Tunjangan Kelangkaan Dokter Spesialis RSUD Arjawinangun Mandek, Ini Kata Dirut

Persoalan administrasi jadi kendala pencairan tunjangan kelangkaan puluhan dokter di RSUD Arjawinangun Cirebon

Tunjangan Kelangkaan Dokter Spesialis RSUD Arjawinangun Mandek, Ini Kata Dirut
Direktur RSUD Arjawinangun dr Bambang Sumardi mengungkapkan, tunjangan kelangkaan puluhan dokter spesialis di RSUD Arjawinangun belum dibayarkan sejak Januari 2026.

INILAHKORAN.ID - tunjangan kelangkaan puluhan dokter spesialis di RSUD Arjawinangun, Kabupaten Cirebon, belum dibayarkan sejak Januari 2026. Hal itu diakui Direktur RSUD Arjawinangun dr Bambang Sumardi, Rabu (8/7/2026).

Bambang menyebut, keterlambatan tersebut disebabkan persoalan administrasi, mulai dari perpindahan alokasi anggaran hingga belum terbitnya Peraturan Bupati (Perbup) yang menjadi dasar hukum pencairan.

"Perkiraannya baru bisa diproses sekitar Oktober nanti. Selain itu, pencairannya juga harus didasarkan pada Peraturan Bupati. Sampai hari ini Perbup-nya belum selesai, ditambah posisi Kabag Hukum masih kosong," ujar Bambang.

Dia menjelaskan, anggaran tunjangan kelangkaan tersebut semula berada di Dinas Kesehatan Kabupaten Cirebon. Namun alokasinya dikembalikan ke RSUD Arjawinangun sehingga pencairannya baru dapat dilakukan melalui APBD Perubahan.

"Anggaran tunjangan kelangkaan semula ada di Dinas Kesehatan, lalu dikembalikan ke RSUD sehingga pencairannya baru bisa lewat APBD Perubahan," jelasnya.

Bambang menyebut, total anggaran tunjangan kelangkaan tahun ini mencapai sekitar Rp2 miliar untuk 38 dokter spesialis. Namun nilainya turun dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai Rp3,2 miliar. Penurunan itu, kata Bambang, disesuaikan dengan kemampuan fiskal daerah. Sementara besaran tunjangan tetap mengacu pada Perbup.

Akibatnya, besaran tunjangan yang akan diterima tiap dokter spesialis tahun ini berkisar Rp4 juta, turun signifikan dibandingkan tahun lalu yang mencapai sekitar Rp7,5 juta untuk dokter spesialis non-ASN, sedangkan dokter ASN menerima di bawah nominal tersebut.

Sebagai perbandingan, Bambang menyebut sejumlah rumah sakit daerah di kota lain mampu memberikan tunjangan jauh lebih tinggi, seperti di Semarang yang bisa mencapai Rp20 juta per dokter spesialis.

Kondisi ini dikhawatirkan memicu dokter spesialis memilih pindah ke rumah sakit swasta yang menawarkan kesejahteraan lebih baik, apalagi RSUD Arjawinangun saat ini dikelilingi belasan rumah sakit swasta.

"Yang kami khawatirkan kalau dokter spesialis ramai-ramai pindah ke swasta. Bagaimana kelangsungan rumah sakit ini nantinya," ungkapnya.

Meski demikian, Bambang memastikan pelayanan di RSUD Arjawinangun tetap berjalan normal tanpa gangguan. Ia mengklaim kualitas pelayanan terus membaik, dengan menunjuk skor penilaian Google Review yang telah mencapai 4,2 bintang.

Di sisi lain, Bambang juga menyoroti sistem rujukan pasien BPJS ke RSUD Arjawinangun yang dinilai belum stabil karena kerap dibuka-tutup.

"Saya tidak tahu siapa yang bermain di ruang ini, terkait sistem rujukan BPJS yang buka-tutup ke RSUD Arjawinangun," pungkasnya. 


Editor : Ahmad Sayuti