Terminal Sumber Kian Sepi, Sopir Angkot Mengeluh
Kondisi Terminal Sumber yang semakin sepi dikeluhkan para sopir termasuk pengemudi angkot tang mengaku susah mencari penumpang
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID – Kondisi transportasi umum di Terminal Sumber Tipe B, Kabupaten Cirebon, semakin memprihatinkan. Minimnya jumlah penumpang membuat banyak sopir angkot dan bus kesulitan bertahan di tengah tekanan ekonomi. Bahkan, sebagian armada terpaksa berhenti beroperasi akibat kerusakan dan rendahnya pemasukan.
Pelaksana Harian (PLH) Koordinator Terminal Sumber Tipe B, Kadira, mengatakan Terminal Sumber berada di bawah pengelolaan UPTD Wilayah IV Dinas Perhubungan Provinsi Jawa Barat. Dinas ini membawahi empat terminal, yakni Terminal Sumber, Indramayu, Ciledug, dan Losari.
Menurut Kadira, kendaraan yang masuk ke Terminal Sumber didominasi angkutan dalam provinsi seperti bus CBU dan angkutan kota GS. Namun saat ini, para pengemudi mengeluhkan penurunan drastis jumlah penumpang.
“Ramainya itu paling saat jam anak sekolah berangkat dan penumpang pasar malam hari,” ujar Kadira Selasa (19/5/2026).
Dia menjelaskan, penurunan aktivitas transportasi umum sebenarnya sudah terjadi sejak sebelum pandemi Covid-19. Kondisi itu diperparah dengan meningkatnya penggunaan kendaraan pribadi di masyarakat.
“Sebelum corona juga jumlah unit sudah berkurang karena penumpang sepi. Sekarang masyarakat kebanyakan sudah punya kendaraan pribadi,” jelasnya.
Kadira mengungkapkan, saat ini kendaraan yang masih aktif masuk ke Terminal Sumber diperkirakan hanya sekitar 45 unit. Meski retribusi terminal sudah dihapus, para sopir tetap kesulitan memenuhi kebutuhan operasional harian.
“angkot GS yang sering masuk sekitar 30 sampai 40 unit. Banyak sopir mengeluh untuk beli BBM saja susah karena sepi penumpang,” ungkapnya.
Di sisi lain lanjutnya, Dinas Perhubungan Provinsi Jawa Barat memastikan hingga kini belum ada pembahasan terkait kenaikan tarif angkutan umum. Pihak Dishub Jabar pun mengajak masyarakat kembali menggunakan transportasi umum untuk membantu keberlangsungan sektor angkutan sekaligus mengurangi kemacetan.
Sementara itu, Pengurus Bus CBU, Andi, menyebut jumlah armada bus yang beroperasi juga terus menyusut. Dari sebelumnya mencapai 20 unit, kini tersisa sekitar 16 unit yang masih aktif melayani penumpang.
“Pengurangan armada karena kendaraan rusak dan penumpang minim. Paling banyak memang karena mobil rusak,” kata Andi.
Dia menilai, kondisi tersebut menjadi tantangan berat bagi operator transportasi umum di daerah. Selain harus bersaing dengan kendaraan pribadi, biaya operasional juga terus meningkat sementara pendapatan menurun.
Editor : Ahmad Sayuti

