Tinjau Hari Terakhir Pendaftaran SPMB Sekolah Maung, Aduan Didominasi Gangguan SIstem

Anggota Komisi V DPRD Jabar Zaini Shofari meninjau hari terakhir pelaksanaan pendaftaran SPMB Sekolah Maung di SMAN 3 dan SMAN 5 Kota Bandung.

Tinjau Hari Terakhir Pendaftaran SPMB Sekolah Maung, Aduan Didominasi Gangguan SIstem
Anggota Komisi V DPRD Jabar Zaini Shofari meninjau hari terakhir pelaksanaan pendaftaran SPMB Sekolah Maung di SMAN 3 dan SMAN 5 Kota Bandung. (yuliantono)

INILAHKORAN.ID - Anggota Komisi V DPRD Jabar Zaini Shofari meninjau hari terakhir pelaksanaan pendaftaran Seleksi Penerimaan Murid Baru (SPMB) Sekolah Maung di SMAN 3 dan SMAN 5 Kota Bandung.

Dalam peninjauan tersebut, dilaporkan ribuan siswa mendaftar ke SMAN 3 dan SMAN 5 Bandung dengan mayoritas melalui jalur prestasi akademik.

Sejak Senin hingga Jumat ini, laporan masalah paling banyak mengenai gangguan sistem dari situs resmi SPMB 2026 yang dialami oleh sekolah.

Menyikapi hal itu, Zaini menyebut kendala teknis tersebut harus menjadi bahan evaluasi bagi Dinas Pendidikan (Disdik) Jawa Barat.

“Karena mungkin ini baru, aplikasinya dirancang terburu-buru sehingga tadi dari panitia disampaikan kalau aplikasinya, ada beberapa kendala yang memang ini bisa mengganggu proses yang berjalan,” ujar Zaini usai kunjungan, Jumat (29/5/2026).

Meski demikian, dia menilai situasi tersebut relatif lebih baik ketimbang tahun lalu. Sebab, kala itu server SPMB sempat down akibat tingginya animo siswa yang mendaftar.

“Tentunya kalau kita mengurai tahun lalu juga, itu server mati ya. Dulu satu hari setengah hari itu pernah mati. Nah ini kan, ini tidak mati, tapi aplikasinya,” ucapnya.

Komisi V DPRD Jabar, lanjut Zaini, akan memanggil Disdik guna memastikan seluruh tahapan seleksi berjalan transparan hingga pengumuman pada 8 Juni nanti. Pengawasan dilakukan, supaya proses penerimaan tidak menimbulkan persoalan baru di masyarakat.

“Tentu kita nanti akan memanggil Disdik untuk kurun waktu sampai pengumuman, tanggal 8 Juni. Kita ingin menyaksikan juga secara langsung yang terjadi di lapangan,” katanya.

Zaini memastikan, setiap anggota Komisi V akan menghimpun laporan dari daerah pemilihan masing-masing terkait pelaksanaan Sekolah Maung, mengingat program ini dibuka juga di 27 kabupaten/kota. Evaluasi kata dia penting dilakukan, untuk memastikan sistem pendidikan di Jabar berjalan baik.

“Mungkin nanti juga tiap anggota khususnya di Komisi V punya laporan dari masing-masing dapilnya, ataupun tempatnya, siapapun lah masyarakat Jawa Barat yang concern ataupun terkait dengan Sekolah Maung ini,” ucapnya.

Secara umum, Zaini menilai konsep Sekolah Maung memiliki tantangan besar ketika diterapkan secara luas di seluruh Jawa Barat. Ia menyoroti penggunaan standar IQ 130 yang dinilai lebih mudah diterapkan di sekolah unggulan seperti SMAN 3 dan SMAN 5 Bandung.

“Kalau menggunakan rata-rata IQ 130 kan masyhur ya. Kalau ngomong SMAN 3 ataupun SMAN 5, mereka memang sudah terbiasa dengan siswa-siswa yang berprestasi,” jelas Zaini.

Namun, menurut dia, kesiapan sekolah di daerah lain belum tentu sama sehingga implementasi program perlu dilakukan secara cermat. Ia mengingatkan agar percepatan kebijakan tidak menimbulkan persoalan teknis di tingkat pelaksana.

“Kami memahami betul, misalnya kultur birokrasi yang ada, mau tidak mau ketika gubernur menginginkan, ya ASN pasti bakal mengikuti, lepas apapun kondisinya, sehingga terjemahannya kadang-kadang menjadi tidak pas di tingkatan level bawah di pelaksanaannya,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Sekolah SMAN 3 Bandung Solihin mengungkapkan dari sekitar 1.000 pendaftar itu 800 di antaranya melalui jalur prestasi akademik.

“Secara umum ini udah di atas 1.000 ya, di atas 1.000 pendaftar dengan mayoritas pendaftar paling banyak ada di jalur prestasi rapor. Itu hampir 800, 750 lebih,” ungkapnya.

Dia menjelaskan, jalur prestasi non-akademik juga cukup diminati lantaran memiliki banyak kategori penilaian. Bidang olahraga disebut menjadi kategori yang paling dominan dalam jalur tersebut.

“Non-akademik ini lebih kepada olahraga ya. Mungkin kayak olahraga karena kan mungkin variasinya banyak ya. Olahraga juga ada FLS2N, kemudian juga tahfidz, kemudian juga ada jalur kepemimpinan kayak ketua OSIS dan Pratama,” katanya.

Solihin mengungkapkan, SMAN 3 Bandung tahun ini menyediakan kuota sebanyak 320 siswa yang terbagi dalam 10 kelas. Setiap rombongan belajar (rombel) nantinya akan diisi 32 siswa.

Dia mengatakan, proses seleksi dilakukan menggunakan sistem peringkat sesuai kuota pada masing-masing jalur. Peserta yang nilainya berada di bawah batas kuota otomatis tidak lolos pada tahap seleksi.

“Kita urutkan dari yang terbesar sampai dengan yang terkecil, berarti kalau di atas 160 ya berarti tidak terseleksi,” ucap Solihin.

Sedangkan jalur non-akademik, kata dia, penilaian dilakukan berdasarkan bobot prestasi dan nilai rapor. Sertifikat prestasi tingkat provinsi hingga internasional memiliki nilai tersendiri dalam proses seleksi.

“Itu ada tabelnya, mulai dari internasional untuk yang Maung ini minimal provinsi. Jadi enggak bisa tingkat kabupaten/kota,” terangnya.

Dia menambahkan bobot penilaian jalur non-akademik terdiri atas 60 persen nilai sertifikat prestasi dan 40 persen nilai rapor. Setelah seluruh komponen dihitung, peserta tetap akan diranking sesuai kuota tersedia.

“Dan itu bobotnya 60 persen. Ditambah dengan 40 persen dari nilai rapor,” kata dia.

Pengumuman hasil seleksi Sekolah Maung dijadwalkan berlangsung pada 8 Juni mendatang. Solihin menyebut kendala utama selama proses berlangsung lebih banyak terjadi pada sisi aplikasi.

“Kalau kendala lebih pada ke teknis ya, mungkin ke aplikasi yang memang sering ada kendala,” ucapnya.

Dia menjelaskan, hambatan yang muncul antara lain aplikasi lambat diakses hingga data tidak dapat dibuka saat proses verifikasi berlangsung. Kondisi tersebut disebut cukup mengganggu pekerjaan panitia di lapangan.


Editor : Doni Ramdhani