Waduh, Usia PLTA Waduk Saguling Tinggal 18 Tahun Lagi
Terjadinya percepatan sedimentasi di DAS Citarum menyebabkan usia PLTSA Waduk Saguling di Kabupaten Bandung Barat usianya tinggal 18 tahun.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN, Ngamprah - Usia Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Waduk Saguling di Kabupaten Bandung Barat (KBB) terus berkurang lantaran terjadinya percepatan sedimentasi di daerah aliran sungai (DAS) Citarum.
Pasalnya, usia PLTA Waduk Saguling yang seharusnya bertahan hingga 20 tahun lagi, kini tinggal 18 tahun.
General Manager PT Indonesia Power Saguling POMU, Rudiansyah mengatakan, dari hasil studi batimetri atau pengukuran kedalam air di Waduk Saguling yang dilakukan PT Indonesia Power menemukan terjadinya percepata sedimentasi sejak beberapa tahun terakhir.
Baca Juga: Tekan Ikan Mati di Waduk Saguling, Dispernakan KBB Intruksikan Hal Ini ke KJA
"Berdasarkan hasil studi batimetri atau pemetaan bawah air untuk mengukur kedalaman, ada percepatan sedimentasi yang menyebabkan usia Waduk Saguling untuk pemakaian PLTA tinggal 18 tahun lagi," katanya belum lama ini.
Ia menyebut, percepatan sedimentasi tersebut berupa endapan lumpur dan tanah ini disebabkan beberapa faktor, antara lain sistem pertanian dengan metode terasering vertikal, masih maraknya kolom jaring apung (KJA), dan terowongan air Curug Jompong.
Dari ketiga faktor ini, lanjut dia, KJA menjadi penyumbang sedimentasi paling rendah dengan presentasi tak lebih dari 1 persen.
Baca Juga: Kelompok KJA Waduk Saguling Meradang, Puluhan Ton Ikannya Mati Mendadak
"Sumbangan paling besar justru berasal dari terasering vertikal dan terowongan air Curug Jompong. Namun, kita masih menemukan banyak petani di kawasan hulu waduk Saguling memakai terasering vertikal karena kalau pakai horizontal menyebabkan air tertahan dan tanaman membusuk," sebutnya..
Ia menerangkan, sistem pertanian dengan metode terasering vertikal ini sangat berdampak besar tergerusnya lapisan tanah saat hujan deras datang.
Sama halnya dengan Curug Jompong, di satu sisi langkah ini berhasil menjadi solusi banjir di kawasan Kabupaten Bandung, sisi lainnya justru mempercepat sedimentasi.
Baca Juga: Hewan Purba Pernah Hidup di Waduk Saguling, Tim ITB Beberkan Fakta-fakta Ini...
"Kelokan sungai Citarum dipangkas melalui terowongan Curug Jompong. Memang air cepat surut, tapi endapan yang dibawa arus air ikut terseret ke hulu dan menumpuk di waduk," terangnya.
Menurutnya, kendati KJA jadi faktor terendah penyumbang sedimentasi. Rudiansyah menjelaskan pakan ikan menjadi penyumbang limbah air waduk Saguling.
"Hingga saat ini waduk Saguling tercemar limbah golongan 4, memiliki kadar fosfor sangat tinggi sehingga mudah merusak peralatan PLTA. Utamanya menyebabkan karatan pada turbin," tandasnya. *** (agus satia negara)
Editor : inilahkoran


