Bandara Pulih Investasi Bergairah

Bandara Pulih Investasi Bergairah
IKLIM INVESTASI: Reaktivasi Bandara Husein Sastranegara dinilai menjadi salah satu pengungkit iklim investasi di Kota Bandung.

Oleh: Yogo Triastopo

INILAH, Bandung - Bandung kembali membuka pintu ke dunia lewat Bandara Husein Sastranegara. Bagi Pemerintah Kota Bandung, pesawat yang kembali datang dan pergi bukan hanya membawa penumpang, tetapi juga peluang baru bagi investasi.

Reaktivasi bandara dinilai dapat menjadi salah satu pengungkit iklim investasi di kota ini. Pemkot Bandung bahkan menaikkan ambisinya: target investasi 2026 yang semula Rp11 triliun didorong menjadi Rp12 triliun.

Kepala DPMPTSP Kota Bandung Eric Mohamad Atthauriq melihat konektivitas sebagai bagian penting dari daya tarik sebuah kota bagi investor.

“Dibukanya kembali Bandara Husein Sastranegara, menjadi pendorong utama iklim investasi,” kata Eric Muhamad Atthauriq, akhir pekan lalu.

Bandara yang kembali melayani penerbangan internasional memberi Bandung hubungan yang lebih dekat dengan kota-kota di luar negeri. Jarak yang sebelumnya terasa panjang dapat ditempuh lebih singkat, dan dari sana aktivitas ekonomi diharapkan ikut bergerak.

Salah satu yang dibidik adalah penanaman modal asing (PMA). Saat ini, porsi PMA dalam investasi Kota Bandung masih sekitar 15 persen.

“Dibukanya penerbangan internasional diharapkan meningkatkan porsi penanaman modal asing, yang saat ini berada di angka 15 persen,” ujar Eric.

Bagi pemerintah kota, konektivitas bukan hanya soal seberapa banyak pesawat mendarat. Ada aktivitas ekonomi yang diharapkan tumbuh setelah penumpang turun dari pesawat.

Kuliner, jasa, dan perdagangan menjadi sejumlah sektor yang dinilai memiliki peluang untuk ikut bergerak. Semakin banyak orang datang, semakin besar pula kemungkinan transaksi, pertemuan bisnis, kerja sama, hingga penanaman modal baru terjadi di Bandung.

“Dari target investasi sebesar Rp11 triliun, pak wali kota mendorong agar bisa mencapai Rp12 triliun,” ujar Eric.

Target tersebut memang tidak kecil. Ada tambahan Rp1 triliun yang harus dikejar dalam iklim ekonomi yang terus berubah.

(gin)


Editor : Inilahkoran