Wajah MPLS, Dari Kelas Sepi hingga Ancaman Bom

HARI pertama sekolah tak selalu diwarnai tawa. Ada ruang kelas yang hanya menyambut satu murid, ada pula sekolah yang harus dikosongkan akibat ancaman bom.

Wajah MPLS, Dari Kelas Sepi hingga Ancaman Bom
SATU SISWA: Seorang guru mengajar satu siswa baru saat MPLS di SD Negeri Cepokosawit II, Boyolali, Jawa Tengah, Senin (13/7). Sekolah tersebut hanya menerima satu siswa baru pada Tahun Ajaran 2026/2027.

Oleh : dani r nugraha/yogo triastopo

Pagi itu, bel sekolah kembali berbunyi. Setelah hampir sebulan menikmati libur panjang, jutaan anak kembali mengenakan seragam dan melangkah memasuki gerbang sekolah. 

Ya, Senin (13/7) menjadi awal Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS), sebuah hari yang semestinya dipenuhi senyum, rasa penasaran, dan harapan baru. Namun, hari pertama sekolah tahun ini menghadirkan cerita yang berbeda-beda.

Di Boyolali, Jawa Tengah, sebuah ruang kelas terlihat lengang. Tak ada deretan bangku yang dipenuhi murid baru. Di SDN 2 Cepokosawit, Kecamatan Sawit, hanya satu anak yang duduk di kelas I.

Namanya Khansa.

Dengan mahkota kertas di kepala, dia tetap mengikuti seluruh rangkaian MPLS seperti siswa lainnya. Tak ada rasa canggung yang terlihat. Senyumnya tetap mengembang ketika guru mengajaknya mengenal lingkungan sekolah yang kini menjadi rumah keduanya.

Bagi Wali Kelas I, Andriyani Mudrikah, jumlah murid bukan alasan untuk mengurangi semangat mengajar. "Sebenarnya kami sudah berusaha semaksimal mungkin. Bahkan sudah dari pintu ke pintu mendatangi calon murid," katanya.

Upaya itu bukan sekadar formalitas. Bersama guru lain, Andriyani mendatangi rumah-rumah calon siswa. Bahkan ada satu keluarga yang didatanginya sampai tiga kali.

"Ada satu orang tua yang kami datangi tiga kali. Tapi karena anaknya ingin sekolah di sekolah lain bersama teman sebayanya, akhirnya tidak jadi masuk ke sini. Tapi berapapun muridnya saya harus tetap semangat. Kita layani sebaik-baiknya," ujarnya.

Ratusan kilometer dari Boyolali, suasana yang jauh berbeda terlihat di Kabupaten Bandung. Sejak matahari belum tinggi, gerbang SMPN 1 Soreang dipenuhi ratusan peserta didik baru. Mereka datang membawa tas baru, mengenakan seragam putih-merah, dan wajah yang dipenuhi rasa penasaran.

Sebagian saling berkenalan. Sebagian lain sibuk mencari teman lama semasa SD. Di antara mereka ada Putri Michele, yang mengaku mimpinya akhirnya terwujud.

"Senang banget bisa diterima di SMPN 1 Soreang. Hari pertama MPLS semangat sekali karena bisa kenalan sama teman-teman baru, sekaligus ketemu lagi sama teman-teman waktu SD," ujarnya.

Selain menjadi sekolah impian, jarak rumah yang hanya sekitar satu kilometer membuatnya bersyukur bisa berjalan kaki setiap hari.

"Alhamdulillah bersyukur bisa sekolah di sini karena dekat dari rumah. Jadi enggak merepotkan orang tua untuk ongkos," katanya.

Semangat yang sama juga terlihat di SMKN 1 Katapang. Sejak pukul 05.30 WIB, halaman sekolah mulai dipenuhi peserta didik baru. Salah satunya Rd. Bilal Al Chaedar Maolaini yang diterima di Program Keahlian Pengembangan Perangkat Lunak dan Gim (PPLG).

"Setelah libur sekolah sekitar satu bulan, senang sekali bisa sekolah lagi di tempat baru. Semoga bisa punya banyak teman dan semuanya berjalan lancar," katanya.

Namun, tidak semua sekolah memulai tahun ajaran dengan rasa tenang. Di SDN Srengseng Sawah 15 Pagi, Jagakarsa, Jakarta Selatan, upacara hari pertama MPLS mendadak berubah mencekam.

Saat siswa dan guru mengikuti upacara, sebuah pesan WhatsApp masuk ke telepon guru kelas I dan staf tata usaha. Isinya membuat seluruh suasana berubah.

"Selamat pagi dan salam sejahtera, diharap bersiap-siap. Dengan hitungan menit tempat sekolahan SDN 15 Pagi ini akan meledak dan kami sudah menyiapkan 11 titik."

Laporan segera diteruskan ke kepolisian.

"Kita dapati memang informasinya betul, bahwa ada WA yang masuk ke guru dan TU," kata Kapolsek Jagakarsa Kompol Nurma Dewi, seperti dikutip dari ANTARA.

Tak lama kemudian, siswa dievakuasi keluar sekolah. Tim Gegana Brimob, Unit K-9, hingga Densus 88 Antiteror menyisir setiap sudut sekolah.

"Untuk Gegana sendiri sudah menyisir sudah lebih kurang dua jam lebih untuk menyisir SD Negeri Srengseng Sawah 15," ujar Nurma.

Beberapa jam kemudian, polisi berhasil mengamankan seorang pria berinisial MY yang diduga mengirim ancaman tersebut.

Kepala Seksi Humas Polres Metro Jakarta Selatan AKP Joko Adi mengatakan pelaku terancam pidana penjara maksimal 20 tahun. "Jadi ancaman hukuman minimal lima tahun, maksimal 20 tahun," katanya.

Menurut Joko, penyidik juga akan mendalami motif pelaku melalui pendekatan ilmiah. "Kami melakukan analisa IT untuk mencari keberadaan terduga pelaku," ujarnya.

Selain itu, polisi juga akan melibatkan psikologi forensik untuk mengungkap motif secara menyeluruh sekaligus memberikan trauma healing kepada para siswa yang sempat mengalami kepanikan.

Di Kota Bandung, perhatian pemerintah justru tertuju pada ancaman yang tak kalah serius meski sering tak terlihat, yakni perundungan.

Wali Kota Bandung Muhammad Farhan mengatakan sekolah harus menjadi ruang yang aman sejak hari pertama.

"Untuk pengawasan bullying, tahun lalu kita sudah mulai melakukan pelatihan kepada para guru BK oleh para psikolog. Nanti kita evaluasi apakah efektif, karena kita ingin mencegah berkembangnya budaya kekerasan atau bully sejak awal," katanya.

Selain memperkuat peran guru BK, pendidikan karakter melalui bela negara juga kembali diberikan kepada siswa kelas IX dengan melibatkan TNI dan Polri.

"Kenapa? Karena anak-anak remaja ini sedang rentan-rentannya. Mereka mencari identitas, mencari kelompok tertentu. Kita pastikan mereka tidak tersesat," ujar Farhan. (gin)


Editor : Inilahkoran