26 Peserta Ohan Hafiz Tasikmalaya Tuntas 30 Juz, Pemkot Dorong Lanjut ke Jenjang PT
Pemkot Tasikmalaya mendorong para hafiz dan hafizah untuk melanjutkan jenjang pendidikannya ke perguruan tinggi
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID – Sebanyak 44 peserta Program One Kelurahan One hafiz (Ohan hafiz) Angkatan I Kota Tasikmalaya dijadwalkan mengikuti prosesi wisuda di Pelataran Masjid Agung Tasikmalaya, Jumat (4/9/2026).
Mereka telah menjalani program pembinaan selama 12 bulan. Dari jumlah tersebut, sebanyak 26 peserta tercatat telah menyelesaikan hafalan 30 juz Al-Qur'an. Sementara itu, enam peserta memiliki hafalan 20-29 juz dan 12 peserta lainnya mencapai hafalan 11-19 juz.
Ketua Tim Koordinasi Ohan hafiz, Ade Hendar, mengatakan capaian peserta secara kualitas cukup memuaskan. Namun, dari sisi jumlah, peserta angkatan pertama masih belum mencapai target yang ditetapkan.
"Secara keseluruhan kualitas peserta cukup memuaskan. Namun secara kuantitas belum sesuai harapan, karena baru mencapai sekitar 65 persen dari target tahap pertama," ujar Ade saat ditemui di ruang kerjanya, Selasa (1/9/2026).
Program tersebut menargetkan satu hafiz atau hafizah di setiap kelurahan. Dengan jumlah 69 kelurahan di Kota Tasikmalaya, target tahap pertama seharusnya mencapai 69 peserta.
Menurut Ade, capaian peserta dipengaruhi sejumlah tantangan di lapangan, salah satunya berkaitan dengan domisili. Program Ohan hafiz memprioritaskan anak-anak yang berdomisili di Kota Tasikmalaya.
"Di beberapa wilayah sebenarnya ada anak yang hafalannya sudah bagus. Namun domisilinya bukan Kota Tasikmalaya," ujarnya.
Selain itu, terdapat peserta potensial yang tengah menempuh pendidikan pesantren di luar daerah sehingga tidak dapat mengikuti program tersebut.
Program Ohan hafiz Angkatan I dilaksanakan melalui empat zona pembinaan. Zona I di Pondok Pesantren Nurul Hidayah II diikuti 14 peserta, Zona II di Pondok Pesantren Sulalatul Huda sebanyak 13 peserta, Zona III di Al Hasanah sebanyak 12 peserta, dan Zona IV di Tahfizul Qur'an Nurul Iman sebanyak lima peserta.
Dalam pelaksanaannya, para peserta didampingi 20 pembina. Sebanyak 12 pembina menangani bidang tahfiz, sedangkan delapan lainnya bertugas di bidang tahsin.
Ade mengatakan hasil evaluasi angkatan pertama akan menjadi bahan perbaikan untuk pelaksanaan program berikutnya. Sebab, Ohan hafiz tidak hanya diarahkan untuk meningkatkan jumlah penghafal Al-Qur'an, tetapi juga memastikan para peserta memiliki masa depan pendidikan yang berkelanjutan.
Sejumlah peserta bahkan telah memperoleh kesempatan melanjutkan pendidikan melalui jalur prestasi. Satu peserta diterima di SMAN 1 Tasikmalaya melalui program Ohan hafiz, satu peserta lainnya diterima di SMAN 5 Tasikmalaya, dan dua peserta diterima di SMAN 2 Tasikmalaya.
Upaya memperluas kesempatan pendidikan juga mulai diarahkan hingga jenjang perguruan tinggi. Tim Koordinasi Ohan hafiz telah menjalin komunikasi dengan 19 perguruan tinggi di Tasikmalaya. Selain itu, pembahasan mengenai peluang beasiswa telah dilakukan bersama empat perbankan.
"Kami ingin program ini tidak berhenti pada capaian hafalan saja. Para peserta juga harus memiliki kesempatan untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, sehingga manfaat program bisa dirasakan dalam jangka panjang," kata Ade.
Sekretaris Daerah Kota Tasikmalaya, H. Asep Goparullah, mengatakan Program One Kelurahan One hafiz merupakan salah satu ikhtiar pemerintah daerah dalam memperkuat karakter religius masyarakat sekaligus menyiapkan generasi penghafal Al-Qur'an yang tersebar di seluruh wilayah Kota Tasikmalaya.
Menurutnya, program tersebut dirancang melalui proses pembinaan terstruktur selama 12 bulan dengan dukungan beasiswa dan akomodasi bagi peserta hingga mereka mengikuti wisuda.
Namun, Asep menegaskan wisuda bukanlah garis akhir bagi para peserta Ohan hafiz.
"Wisuda tidak boleh dipandang sebagai garis akhir. Justru setelah wisuda, muncul pertanyaan yang lebih besar: setelah anak-anak kita menjadi hafiz dan hafizah, ke mana mereka akan melangkah?" kata Asep.
Menurut dia, pemerintah perlu memastikan hafalan Al-Qur'an yang telah diperjuangkan para peserta selama berbulan-bulan dapat menjadi salah satu modal untuk melanjutkan pendidikan.
"Apakah hafalan Al-Qur'an yang telah mereka perjuangkan selama berbulan-bulan dapat menjadi salah satu modal untuk melanjutkan pendidikan? Apakah mereka memperoleh ruang untuk berkembang di perguruan tinggi? Apakah mereka tetap mendapatkan lingkungan yang mendukung agar hafalannya terjaga?" ujarnya.
menurut Asep, komunikasi dengan perguruan tinggi menjadi bagian penting dalam memastikan keberlanjutan Program Ohan hafiz.
"Inilah mengapa kami memandang pertemuan dengan perguruan tinggi pada hari ini menjadi sangat strategis. Pemerintah Kota Tasikmalaya berharap dapat mulai membangun jembatan dari program tahfiz menuju pendidikan tinggi," tuturnya.
Asep berharap ke depan dapat dibahas berbagai bentuk dukungan dari perguruan tinggi, mulai dari jalur prestasi bagi penghafal Al-Qur'an, afirmasi atau bentuk penghargaan tertentu dalam proses penerimaan mahasiswa, dukungan beasiswa, hingga program pembinaan lanjutan bagi mahasiswa hafiz dan hafizah.
"Kami berharap ke depan dapat dibicarakan kemungkinan adanya jalur prestasi bagi penghafal Al-Qur'an, afirmasi atau bentuk penghargaan tertentu dalam proses penerimaan mahasiswa, dukungan beasiswa, maupun program pembinaan lanjutan bagi mahasiswa hafiz dan hafizah, sesuai kebijakan dan kemampuan masing-masing perguruan tinggi," pungkasnya.
Editor : Ahmad Sayuti

