan beberapa alumni yang pernah dia jaga kini menjadi PNS dan berkarya di sekolah yang sama, seperti Pak Ade Hanif.
 
Di antara banyak kesan selama mengabdi sebagai pustakawan, satu kisah mengakar dalam hati Desih, yakni perubahan seorang siswa bernama AR. Anak yang dulu kerap menyendiri, bahkan sering menyakiti teman dengan ceker ayam mentah, ternyata menyimpan cerita dalam dirinya.
 
Saat AR masuk perpustakaan, Desih mendekatinya dengan lembut, tanpa menyalahkan atau menuntut. Ia hanya menanyakan hobi anak itu dan menyediakan kertas untuk menggambar. 

Hasilnya, tiga gambar yang mengungkapkan seluruh cerita, dimana sosok ibu yang tampak marah, nenek yang selalu memberikan uang, dan dirinya sendiri yang menangis sambil marah.
 
"Dari gambar itu saya tahu, dia yatim dan ibunya bekerja di kota. Saya jelaskan bahwa kemarahan ibunya adalah bentuk kasih sayang yang tak bisa diungkapkan dengan baik. Akhirnya, anak itu berubah drastis dan bahkan meraih ranking pertama kelasnya," ujarnya.
 
Perjalanan sebagai honorer penuh dengan tantangan. Mulai dari honor awal hanya lima puluh ribu rupiah, hingga naik bertahap menjadi satu juta rupiah sebelum diangkat PPPK. 

Bahkan pada tahun 2024, Desih sempat merasa kecewa berat ketika tidak lolos seleksi PPPK, namun ia tidak pernah berpikir untuk menyerah atau berpindah profesi.
 
"Setiap langkah dari rumah ke sekolah adalah ibadah bagi saya. Meskipun saya hanya menjelang dua tahun pensiun, saya punya visi 'Cemerlang', Cerdas, Pemersatu yang akan mencapai Kegemilangan untuk menjalankan tugas dengan lebih baik," paparnya.
 
Pesan untuk Generasi Muda dan Harapan untuk Pendidikan
 
Bagi rekan muda yang baru memulai karier, Desih hanya berpesan untuk tetap semangat menghadapi segala rintangan. Sedangkan untuk perkembangan pendidikan di Kabupaten Bandung Barat, ia berharap agar ilmu pengetahuan dan keagamaan tumbuh seiringnya.
 
"Jaga kekeluargaan dalam wadah pendidikan. Tidak ada beda antara siapa saja, karena kebersamaan adalah kunci untuk melahirkan generasi bangsa yang cemerlang," ujarnya.
 
Dengan penuh rasa syukur, Desih kini menjalankan tugas sebagai PPPK paruh waktu, dengan harapan bisa menjadi ASN penuh waktu sebelum pensiun. ***


Editor : JakaPermana