Akses Jalan Menuju Objek Wisata Banyak yang Rusak, Disparbud KBB Layangkan Usulkan Ini ke Dinas Terkait
Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kabupaten Bandung Barat (KBB) tak menampik jika akses jalan menuju objek wisata di wilayahnya masih banyak yang rusak.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN, Ngamprah - Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kabupaten Bandung Barat (KBB) tak menampik jika akses jalan menuju objek wisata di wilayahnya masih banyak yang rusak.
Menanggapi persoalan banyaknya akses jalan menuju objek wisata yang rusak tersebut, Disparbud KBB telah melayangkan sejumlah usulan ke dinas terkait agar aksesibilitas ke tempat wisata bisa segera mendapatkan penanganan.
"Terkait akses jalan menuju objek wisata di KBB, kami sudah menyampaikan usulan terkait jalan yang perlu adanya perbaikan, salah satunya di wilayah Lembang yang banyak rusak," kata Kepala Bidang Pariwisata Disparbud KBB David Oot saat dikonfirmasi, Minggu 25 Juni 2023.
David menyebutkan salah satu usulan perbaikan itu seperti jalan alternatif utama dari Kota Bandung menuju Lembang melalui kawasan Dago Giri. Di sana masih ada sejumlah titik jalan yang rusak.
"Di sepanjang Jalan Dago Giri ada sejumlah objek wisata alam, wisata petualangan, wisata edukasi, dan wisata kuliner dengan keberadaan tempat makan resto ataupun kafe," sebutnya.
David menuturkan, berdasarkan inventarisasi prasarana jalan di objek dan daya tarik wisata di Bandung Barat ada beberapa usulan penataan. Seperti di kawasan Agro Wisata Cihideung, Kecamatan Parongpong, jalan kabupaten sepanjang 8 km di kawasan tersebut kondisinya rusak berat dan butuh perbaikan.
"Selanjutnya di Ciwangun Indah Camp, Kecamatan Parongpong, ada jalan desa sepanjang 2 km yang kondisinya rusak berat," tuturnya.
Kemudian, sambung David, di sekitar kawasan Pramesta yang merupakan akses alternatif dari Kota Bandung menuju Lembang melalui Dago Giri, jalan desa sepanjang 2 km kondisinya juga rusak berat.
"Termasuk di kawasan wisata Cirata Buangan, Desa Ciroyom, Kecamatan Cipeundeuy, kondisinya sama ada jalan sepanjang kurang lebih 2 km yang rusak berat dan butuh penanganan," bebernya.
"Bicara sektor pariwisata ini kan tidak lepas dari aksesibilitas, aminitas, dan atraksi," sambungnya.
David menjelaskan, aksesibilitas adalah infratruktur jalan yang harus menunjang. "Makanya kami berkomunikasi dengan Dinas PUTR karena itu menjadi kewenangan mereka," imbuhnya.
Lebih lanjut David menuturkan, branding image kepariwisataan yang menekankan pada aspek keselamatan dan kesehatan wisatawan juga harus diperkuat.
"Artinya, wisatawan harus terjamin keselamatannya, lalu penekanan kesehatan dan keselamatan dalam berwisata melalui program Cleanliness, Health, Safety dan Environment Sustainability (CHSE)," tuturnya.
Kemudian, lanjut David menerangkan, memperhatikan daya dukung dari masing-masing destinasi wisata, serta antisipasi dan pemahan mitigasi bencana dan perilaku wisatawan yang harus tetap memperhatikan aspek keamanan.
Dengan begitu, bisa menciptakan iklim pariwisata yang aman dan nyaman baik bagi pelaku usaha, pekerja wisata, dan juga wisatawan.
"Pandemi Covid-19 telah memberikan pembelajaran berharga bagi sektor pariwisata untuk senantiasa adaptif terhadap perubahan," terangnya.
"Termasuk terhadap bencana yang mengintai, baik dalam bentuk sosial, non alam, maupun bencana alam," pungkasnya.
Seperti diberitakan sebelumnya, Jalan Dago Giri di Desa Pageurwangi, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat (KBB) menjadi salah satu jalur alternatif yang berpotensi mendongkrak kunjungan wisatawan di kawasan wisata Lembang.
Pasalnya, Jalan Dago Giri merupakan akses alternatif utama yang kerap dimanfaatkan para wisatawan dari arah Kota Bandung ke berbagai objek wisata di Lembang.
Bahkan, ketika terjadi kepadatan pengunjung di kawasan Lembang, Jalan Dago Giri menjadi pilihan terbaik untuk kembali ke pusat kota.
Kendati demikian, kondisi jalan yang cukup sempit dan rusak dikhawatirkan masyarakat dan pengelola objek wisata lantaran mengancam keselamatan para pengunjung dan pengguna jalan yang melintas.*** (agus satia negara)
Editor : Doni Ramdhani

