Bandung dalam Rasa yang tak Pernah Redup

Geliat kuliner dan UMKM tumbuh berdampingan, membentuk denyut ekonomi yang berawal dari keseharian warga dan terus bergerak di tengah perubahan zaman.

Bandung dalam Rasa yang tak Pernah Redup
Direktur RM Tjap Ajam, R Ati Kurniati, menyebut lokasi di Jalan Naripan menjadi salah satu faktor penting perkembangan usaha. Meski baru berjalan dua tahun, restoran ini telah menjadi salah satu titik singgah wisata kuliner di pusat kota. (adam husein)

INILAHKORAN.ID - Geliat kuliner dan UMKM tumbuh berdampingan, membentuk denyut ekonomi yang berawal dari keseharian warga dan terus bergerak di tengah perubahan zaman.

Dari aroma makanan yang menggoda hingga denyut usaha kecil, Bandung memperlihatkan wajah ekonomi yang tumbuh dari hal-hal yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. 

Di kota ini, kuliner dan UMKM tidak berjalan sendiri-sendiri, melainkan saling bertaut dalam satu ekosistem yang menghidupi banyak lapisan masyarakat.

Nama Bandung sebagai kota kuliner dunia semakin menguat setelah masuk dalam daftar 100 kota kuliner terbaik versi TasteAtlas, dengan peringkat ke-34. 

Pengakuan itu bukan sekadar soal cita rasa, melainkan juga cermin dari panjangnya rantai ekonomi yang menopang industri kuliner di kota ini, dari dapur produksi hingga meja makan wisatawan.

Ketua Jaringan Pengusaha Nasional (Japnas), Iwan Gunawan, menyebut daya tarik Bandung masih bertumpu kuat pada keberagaman kuliner dan suasana kota yang khas. 

Kombinasi antara makanan, kreativitas, dan udara pegunungan membuat kota ini sulit dilepaskan dari daftar destinasi wisata favorit.

“Sampai sekarang, pertimbangan para wisatawan datang ke Bandung itu memang masih kuliner. Banyak makanan dan minuman enak yang kadang membuat penasaran mereka untuk datang menghampiri,” ujarnya.

Di balik itu, Bandung telah membentuk ekosistem kuliner yang relatif matang. Rantai usaha berjalan dari hulu ke hilir, mulai dari dapur produksi, distribusi bahan, hingga rumah makan yang tersebar di berbagai sudut kota.

“Bahkan, di Bandung ini juga ada dapur khusus yang kerjaannya memang menyuplai kebutuhan rumah makan,” tambahnya.

Kekuatan itu terlihat dari keberadaan hidangan-hidangan ikonik seperti batagor, cireng, mi kocok, hingga serabi yang terus diburu wisatawan. Restoran legendaris hingga pelaku usaha baru ikut memperkuat identitas Bandung sebagai kota tujuan wisata rasa.

Salah satu yang ikut meramaikan lanskap kuliner tersebut adalah RM Tjap Ajam. Rumah makan ini hadir dengan menu andalan ayam kampung goreng, yang dipadukan dengan bumbu khas dan pelengkap tradisional.

Direktur RM Tjap Ajam, R Ati Kurniati, menyebut lokasi di Jalan Naripan menjadi salah satu faktor penting perkembangan usaha. Meski baru berjalan dua tahun, restoran ini telah menjadi salah satu titik singgah wisata kuliner di pusat kota.

“Dua tahun berjalan ini, kita sudah termasuk dalam top 5 restoran yang wajib dikunjungi wisatawan. Bahkan, tak sedikit para agen tour & travel mengarahkan wisatawan untuk makan di sini,” katanya.

Dengan kapasitas hingga 160 pengunjung dan lokasi yang strategis, restoran ini tumbuh seiring tingginya mobilitas warga dan wisatawan. 

Jam makan siang menjadi puncak keramaian yang memperlihatkan bagaimana kuliner bukan hanya soal rasa, tetapi juga perputaran ekonomi yang nyata.

Di sisi lain, denyut ekonomi Bandung juga ditopang oleh sektor UMKM yang terus bergerak di balik layar. Bank bjb menjadi salah satu institusi yang mendorong pertumbuhan tersebut melalui pembiayaan dan pendampingan.

Menurut Sentra UMKM Wilayah bank bjb Eka Yudistira, UMKM memiliki peran penting dalam menjaga stabilitas ekonomi, terutama saat krisis melanda.

“Tujuan kami sederhana. Ketika usaha mereka tumbuh, otomatis ekonomi daerah dan negara pun ikut bergerak,” ujarnya.

Melalui skema Kredit Usaha Rakyat (KUR) dan program pendampingan, Bank BJB tidak hanya menyalurkan modal, tetapi juga membangun kapasitas pelaku usaha agar naik kelas. Pendekatan ini diperkuat melalui pelatihan, coaching, hingga pengembangan strategi usaha.

“Kami ingin mereka paham bagaimana mengelola bisnisnya, bukan sekadar meminjam uang,” kata Eka.

Pendampingan tersebut bahkan telah membawa sebagian pelaku UMKM menembus pasar luar negeri, menunjukkan usaha kecil pun memiliki peluang besar jika dikelola dengan tepat.

Cerita kuliner dan UMKM di Bandung pada akhirnya memperlihatkan satu hal yang sama: ekonomi tidak selalu lahir dari skala besar, tetapi dari konsistensi, kreativitas, dan kedekatan dengan kehidupan sehari-hari masyarakat.

Di Kota Bandung aroma makanan dan denyut usaha kecil berjalan berdampingan, membentuk wajah ekonomi yang terus hidup. Dari dapur, meja makan, hingga ruang-ruang usaha yang tak pernah benar-benar berhenti bergerak.


Editor : Doni Ramdhani