Wabah PMK Bikin Pengusaha Ternak Sapi di Kabupaten Bandung Gigit Jari

Para pengusaha peternak sapi potong banyak yang gigit jari pada saat hari raya Idul Adha tahun ini. Virus Penyakit Kuku dan Mulut (PMK), men

Wabah PMK Bikin Pengusaha Ternak Sapi di Kabupaten Bandung Gigit Jari
Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) masih terus menyerang hewan-hewan ternak di Kabupaten Garut. Kabupaten Garut pun kini dalam keadaan darurat PMK.
 
INILAHKORAN, Bandung--Para pengusaha peternak sapi potong banyak yang gigit jari pada saat hari raya Idul Adha tahun ini. Virus Penyakit Kuku dan Mulut (PMK), mengakibatkan kelangkaan pasokan sapi dari berbagai daerah penyuplai di Indonesia.
 
Hal tersebut dikatakan salah seorang pengusaha peternakan sapi di Kecamatan Banjaran Kabupaten Bandung, Onyas Ruganda. Menurutnya, akibat PMK suplay sapi untuk hari raya Idul Adha berkurang. Sedangkan sapi yang adapun harganya melonjak sekitar 15 persen dari tahun sebelumnya.
 
"Harga timbang hidup sekarang itu Rp 75 ribu hingga Rp 100 ribu perkilogram. Kalau tahun lalu, itu Rp 60 ribu hingga Rp 62 ribu perkilogram. Kenaikan ini terjadi akibat sapi berkurang ditambah minat masyarakat juga kurang karena ada ketakutan sama PMK. Nah sekarang trennya beralih ke domba atau kambing yah," kata Onyas kepada INILAHKORAN, Jumat 8 Juli 2022.
 
 
Dikatakan Onyas, banyak pengusaha ternak sapi seperti dirinya yang terkapar dihantam wabah PMK ini. Bahkan, ada salah seorang kawannya di Jawa mengalami gangguan jiwa gara-gara usaha ternak sapinya gulung tikar dihantam PMK. Kata dia, kematian sapi akibat PMK ini memang luar biasa, contohnya disuatu desa di Jawa jumlah sapi yang mati lebih dar8 1000 ekor.
 
"Kami para peternak tentu saja sangat terpukul. Banyak sapi yang sakit dan mati tidak terjual. Adapun sapi yang sakit dan dipotong, daginya cuma laku Rp 25 ribu perkilogram itu pun para pedagang banyak yang enggak mau, padahal biasanya Rp 122 ribu perkilogram," ujarnya.
 
Onyas melanjutkan, kurangnya suplay ini terjadi karena adanya larangan untuk mendatangkan sapi daei daerah lain. Biasanya, ia mendatangkan sapi dari Kupang Nusa Tenggara Timur, Bali dan Jawa. Namun, karena ada larangan dari pemerintah untuk mencegah penyebaran PMK, untuk tahun ini ia tak memiliki sapi untuk dijual sebagai hewan kurban.
 
 
"Selain sapi lokal dari daerah lain enggak bisa didatangkan. Sapi impor dari Australia juga berkurang, ini terjadi karena ada pengurangan jutaan populasi sapi akibat kebakaran hutan disana. Makanya, saat ini harga sapi lebih mahal dibanding sebelumnya karena langka," katanya.
 
Onyas menjelaskan, dampak jangka panjang akibat PMK yang ia khawatirkan adalah harga sapi akan semakin melonjak. Karena pasca wabah PMK populasi sapi banyak sekali berkurang. Kemudian harga impor dari luar negeri seperti Australia pun akan tinggi, sering berkurangnya juga populasi sapi di negara mereka.
 
"Bisa saja harga daging sapi mencapai Rp 200 ribu perkilogram. Karena sapinya sangat sulit. Orang juga ada ketakutan kalau mau ternak sapi lagi. Sedangkan impor juga sama susahnya. Selama ini kebutuhan sapi dalam negeri itu, 20 persen hingga 30 persennya impor, diantaranya yah dari Australia," ujarnya.
 
 
Setelah menanggung berbagai kerugian ini, lanjut Onyas para pengusaha ternak seperti dirinya berharap adanya perhatian dari pemerintah. Agar pelaku usaha ini kembali bangkit dan bergairah. Paling tidak ada subsidi perpanjangan waktu cicilan ke bank. Penurunan bunga bank.
 
"Peternak sapi itu modalnya kecil-kecilan. Misalkan dia modalnya Rp 200 juta-Rp 300 juta hasil pinjaman dari bank. Gara-gara hancur oleh PMK, itu sulit untuk mengembalikannya. Sedangkan usaha kan harus kembali berjalan, nah ini yang harus menjadi perhatian pemerintah agar para peternak ini kembali bergairah," katanya.(rd dani r nugraha).***


Editor : inilahkoran