Alasan Dedi Mulyadi Kirim Anak Nakal ke Barak Militer, Banyak yang Mengidap Sifilis hingga HIV

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi memastikan program pendidikan karakter di barak militer hingga kini masih berjalan.

Alasan Dedi Mulyadi Kirim Anak Nakal ke Barak Militer, Banyak yang Mengidap Sifilis hingga HIV
Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi memastikan program pendidikan karakter di barak militer hingga kini masih berjalan.

INILAHKORAN, Bandung - Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi memastikan program pendidikan karakter di barak militer hingga kini masih berjalan.

Dedi Mulyadi menuturkan kebijakan barak militer terpaksa dilakukannya karena tidak ada pilihan lain dalam mengatasi krisis moral di lingkungan anak.

Tidak hanya soal tawuran, dimana anak sekolah saling bunuh. Tetapi juga banyak masalah lain yang lebih kompleks, terjadi di Jabar.

Pergaulan bebas, sampai akhirnya ungkap Dedi, ada temuan yang didapatinya bahwa ada anak yang mengidap sifilis sampai HIV.

"Tidak ada pilihan, karena kenakalannya sudah (saling) dibunuh. Penyakitnya anak-anak itu, sifilis, HIV. Tidak ada pilihan bagi saya, kecuali merubah dengan cepat," ujar Dedi dikutip Senin 25 Agustus 2025.

Usai mengikuti pendidikan karakter Panca Waluya di barak militer ini pun diakuinya, masalah yang dialami anak belum usai. Ketika mereka telah siap kembali ke lingkungan usai mengikui pendidikan, anak kembali dihadapkan dengan tantangan.

"Setelah mereka pulih dan kemudian mereka menjadi anak yang siap hidup dengan baik di lingkungan, ada anak yang depresi tidak mau pulang ke rumah karena berhadapan dengan orangtua yang tidak nyaman, bertengkar setiap hari," ungkapnya.

Sampai akhirnya Pemprov Jabar kembali mengambil sikap, dengan mengajak mereka tinggal di Rumah Dinas Gubernur Jabar, Gedung Negara Pakuan. Dimana ini kemudian ditindaklanjuti dengan membuat unit layanan.

"Anda kembali tempat di sini, bersekolah saja di Bandung, tidak usah pulang ke rumah. Sampai ada yang ngancam bunuh diri saya, kalau pulang ke rumah, saya mau bunuh diri," ungkapnya.

Menyikapi beragam dinamika yang terjadi di tengah masyarakat ini, dimana salah satunya berdampak pada anak, dirinya berharap pemerintah lebih peka. Memaksimalkan sosial media, untuk menggali informasi mengenai masalah yang tengah dihadapi masyarakat.

"Dan itu hanya bisa dijalani dengan apa? Dengan kita rajin, bermedia sosial, baca itu tiap hari. Apa isi komen, apa yang terjadi, peristiwa apa yang terjadi, sehingga saya lebih dulu cepat tahu dibanding dengan kepala daerah," ujarnya.***


Editor : Bsafaat